Subin, Jungmin dan Jongyeol menikmati senja musim panas hari itu di
sebuah lapangan basket dekat kampus. Mereka bertiga duduk manis di
tepian lapangan sambil menggenggam sebotol yoghurt yang baru saja mereka
beli di sebuah mini market saat perjalanan. Benar-benar seperti anak
kecil.
"Bagaimana dengan naskahmu ? sudah terpikir akan membuat apa ?" tanya
Jongyeol membuka perbincangan sore itu sambil terus menerawang ke
tengah lapangan. Seorang mahasiswa berperawakan tinggi besar berlari
gesit sambil mendribble bola basket dengan tangan kanannya dan beberapa
lainnya berlari di sekelilingnya. Bukan pertandingan besar, hanya
permainan biasa untuk mengusir rasa jenuh dan stress mahasiswa setelah
belajar di kampus.
Subin hanya menggeleng kepalanya lemah.
"Sama sekali belum ada inspirasi?" Jungmin berhenti menyedot yoghurt kesukaannya dan terperangah tak percaya.
"Hampir, kalau bukan karena pria menyebalkan itu, pasti aku sudah
mendapatkan ide ceritanya." umpat Subin lalu kembali menikmati yoghurt
miliknya.
"Siapa ?" Jongyeol menoleh dan menatap curiga pada Subin. "sejak
kapan kau dekat dengan pria selain kami?" cecar Jongyeol penasaran.
"Bukan seperti itu ! Dia hanya pria menyebalkan yang tidak mau meminjamkan buku berharga itu padaku."
"Waaah, sepertinya pria itu sudah salah berurusan denganmu." sambung Jungmin sambil terkekeh.
Salah seorang pemain basket berjalan keluar dari permainan. Keringat
membanjiri seluruh tubuhnya dan membuatnya terlihat ‘agak’ seksi.
“Apa-apaan ini?” gerutu Subin sambil menatap ngeri ke arah beberapa
gadis labil yang bertingkah histeris saking terpesonanya melihat pria
itu. Pandangan Subin lalu beralih mengikuti pria itu yang berjalan
menepi dan meraih sebuah botol air mineral yang sedari tadi tegap
berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Pria itu tampak tidak asing.
Sepertinya, orang yang baru saja menjadi objek pembicaraan mereka sedang
berdiri membelakangi sambil meneguk habis isi botolnya. Hawa sekitar
entah kenapa menjadi sangat panas, membuat mood Subin semakin
buruk. Tangannya meremas kuat botol yoghurt kosong, sambil terus
memandang sebal ke arah orang yang sudah membawa awan mendung ke
sekelilingnya, pria berperawakan sedang yang masih berdiri membelakangi
dirinya. Jongyeol dan Jungmin berkali-kali bertukar pandang mencoba
menemukan jawaban atas fenomena aneh itu. “Pasti ada yang tidak beres”
batin mereka. Di atas kepala mereka tergambar jelas tanda tanya besar.
Belum lama mereka memproses semua pertanyaan-pertanyaan itu di otak,
mereka dikejutkan oleh meluncurnya sebuah benda ke udara melewati mata
mereka.
Taaak !!!
Botol yoghurt yang sudah tidak berbentuk, sukses mendarat keras di
kepala pria itu. “Ahh!” jerit pria itu spontan sambil memegangi tempat
jatuhnya botol itu, di kepala belakangnya. Subin spontan meringis sambil menutup matanya. “itu pasti sakit.” Ejeknya dalam hati.
Pria itu membalikkan badan dan mulai mencari siapa kriminal yang
telah berani melemparnya dengan botol yoghurt, sambil terus
mengusap-usap kepalanya yang agak pening. Subin langsung menunduk dan mencoba menutupi wajah dengan tangan kanannya. Pria itu tidak boleh mengenali dirinya.
Hanya ada enam orang yang duduk di belakangnya, lokasi yang dicurigai
sebagai asal lompatan botol itu. Tiga wanita yang duduk berjejer dan
tiga lainnya jelas Subin, Jongyeol dan Jungmin. Tiga wanita itu langsung menggelengkan kepalanya bersamaan saat pria itu memasang tatapan selidik ke arah mereka. Tidak yakin mereka pelakunya, pria itu lalu membuang pandangannya ke
arah Subin dan dua sahabatnya. Tersangka selanjutnya. Tapi entah kenapa
dia hanya melenggang pergi setelah menatap mereka bertiga layaknya
seorang kriminal.
