Write your dream

Have you ever heard someone says "write down your dreams, because your written dream will be more easy to be hold."? Actually I do not believe yet. But most people who I know well and have experienced are successed ! Nonsense ! I thought write something like that is so easy, simple and can be done by everyone.

So, here I am !
I want to prove it by myself ~ I'll write it down and stick on wall in my room.
Until the time when MY DREAMS come true, I'll believe it and share it ! I promise !

And someone have told me "dreams like a treasure, God will open it !" I believe those word will work

Black Pearl

The new story~
Title     : Black Pearl
Genre  : Fantasy
Note   : Recommended for you, if you want to meet 12 cool wolves. This story inspired by EXO Melon Drama

Link to the chapters

A Tale of First Love [IND] Chapter 4


Di sudut ruangan, Subin terkantuk beberapa kali mencoba menahan kepalanya yang terasa semakin berat sementara Prof. Choi -dosen sastranya- berdiri di depan asik berceloteh yang justru terdengar seperti sedang mendongeng. Kuliah sastra seharusnya menyenangkan bagi Subin sejak awal kuliah, tetapi sejak Prof. Choi yang mengajar Subin hilang rasa pada mata kuliah yang satu ini. Dia akhirnya pasrah dan menyerah akan tawaran tubuhnya untuk sejenak terlelap dan segera membenamkan kepalanya di tumpukan lengannya. Dia berani bertaruh, dia tidur menganga pun dosen di depan itu tidak akan mempedulikannya. Lihat saja mahasiwa yang duduk di barisan depan. Sebagian besar mereka sudah tertidur pulas di atas tas empuknya, dan sebagian yang lain mengobrol atau hanya bergeming dengan smartphone mereka. Dosen itu tidak pernah menghiraukan mahasiswa yang tidak mendengarkannya. Baginya, tanggung jawabnya hanya menyampaikan kuliah dan mahasiswa memiliki tanggung jawab masing-masing untuk menyimak kuliah yang ia berikan. Bukannya Subin seorang mahasiswa yang tidak bertanggung jawab dan jelas-jelas dia sangat menyukai kuliah sastra, hanya saja cara Prof. Choi berceramah terlalu berbelit-belit dan membuat kupingnya berdenging saat mendengarkannya. Subin mati-matian menahan kantuknya sampai akhir kuliah, di saat mahasiswa yang lain sudah mulai kehilangan konsentrasi di awal.

"Kuliah hari ini cukup sekian. Sampai ketemu pada pertemuan berikutnya." Kata Prof.Choi mengakhiri kuliah -segala penyiksaan lahir dan batin- siang itu lalu segera mengemasi barang-barangnya dan bergegas meninggalkan kelas, yang diikuti juga oleh semua mahasiswa. Kecuali Subin yang masih terlelap dan belum sadar ruangan itu mulai lengang serta seorang wanita yang duduk di sampingnya, Hyejin. Teman sekelas Subin yang menurutnya paling bisa diandalkan, apalagi dalam hal pria dan cinta, tapi tidak selalu. Ada kalanya dia terlalu overreaction hanya karena seorang pria menatap ke arahnya. Sepertinya Subin telah salah mengandalkan wanita satu ini.

"Subin-a !" panggil Hyejin sambil menepuk-nepuk lengannya pelan. "Subin-a ! Cepatlah bangun ! Kau ingin terus tidur di sini sampai kapan ?"

"Ada apa Hyejin-a?" Subin membuka paksa matanya yang seakan lengket karena terkena suatu cairan yang disebut lem sambil menoleh ke arah asal suara. Dia mengucek matanya pelan dan terbelalak kaget mendapati seluruh bangku di ruang kelas sudah ditinggalkan penghuninya. "Kemana semua orang pergi ? Apa kuliahnya sudah selesai?"

"Dan kau masih akan terus tidur di sini ?" Hyejin mulai mengemasi buku-bukunya yang masih tercecer di atas meja dan memasukkannya ke tas jinjing berwarna navy. Subin tidak menjawab dan hanya merapikan rambutnya yang bergerombol di depan wajah menggunakan jemarinya.