"Ya, Subin-a ! Apa yang barusan saja kau lakukan ?" tanya Jungmin panik.
"Hanya tidak tertahankan." jawab Subin ragu seraya menyingkirkan
tangannya dari wajah, dan kembali memberanikan diri mengangkat
kepalanya.
"Apa-apan kau ini ! Kau tau siapa dia ?" sungut Jonyeol sambil membenarkan letak topinya.
"Dia pria menyebalkan yang aku ceritakan tadi."
"Dia ? Waah, kali ini sepertinya kamu yang akan dapat masalah jika
berurusan dengannya." Jungmin memutar ucapannya membela pria itu.
"Memangnya kenapa ? Apa dia sebegitu menakutkannya?" sungut Subin yang merasa dirinya telah dipojokkan, tidak mau kalah.
"Tidak semenakutkan itu, hanya saja dia itu senior kami, Aku dan
Jungmin. Namanya Lee Joowon. Kami sering bertemu dengannya di ruang
musik. Dia cukup terkenal di kampus, apa kau tidak mengenalnya?" tanya
Jongyeol sambil mengerutkan keningnya.
Sekali lagi, Subin hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Dia
memang tidak pernah pria itu sebelumnya di kampus. Jongyeol dan Jungmin
juga sepertinya tidak pernah menyinggung soal pria itu saat bersamanya.
Apa benar pria itu memang populer ? Subin lalu menggaruk kepalanya yang
sebenarnya tidak terasa gatal.
"Mungkin kau tidak akan mendapat masalah darinya, tapi dari fansnya
yang ababil seperti itu." Jungmin mengedikkan dagunya ke arah kumpulan
gadis ababil, yang tadi sempat ditatap ngeri oleh Subin. Sekarang
gadis-gadis ababil itu balik memandang ngeri ke arah Subin sambil
berbisik. Subin yakin mereka sedang berbisik mengolok-oloknya.
"Apa yang aku lakukan ??" kutuknya dalam hati sambil menelan ludah pelan.
~~~
Hari berikutnya, Subin melangkah gontai menyusuri sebuah koridor
panjang Student Center sambil menggendong beban berat dipunggungnya.
“Bagaimana bisa Jongyeol lupa membawa gitar kesayangannya ini? Kalau
tidak pasti aku tidak usah repot-repot menaiki puluhan anak tangga itu.”
gerutu Subin dalam hati.
Dia sekarang harus mengantar gitar itu ke ruang musik di ujung
koridor. Menaiki tangga, berjalan menyusuri koridor panjang, ditambah
beban gitar di punggungnya sukses membuat tubuhnya lemas, sepotong roti
yang dimakannya tadi pagi tidak bisa memberinya tenaga lebih. Rasa sakit
juga menjalar ke seluruh kakinya yang mulai gemetaran. Beberapa kali
dia hentikan langkahnya dan membungkuk sambil memegangi lutut.
"Ya! Jongyeol-a, mati kau jika aku bertemu denganmu nanti !" ancam Subin dengan nada lirih.
Tanpa disadari, dia telah berjalan sampai di ujung koridor. Sebuah
ruangan dengan papan bertuliskan ruang musik sudah muncul di depannya.
“Akhirnya…” ujarnya lega. Senyumnya mulai mengembang puas. Rasa sakitnya
lenyap begitu saja dan tenaganya seakan terisi kembali.
Pintu ruang musik saat itu terbuka tapi tidak terdengar apapun dari
dalam. Subin memutuskan untuk mengintip ke dalam dan memastikan kalau
ruang itu benar-benar tidak berpenghuni. Matanya menerawang jauh ke
dalam ruangan dari luar, mencari tanda-tanda kehidupan, tapi dia tidak
menemukan seorang pun di sana. Tebakan awalnya benar, ruang itu kosong.
Dengan ragu dia mulai melangkah memasuki ruang musik yang sebenarnya
pernah beberapa kali dia kunjungi. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya
berbeda dari sebelumnya. Ruangan itu jadi terasa mistis, tapi mungkin
itu hanya karena perasaan dia saja yang sedang kalut belakangan ini.
Subin menurunkan gitar dari punggungnya dan meletakkannya di atas
sebuah meja dekat pintu. Bukan kali pertama dia memasuki ruang ini, tapi
belum pernah sekali pun dia punya kesempatan menjelajah ke setiap sudut
ruangan. Mungkin ini kesempatan bagus untuk melakukannya, mumpung tidak
ada orang lain.
"Waah.." kagum Subin sambil menyentuh badan piano yang letaknya di
sudut ruangan. Baru pertama kali dia melihat benda itu secara nyata
bahkan sampai menyentuhnya, yang sebelumnya hanya bisa dilihatnya dari
Televisi atau konser. Dia terus berjalan mengitari benda besar itu,
sambil membayangkan jari-jari Jungmin memainkan tuts piano dengan lihai.
Jungmin tempo hari bercerita dirinya yang memainkan piano. Subin sangat
ingin melihat Jungmin bermain di depannya.
"Apa yang sedang kau lakukan ?" Sebuah suara berat terdengar memecah keheningan ruang musik.
Subin yang tidak menyadari seseorang berdiri di belakang mengamatinya
curiga, sukses dibuat terkejut. Tangannya spontan memegangi dada, takut
jantungnya melompat keluar. Kemudian mulai mengatur napasnya yang
terengah-engah.
"Aaaa, Kagee.." amuk Subin sambil berbalik. Ucapannya terhenti
setelah mendapati Lee Joowon, pria yang membuatnya kesal belakangan ini,
berdiri sambil menatapnya tajam. Subin sekarang tahu kenapa dia
merasakan aura mistis di ruangan ini. Dia melupakan keberadaan makhluk
itu di sini.
"Aaa, ternyata kau." kilah Subin sambil menggaruk tengkuknya,
kikuk. "sejak kapan kau berdiri di situ ?" lanjut Subin, mencoba sok
akrab.
"Oh, kau…" Joowon mengangguk-anggukan kepalanya pelan sambil mencoba mengingat-ingat.
"kau mengenalku ? waah aku tidak tahu aku sepopuler itu." jawab Subin asal.
Kenapa pria ini bisa disini ? Datang darimana dia ? apa dia hantu yang bisa datang tiba-tiba ?
"Enak yoghurtnya ?" tanya Joowon menyeringai.
Aura mistis membalut rapat ruang musik. Sial, kenapa pria itu
membahas kejadian itu. Padahal Subin sudah ingin melupakannya dan
menganggapnya tidak pernah terjadi.
"Apa?" Subin mengernyit berpura-pura tidak mengerti apa yang sedang
dikatakan oleh Joowon. Subin yakin aktingnya kali ini sungguh luar
biasa, bahkan tidak kalah dari artis-artis Hollywood. Walaupun
dia hanya pernah belajar sedikit dari mahasiswa sub-study akting, dan yang
dipelajarinya hanya teknik pernapasan yang baik. Lumayan dia bisa
mengontrol napasnya, padahal dia merasakan keringat dingin menggenang di
telapak tangannya.
"sepertinya enak, tapi kau membuangnya ke tempat yang salah."
Joowon melangkah perlahan mendekati Subin dan menggiringnya mundur
sampai terhenti terhalang tembok keras. Subin terus melanjutkan kegiatan
aktingnya tanpa menghiraukan keberadaan makhluk di depannya yang
berusaha memaksanya mengalah. Tapi aktingnya harus terhenti setelah
Joowon tiba-tiba mendekatkan wajah ke arahnya sambil menyandarkan keuda
tangan pada tembok, dia benar-benar terjebak sekarang. Konsentrasinya
buyar, bagaimana tidak ? jarak wajah mereka tidak ada sejengkal. Dia
bisa melihat jelas pahatan indah yang membentuk mata, hidung, dan bibir
pada wajah pria itu. Makhluk itu benar-benar menakjubkan. Subin sekarang
bisa mendengar detak jantungnya beradu cepat melebihi batas normal.