"Cepatlah !" Hyejin buru-buru meraih beberapa buku sastra dan sebuah pena abu-abu di atas meja Subin dan memasukkannya ke dalam tas yang terkulai lemas di sisi Subin. Hyejin merapatkan gerahamnya gemas melihat orang di sampingnya -yang masih sibuk bertarung dengan beberapa helai rambutnya yang susah diatur- lalu segera membantunya merapikan menggunakan jemarinya yang lentik, bahkan sesekali dia mengancam helai rambut itu untuk menurut padanya. Dia berharap Subin menyelesaikannya dengan cepat.

"Kenapa harus buru-buru ?"

"Kelas Jingoo seonbaenim ada di sebelah, kalau tidak cepat-cepat keluar aku tidak bisa bertemu dengannya.” Lengan Subin mulai ditarik kuat menuju pintu kelas. Hyejin memang type fangirl akut yang ada di kampus ini. Dia selalu mencari mangsa pria tampan menggunakan insting berburunya ke setiap sudut kampus, inilah alasan Subin mengandalkannya dalam hal pria. Atau alasan Subin salah mengandalkannya
Subin menguncir kuda rambutnya tinggi sambil terus menatap segerombolan orang yang baru keluar dari arah ruang sebelah. “Mana ?”

"Ada kok. Sebentar lagi pasti keluar." Kaki Hyejin mulai menjijt, gerombolan orang di depannya menghalangi aktivitas meneropongnya. Setelah beberapa menit menunggu, terlihat tiga orang pria berebut keluar ruangan dan membelah belasan orang lainnya yang masih memenuhi jalanan depan. Binar kebahagiaan mulai terpampang di wajah Hyejin saat mendapati salah seorang dari ketiga pria adalah orang yang ditunggu sejak tadi, yang berpostur paling tinggi dengan jacket baseball melekat di tubuhnya. "waa, kerennya." Pandangan Subin diam-diam mengikuti arah mata Hyejin yang berujung pada pria itu, atau bisa disebut ketua gangster itu.

"Kau lihat kan ? Dia benar-benar tampan." pujinya.

"Kau gila ? Dia itu ketua gangster. Dia bisa saja memakanmu." sungut Subin kesal.

"Mana mungkin, pria berwajah manis sepertinya menyakiti seorang gadis, apalagi gadis cantik sepertiku." tambahnya berlagak.

Walaupun berwajah manis seperti bayipun, dia tetap saja ketua gangster. Beribu kalipun ku peringatkan Hyejin tidak akan mendengarkan. pikir Subin.

Subin hanya memutar bola matanya sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir lalu melengos pergi.
Hyejin celingukan mencari sosok Subin di dekatnya. “Subin-a ! Kau harusnya menunggu aku, bagaimana bisa kau pergi meninggalkanku begitu saja.” teriak Hyejin dari kejauhan setelah sadar dirinya ditinggal seorang diri. Subin yang sudah lumayan jauh berjalan, mendengar jelas derap langkah yang tidak terlalu cepat berlari mengekor. Dia tidak sadar Hyejin di belakangnya sedang mati-matian berlari dengan wedges krem kesayangannya.

Hyejin merangkul erat lengan Subin saat dia akhirnya bisa menyejajarkan langkah dengan wanita keras kepala itu. “Kau marah ?” tanya Hyejin dengan napas tersengal. Subin menghentikan langkahnya tidak tega melihat temannya yang hampir kehabisan napas. “Tidak, hanya saja tidak habis pikir. Aku sedang berpikir ulang saat berjalan.” kilah Subin cepat. “Kau menyukainya ? Kalau begitu itu untukmu saja.” Telinga Subin berdenging hebat, dia berharap telah salah mendengar tawaran absurd itu. Dahinya berkerut dan menatap kesal Hyejin yang dengan sabar menunggu jawabannya. “Tidak usah.” tolak Subin sambil kembali melangkahkan kakinya, aliran pernapasan Hyejin sepertinya sudah membaik. “Ya sudah untukku saja, aku akan mencarikan yang lain untukmu.” Subin tersenyum kecut tidak setuju. Dia sudah insyaf akan kekhilafannya mengikuti aliran sesat -fangirling- Hyejin. Jungmin akan mengutuknya menjadi single akut seumur hidup. Subin mendengus, pikirannya menerawang jauh memikirkan bagaimana dia harus menyelamatkan temannya -yang sedang merangkul lengannya manja- itu dari kecanduan fangirling sebelum dia overdosis.

"Subin-a ! Lihat kesana ! Ada pria tampan ! sepertinya aku belum pernah melihat pria itu sebelumnya di kampus." Hyejin menunjuk ke arah seorang pria yang bersandar di tembok koridor utama, satu kakinya ditekuk persis seperti model-model di majalah. Sangat keren. Beberapa kali dia menatap jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya, seperti sedang menunggu sesuatu.

"Aku tidak tertarik." jawab Subin cepat tanpa sedikit pun menoleh ke arah pria yang ditunjuk Hyejin.
Subin merasakan lengannya panas karena ditepuk kuat berkali-kali oleh Hyejin. “Subin-a, pria itu sekarang memandang ke arah kita !” Hyejin mulai menampilkan senyum handalannya untuk membalas senyum pria itu. “Subin-a ! Dia sekarang berjalan ke arah kita !” pukulan Hyejin semakin cepat dan sukses membuat Subin geram.

Berapa kali harus ku bilang aku tidak tertarik pada pria incaranmu lagi. Kata subin dalam hati memperingatkan.

"Hai." sapa pria itu lembut, sepertinya Subin pernah mendengar suara ini sebelumnya, tapi dia tidak ingat dimana dan kapan itu terjadi.

"Hai." jawab Hyejin malu-malu sambil menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga.

Detik pertama. Diam.

Detik kedua. Diam.

Detik ketiga. Diam.

Sampai detik ketiga puluh, mereka hanya bersibaku dengan keheningan hanya untuk menunggu Subin menjawab salam pria itu.

"akk !" pekik Subin lirih saat merasa kakinya terinjak sesuatu. "Subin-a ! seharusnya kau menjawab salam dari orang lain. Tidak baik diam saja." bisik Hyejin pelan.

"Hai." Mata Subin hanya menerawang jauh, sama sekali tidak berminat untuk menoleh ke pria itu. atau bisa disebut pria asing -yang sok-sokan mengenal mereka dan bahkan menyapa, atau itu kegiatan tebar pesona?-. Pikiran-pikiran ngawur mulai berkelebat dalam otaknya.

"Apa-apaan ini ! Kau menjawab salamku seperti itu?" protes pria itu yang lantas membuat Subin mengurungkan niatnya jauh-jauh untuk tetap tidak menoleh. Sebenarnya siapa pria itu ? Berani-beraninya. pikir Subin geram

"Ah ! Minho-ya !" Subin terkesiap melihat pria keren di depannya, yang ternyata teman lamanya -bersama Jungmin dan Jongyeol-. Beberapa detik mulutnya tidak berhenti menganga. Mungkin tidak ada perubahan besar dari pria itu, tapi rasanya semua yang dilihatnya adalah sesuatu yang sangat gres. Maklum sudah lama sekali sejak terakhir kali dia bertemu dengannya, membuatnya sedikit lupa bagaimana tampilannya secara persis. Dia memutuskan mengambil tawaran beasiswa di US setahun yang lalu tidak lama sejak dia kuliah di kampus yang sama dengan Subin bahkan sekelas dengan Jungmin dan Jongyeol. Omong kosong kalau Jungmin dan Jongyeol mengatakan Subin tidak pernah dekat dengan pria lain selain mereka, buktinya Subin malah sangat akrab dengan teman-teman sekelas mereka. Tapi entah mengapa itu tidak berlaku di kelasnya sendiri.