“Kau ini bicara apa sih ?” kilah Subin mati-matian membuang jauh rasa
gugupnya. Mata Subin menerawang jauh menghindari tatapan mata tajam
bagai pisau tepat di depannya sebelum dia mendengar suara dehem keras
yang langsung mengembalikan konsentrasinya pada Joowon. “Apa kau sedang
menuduhku sekarang ?” Subin memberanikan diri bersuara walaupun kali ini
suaranya terdengar sedikit lemah.
"Hanya enam orang yang duduk tepat di belakangku. Tiga orang wanita
itu, jelas bukan mereka pelakunya. Tinggal kalian bertiga, tapi di
antara kalian bertiga hanya kau yang tidak memegang botol yoghurt. Dan
reaksimu saat itu, kau tidak sadar kau telah mengakui perbuatanmu
sendiri." cecar Joowon panjang sambil terus mendekatkan wajahnya.
Kedua pipi Subin terasa semakin panas. Terus mengelak tidak akan
membebaskannya dari situasi konyol ini. “Iya, iya aku mengaku. Soal
kejadian waktu itu, aku minta maaf. Aku hanya sedang kesal. Andai kau
meminjamkan buku itu padaku kemarin, aku tidak akan melemparmu dengan
botol yoghurt.” beber Subin sambil menatap balik Joowon. Entah kekuatan
dari mana bisa membuatnya berani menatap pria yang baru dikenalnya.
"Subin-a! Mana gitarku?" Jongyeol tiba-tiba datang dan menghentikan
semua kejadian konyol itu. Lari kecilnya terhenti di depan pintu,
matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Syukurlah, kau menyelamatkanku Jongyeol, aku tidak akan membunuhmu sebagai rasa terima kasihku, gumam Subin sambil bernapas lega. Jowoon mulai mundur beberapa langkahdan mencoba bertingkah seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Oh, seonbaenim." sambung Jongyeol sambil menundukkan kepala rendah setelah mendapati Joowon bersama Subin.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan ?" tanya Jongyeol to the point.
Dia tidak habis pikir mengapa kedua orang itu bisa bersama, padahal
notabene mereka belum mengenal satu sama lain. Hanya gara-gara kejadian
di perpustakaan dan kejadian botol yoghurt. “Tapi kenapa mereka bisa
sedekat ini? Sejak kapan sahabatnya itu jadi mudah bergaul dengan pria
lain?” otaknya bekerja keras menemukan jawaban yang pas untuk semua
kejadian ganjil ini.
~~~
Angin semilir menerpa lembut badan Subin yang sejak tadi duduk lemah
di sebuah bangku panjang di atas bukit, tempat persembunyian favoritnya.
Sebenarnya tidak tepat disebut sebuah bukit, hanya sebuah dataran yang
lebih tinggi dari dataran lainnya. Subin selalu mampir kesini kalau
sedang bosan, stress, jengkel, atau hanya sekedar duduk-duduk memandangi
indahnya pemandangan dari atas bukit itu. Kali ini tujuannya datang
kemari karena dia sedang benar-benar stress, frustasi, depresi, atau
apalah namanya. Semangatnya pupus setelah tadi pagi mendapat kritik
tajam dari Mr.Kim.
Tadi pagi Subin diminta untuk mengumpulkan review naskahnya kepada
Mr.Kim. Sebenarnya dia sudah mulai membuat naskah walaupun belum
benar-benar mendapat ide, hanya sebisanya. Tapi tidak yakin kalau
naskahnya itu layak untuk dipentaskan.
Setelah kuliah pertamanya berakhir, dia bergegas menemui Mr.Kim di
ruangan dosen. Dia menyerahkan hasil reviewnya seperti yang
diperintahkan oleh Mr.Kim.
Mr.Kim memijat-mijat kepalanya sambil terus membolak-balik
lembaran-lembaran kertas, review naskah milik Subin, yang tergeletak di
atas meja kerjanya. Dari raut wajahnya sudah bisa terbaca, ada yang
tidak beres dengan hasil review Subin.
"Kau anggap ini sebuah karya ?" tanya Mr.Kim sambil
mengacung-acungkan lembaran-lembaran kertas yang dijepit menjadi satu.
Subin hanya menunduk terdiam, dia tahu dia tidak harus menjawab
pertanyaan Mr.Kim barusan, itu bukan tipe pertanyaan untuk dijawab.
"Saya sangat berharap banyak dari kamu. Kamu anak yang berbakat. Tapi
kenapa membuat naskah drama percintaan saja tidak bisa ? Cinta harus
dengan feeling tidak seperti genre lainnya. Aku sama sekali tidak bisa
merasakan feeling itu dalam review kamu. Kau harus baca naskah milik
Jiyoon, naskahnya benar-benar hebat. Kalau begini caranya bisa-bisa kamu
tidak lulus di ujian.” beber Mr.Kim dengan nada bicara semakin tinggi.
Kemudian dia membuang pandangannya dari Subin yang tetap menunduk.
“Betulkan tugasmu jika ingin lulus. Kau bisa pergi sekarang.” Lanjut
Mr.Kim tanpa menatap Subin.
Subin bukan tipe gadis yang tahan dengan segala macam bentakan,
ucapan dengan nada tinggi juga termasuk. Tidak mudah baginya menerima
kritik tajam seperti itu setelah sering kali mendapat pujian. Apalagi
dibanding-bandingkan dengan teman sekelasnya. Dia tidak seberuntung
mahasiswa lain. Dia disini berkat beasiswa, itu artinya dia harus terus
mengontrol nilanya. Dia khawatir kuliahnya terhenti jika sampai
naskahnya benar-benar tidak berhasil. Berbagai pikiran campur aduk
menjadi satu di kepalanya, membuatnya hampir gila.
Subin membenamkan kepalanya ditumpukan lengan yang bertumpu pada
lutut-lututnya. Belakangan ini dia terus saja diterpa masalah, entah apa
yang telah dilakukannya. Hanya saja dia merasa dunia sedang
menghukumnya.
"Mr.Kim !!! Aku bisa melakukannya ! Bakan lebih baik dari gadis
centil itu !!! Aku pasti lulus ujian !" Subin mengerahkan seluruh suara yang tersisa di tenggorokannya untuk mengeluarkan seluruh unek-unek yang mengganggu pikirannya. Dia mendengar
suaranya sendiri memantul dan menggema sebelum masuk ke telinga.
"Waaw, suaramu keras juga ya?" terdengar suara pria dari arah belakang. Subin segera menoleh dan segera mencari sumber suara yang mengganggu ritualnya. "Kau? sejak kapan kau di sini?" tanya Subin gelagapan.
"Baru saja, tapi aku mendengar semuanya." jawab Joowon sambil
melangkah mendekati Subin yang masih duduk terdiam sambil memandangnya
tanpa semangat. Joowon menjatuhkan diri di tempat kosong sebelah Subin dan merentangkan lengan kananya di sepanjang ujung sandaran bangku. "Mendengar yang mana ?" selidik Subin. Khawatir pria itu mendengar umpatannya yang ditujukan pada Mr.Kim dan membeberkannya.
"Kau khawatir aku akan mengadu pada Mr.Kim? Aku bukan tipe pria pengadu."
"Bagaimana pria itu bisa membaca pikirannya ?
"Tidak. Bahkan aku tidak takut jika kamu benar-benar melakukannya." timpal Subin cepat.
"Benarkah ?"
"Hmm.." dehem Subin ringan. Lalu kembali hanyut dalam kesedihannya.
"Aku tidak tahu kau selemah itu." lanjut Joowon setelah melirik ke
arah Subin yang duduk terkulai lemas, kepalanya menunduk sehingga
rambutnya terlujur menutupi sebagian wajahnya, sekilas terlihat seperti
zombie.
"Aku tidak ingin bercanda." jawab Subin cepat sambil terus mempertahankan posisi mengerikan itu.
"Aku benci gadis yang lemah."
"Aku tidak peduli." Subin tetap tidak menoleh pada pria pengganggu di sampingnya.
"Kenapa kau ingin sekali meminjam buku itu?" Subin tersentak
mendengar pertanyaan itu, dan langsung menoleh ke arah Joowon. Apa dia
sudah berubah pikiran ?
"Apa dengan aku mengatakannya kau akan meminjamkannya ?" Subin mulai
mendekatkan wajah ke arah Joowon. Mencoba mendeteksi sinyal-sinyal
kebohongan di raut wajh pria itu.
"Mungkin." jawab Joowon singkat tanpa menghiraukan tingkah Subin yang agak mengganggunya.