Saking bahagianya Subin langsung memeluk erat pria di hadapannya sambil sedikit berjinjit, tinggi Minho memang lumayan tidak bisa direngkuh Subin dengan sepatu flat yang dikenakannya. “Minho-ya, aku sangat merindukanmu.” ucap Subin di dekat telinga Minho.

"Apa-apaan ini? Tadi dia bilang tidak tertarik, sekarang malah memeluknya." gerutu Hyejin sambil memandang sebal keduanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Halo ?" Sapa Joowon setelah menekan tombol handphonenya yang berdering.
"Halo.. Hyeong !" jawab seorang pria dari seberang sana.
Joowon tertegun sesaat sambil mengingat pemilik suara itu. Dia yakin dia mengenalnya, tapi pria itu menggunakan nomer telepon yang tidak dikenali handphonenya.
"Hyeong !" lanjut pria itu agak berteriak, yang membuat Joowon agak tersentak. "Hyeong, kau tidak mengingatku ? Keterlaluan sekali !"
Joowon berhasil mengumpulkan beberapa bagian ingatannya dan mulai yakin siapa pemilik suara itu. Sudah setahun lamanya tidak saling kontak membuat Joowon agak lupa dengan suara adik kelasnya. "Minho-ya ?" tebak Joowon sambil terkekeh puas. "bagaimana kabarmu ? Kau dimana ? Lama sekali kau tidak meneleponku."
"Maaf Hyeong membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja." kata Minho bergurau. "Aku sekarang di kampus. Hyeong dimana ? Aku ingin bertemu denganmu."
"Kampus ? Kau di Korea ?"
Minho mengangguk sambil tersenyum walaupun dia sadar Joowon tidak bisa melihatnya. "Iya Hyeong."
"Sejak kapan ? Aku sedang di perpustakaan. Tapi sebentar lagi akan ke ruang musik."
"Aku sampai Korea 2 hari yang lalu. bagaimana kalau kita bertemu di koridor utama? aku tunggu Hyeong."
"Oke. Aku akan ke sana segera. Bye." sambungan telepon terputus tepat saat Joowon menekan tombol merah di layar teleponnya. Dia bergegas membereskan beberapa buku yang dipinjamnya yang masih bertumpuk di atas meja bundar berwarna hitam dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Dalam hitungan menit dia sudah menghilang keluar dari perpustakaan.

Joowon berjalan setengah berlari menyusuri koridor utama sambil menoleh ke kanan kiri mencari sosok seseorang yang sedang menunggunya. Dia menghentikan langkahnya sesaat sambil menata napasnya yang sedikit terengah. Matanya menyisir setiap tempat, tapi dia hanya menemukan beberapa gerombolan mahasiswa lain yang tidak dikenalinya. Minho-anak itu menunggunya di mana ?
Pandangan matanya tersita pada seorang pria tinggi dengan balutan jaket tebal warna abu-abu dan celana jeans putih. Dia tersenyum lega saat akhirnya menemukan adik kelasnya sedang berbincang dengan dua orang gadis. Joowon mengambil langkah menuju tempat keberadaan Minho. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti melihat salah seorang gadis tadi memeluknya. Dia melihat jelas wajah gadis itu, dia sadar mengenalnya. "Gadis itu ? Namanya Subin kan ? Bagaimana dia mengenal Minho ?"

A Tale of First Love [IND] Chapter 3

Subin, Jungmin dan Jongyeol menikmati senja musim panas hari itu di sebuah lapangan basket dekat kampus. Mereka bertiga duduk manis di tepian lapangan sambil menggenggam sebotol yoghurt yang baru saja mereka beli di sebuah mini market saat perjalanan. Benar-benar seperti anak kecil.

"Bagaimana dengan naskahmu ? sudah terpikir akan membuat apa ?" tanya Jongyeol membuka perbincangan sore itu sambil terus menerawang ke tengah lapangan. Seorang mahasiswa berperawakan tinggi besar berlari gesit sambil mendribble bola basket dengan tangan kanannya dan beberapa lainnya berlari di sekelilingnya. Bukan pertandingan besar, hanya permainan biasa untuk mengusir rasa jenuh dan stress mahasiswa setelah belajar di kampus.