"Sebenarnya, aku harus membuat naskah drama untuk pertunjukkan akhir
semester ini. Tapi aku tidak punya ide akan membuat apa. Aku tidak
mengerti bagaimana aku menulis tentang kisah cinta padahal aku sendiri
saja tidak pernah mengalaminya, jangankan mengalaminya membayangkannya
saja jarang." beber Subin tidak yakin kalau menceritakan kepada pria
aneh itu adalah keputusan yang tepat. "Makanya aku membutuhkan sekali
buku itu." lanjut Subin sambil kembali menunduk.
"Kau sama sekali belum pernah berkencan atau jatuh cinta ?" Joowon
terperangah tidak percaya, pengakuan yang dibeberkan
Subin beberapa detik yang lalu menurutnya agak tidak masuk akal. "Belum
pernah ?" ulangnya sebelum bisa memberikan kesempatan pada Subin untuk
menjawab.
Subin mengangkat sedikit kepalanya dan menggeleng lemah. Dia menatap nanar Joowon.
"Sebenarnya aku juga membutuhkan buku itu. Aku harus membuat sebuah
lagu untuk showcase akhir semester. Aku tidak bisa meminjamkannya secara
penuh padamu. Tapi mungkin kita membacanya bersama."
Ide cemerlang mendadak menghampiri otaknya, sehingga senyum puas
mengembang di wajahnya. Entah ini dikatakan ide cemerlang atau ide gila,
dia tidak peduli akan hal itu. Yang terpenting naskahnya selesai dan dia bisa lulus.
"Bisakah kau mengajariku bagaimana itu cinta ?" Subin mulai menuturkan ide yang disebutnya cemerlang itu.
Joowon hanya mengankat sebelah alisnya, tidak menangkap maksud perkataan Subin yang agak bertele-tele itu.
"Jadi, aku akan berguru kepadamu, kau harus mengajarkanku apa itu
cinta. Atau gampangnya kau menjadi guruku, tapi yang ini mungkin agak
sedikit aneh. bagaimana ? Kau setuju kan ?" Alis Subin naik turun sambil
tersenyum merayu.
"Ah terserahlah." jawab Joowon pasrah sambil membuang pandangannya ke jejeran bunga-bunga musim panas yang merekah indah menyelimuti bukit itu.
"Kau setuju ?" tanya Subin mencoba mengartikan kalimat Joowon barusan. Joowon hanya berdehem.
"Kau benar-benar setuju, waaa.." teriak Subin riang. Spontan tangan Subin bergerak melingkar di tubuh Joowon.
"Ooooo!!!" teriak Joowon panik sambil berusaha menjauh dari dekapan spontan gadis itu. "Kau tidak boleh seperti itu."
"Maaf. Aku tadi terlalu senang, aku selalu melakukannya saat bersama Jungmin dan Jongyeol." Subin menyingkirkan kedua lengannya menjauh sambil tersenyum tersipu malu. "Kalau begitu mulai sekarang aku akan memanggilmu seonsaengnim."
"Aku tida suka panggilan seperti itu." tolak Joowon cepat. "Aku mau kau
memanggilku dengan sebutan Boss, Boss Joowon." seberkas senyuman licik mulai
membekas di wajah pria itu
.
"Apa-apaan ini? Jangan bilang kau berencana memperbudakku?" keluh
Subin saat mendengar permintaan gila yang membuat telinganya risih.
"Terserahlah, aku tidak peduli tentang itu. Yang penting aku bisa
lulus." tambahnya.
"Umm, Ngomong-ngomong kenapa kau membutuhkan buku itu? Mungkinkah
pria populer sepertimu juga kebingungan menulis lirik lagu cinta ?" tanya Subin sambil menatap raut wajah Joowon. Dia seketika tersadar pertanyaan tadi seharusnya tidak tepat ditujukan untuk Joowon, pria super populer di kampusnya. "Mana
mungkin ! Pria seperti kau pasti sudah banyak berkencan dengan gadis
cantik." komentar Subin panjang tanpa memberikan kesempatan pada Joowon untuk menjawab. .
"Mungkin." Joowon hanya tersenyum kecut sambil terus memandang jauh
ke arah jejeran puncak gedung-gedung kampus. "Tebakanmu ada benarnya
juga." gumamnya lirih