Subin hanya menggeleng kepalanya lemah.

"Sama sekali belum ada inspirasi?" Jungmin berhenti menyedot yoghurt kesukaannya dan terperangah tak percaya.

"Hampir, kalau bukan karena pria menyebalkan itu, pasti aku sudah mendapatkan ide ceritanya." umpat Subin lalu kembali menikmati yoghurt miliknya.

"Siapa ?" Jongyeol menoleh dan menatap curiga pada Subin. "sejak kapan kau dekat dengan pria selain kami?" cecar Jongyeol penasaran.

"Bukan seperti itu ! Dia hanya pria menyebalkan yang tidak mau meminjamkan buku berharga itu padaku."

"Waaah, sepertinya pria itu sudah salah berurusan denganmu." sambung Jungmin sambil terkekeh.

Salah seorang pemain basket berjalan keluar dari permainan. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya dan membuatnya terlihat ‘agak’ seksi.

“Apa-apaan ini?” gerutu Subin sambil menatap ngeri ke arah beberapa gadis labil yang bertingkah histeris saking terpesonanya melihat pria itu. Pandangan Subin lalu beralih mengikuti pria itu yang berjalan menepi dan meraih sebuah botol air mineral yang sedari tadi tegap berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Pria itu tampak tidak asing. Sepertinya, orang yang baru saja menjadi objek pembicaraan mereka sedang berdiri membelakangi sambil meneguk habis isi botolnya. Hawa sekitar entah kenapa menjadi sangat panas, membuat mood Subin semakin buruk. Tangannya meremas kuat botol yoghurt kosong, sambil terus memandang sebal ke arah orang yang sudah membawa awan mendung ke sekelilingnya, pria berperawakan sedang yang masih berdiri membelakangi dirinya. Jongyeol dan Jungmin berkali-kali bertukar pandang mencoba menemukan jawaban atas fenomena aneh itu. “Pasti ada yang tidak beres” batin mereka. Di atas kepala mereka tergambar jelas tanda tanya besar. Belum lama mereka memproses semua pertanyaan-pertanyaan itu di otak, mereka dikejutkan oleh meluncurnya sebuah benda ke udara melewati mata mereka.

Taaak !!!

Botol yoghurt yang sudah tidak berbentuk, sukses mendarat keras di kepala pria itu. “Ahh!” jerit pria itu spontan sambil memegangi tempat jatuhnya botol itu, di kepala belakangnya. Subin spontan meringis sambil menutup matanya. “itu pasti sakit.” Ejeknya dalam hati.

Pria itu membalikkan badan dan mulai mencari siapa kriminal yang telah berani melemparnya dengan botol yoghurt, sambil terus mengusap-usap kepalanya yang agak pening. Subin langsung menunduk dan mencoba menutupi wajah dengan tangan kanannya. Pria itu tidak boleh mengenali dirinya.

Hanya ada enam orang yang duduk di belakangnya, lokasi yang dicurigai sebagai asal lompatan botol itu. Tiga wanita yang duduk berjejer dan tiga lainnya jelas Subin, Jongyeol dan Jungmin. Tiga wanita itu langsung menggelengkan kepalanya bersamaan saat pria itu memasang tatapan selidik ke arah mereka. Tidak yakin mereka pelakunya, pria itu lalu membuang pandangannya ke arah Subin dan dua sahabatnya. Tersangka selanjutnya. Tapi entah kenapa dia hanya melenggang pergi setelah menatap mereka bertiga layaknya seorang kriminal.

"Ya, Subin-a ! Apa yang barusan saja kau lakukan ?" tanya Jungmin panik.

"Hanya tidak tertahankan." jawab Subin ragu seraya menyingkirkan tangannya dari wajah, dan kembali memberanikan diri mengangkat kepalanya.

"Apa-apan kau ini ! Kau tau siapa dia ?" sungut Jonyeol sambil membenarkan letak topinya.

"Dia pria menyebalkan yang aku ceritakan tadi."

"Dia ? Waah, kali ini sepertinya kamu yang akan dapat masalah jika berurusan dengannya." Jungmin memutar ucapannya membela pria itu.

"Memangnya kenapa ? Apa dia sebegitu menakutkannya?" sungut Subin yang merasa dirinya telah dipojokkan, tidak mau kalah.

"Tidak semenakutkan itu, hanya saja dia itu senior kami, Aku dan Jungmin. Namanya Lee Joowon. Kami sering bertemu dengannya di ruang musik. Dia cukup terkenal di kampus, apa kau tidak mengenalnya?" tanya Jongyeol sambil mengerutkan keningnya.

Sekali lagi, Subin hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Dia memang tidak pernah pria itu sebelumnya di kampus. Jongyeol dan Jungmin juga sepertinya tidak pernah menyinggung soal pria itu saat bersamanya. Apa benar pria itu memang populer ? Subin lalu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.

"Mungkin kau tidak akan mendapat masalah darinya, tapi dari fansnya yang ababil seperti itu." Jungmin mengedikkan dagunya ke arah kumpulan gadis ababil, yang tadi sempat ditatap ngeri oleh Subin. Sekarang gadis-gadis ababil itu balik memandang ngeri ke arah Subin sambil berbisik. Subin yakin mereka sedang berbisik mengolok-oloknya.

"Apa yang aku lakukan ??" kutuknya dalam hati sambil menelan ludah pelan.

~~~

Hari berikutnya, Subin melangkah gontai menyusuri sebuah koridor panjang Student Center sambil menggendong beban berat dipunggungnya. “Bagaimana bisa Jongyeol lupa membawa gitar kesayangannya ini? Kalau tidak pasti aku tidak usah repot-repot menaiki puluhan anak tangga itu.” gerutu Subin dalam hati.
Dia sekarang harus mengantar gitar itu ke ruang musik di ujung koridor. Menaiki tangga, berjalan menyusuri koridor panjang, ditambah beban gitar di punggungnya sukses membuat tubuhnya lemas, sepotong roti yang dimakannya tadi pagi tidak bisa memberinya tenaga lebih. Rasa sakit juga menjalar ke seluruh kakinya yang mulai gemetaran. Beberapa kali dia hentikan langkahnya dan membungkuk sambil memegangi lutut.

"Ya! Jongyeol-a, mati kau jika aku bertemu denganmu nanti !" ancam Subin dengan nada lirih.
Tanpa disadari, dia telah berjalan sampai di ujung koridor. Sebuah ruangan dengan papan bertuliskan ruang musik sudah muncul di depannya. “Akhirnya…” ujarnya lega. Senyumnya mulai mengembang puas. Rasa sakitnya lenyap begitu saja dan tenaganya seakan terisi kembali.

Pintu ruang musik saat itu terbuka tapi tidak terdengar apapun dari dalam. Subin memutuskan untuk mengintip ke dalam dan memastikan kalau ruang itu benar-benar tidak berpenghuni. Matanya menerawang jauh ke dalam ruangan dari luar, mencari tanda-tanda kehidupan, tapi dia tidak menemukan seorang pun di sana. Tebakan awalnya benar, ruang itu kosong. Dengan ragu dia mulai melangkah memasuki ruang musik yang sebenarnya pernah beberapa kali dia kunjungi. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya berbeda dari sebelumnya. Ruangan itu jadi terasa mistis, tapi mungkin itu hanya karena perasaan dia saja yang sedang kalut belakangan ini.

Subin menurunkan gitar dari punggungnya dan meletakkannya di atas sebuah meja dekat pintu. Bukan kali pertama dia memasuki ruang ini, tapi belum pernah sekali pun dia punya kesempatan menjelajah ke setiap sudut ruangan. Mungkin ini kesempatan bagus untuk melakukannya, mumpung tidak ada orang lain.
"Waah.." kagum Subin sambil menyentuh badan piano yang letaknya di sudut ruangan. Baru pertama kali dia melihat benda itu secara nyata bahkan sampai menyentuhnya, yang sebelumnya hanya bisa dilihatnya dari Televisi atau konser. Dia terus berjalan mengitari benda besar itu, sambil membayangkan jari-jari Jungmin memainkan tuts piano dengan lihai. Jungmin tempo hari bercerita dirinya yang memainkan piano. Subin sangat ingin melihat Jungmin bermain di depannya.

"Apa yang sedang kau lakukan ?" Sebuah suara berat terdengar memecah keheningan ruang musik.
Subin yang tidak menyadari seseorang berdiri di belakang mengamatinya curiga, sukses dibuat terkejut. Tangannya spontan memegangi dada, takut jantungnya melompat keluar. Kemudian mulai mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Aaaa, Kagee.." amuk Subin sambil berbalik. Ucapannya terhenti setelah mendapati Lee Joowon, pria yang membuatnya kesal belakangan ini, berdiri sambil menatapnya tajam. Subin sekarang tahu kenapa dia merasakan aura mistis di ruangan ini. Dia melupakan keberadaan makhluk itu di sini.

"Aaa, ternyata kau." kilah Subin sambil menggaruk tengkuknya, kikuk. "sejak kapan kau berdiri di situ ?" lanjut Subin, mencoba sok akrab.

"Oh, kau…" Joowon mengangguk-anggukan kepalanya pelan sambil mencoba mengingat-ingat.

"kau mengenalku ? waah aku tidak tahu aku sepopuler itu." jawab Subin asal.

Kenapa pria ini bisa disini ? Datang darimana dia ? apa dia hantu yang bisa datang tiba-tiba ?

"Enak yoghurtnya ?" tanya Joowon menyeringai.

Aura mistis membalut rapat ruang musik. Sial, kenapa pria itu membahas kejadian itu. Padahal Subin sudah ingin melupakannya dan menganggapnya tidak pernah terjadi.

"Apa?" Subin mengernyit berpura-pura tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh Joowon. Subin yakin aktingnya kali ini sungguh luar biasa, bahkan tidak kalah dari artis-artis Hollywood. Walaupun dia hanya pernah belajar sedikit dari mahasiswa sub-study akting, dan yang dipelajarinya hanya teknik pernapasan yang baik. Lumayan dia bisa mengontrol napasnya, padahal dia merasakan keringat dingin menggenang di telapak tangannya.

"sepertinya enak, tapi kau membuangnya ke tempat yang salah."

Joowon melangkah perlahan mendekati Subin dan menggiringnya mundur sampai terhenti terhalang tembok keras. Subin terus melanjutkan kegiatan aktingnya tanpa menghiraukan keberadaan makhluk di depannya yang berusaha memaksanya mengalah. Tapi aktingnya harus terhenti setelah Joowon tiba-tiba mendekatkan wajah ke arahnya sambil menyandarkan keuda tangan pada tembok, dia benar-benar terjebak sekarang. Konsentrasinya buyar, bagaimana tidak ? jarak wajah mereka tidak ada sejengkal. Dia bisa melihat jelas pahatan indah yang membentuk mata, hidung, dan bibir pada wajah pria itu. Makhluk itu benar-benar menakjubkan. Subin sekarang bisa mendengar detak jantungnya beradu cepat melebihi batas normal. “Kau ini bicara apa sih ?” kilah Subin mati-matian membuang jauh rasa gugupnya. Mata Subin menerawang jauh menghindari tatapan mata tajam bagai pisau tepat di depannya sebelum dia mendengar suara dehem keras yang langsung mengembalikan konsentrasinya pada Joowon. “Apa kau sedang menuduhku sekarang ?” Subin memberanikan diri bersuara walaupun kali ini suaranya terdengar sedikit lemah.

"Hanya enam orang yang duduk tepat di belakangku. Tiga orang wanita itu, jelas bukan mereka pelakunya. Tinggal kalian bertiga, tapi di antara kalian bertiga hanya kau yang tidak memegang botol yoghurt. Dan reaksimu saat itu, kau tidak sadar kau telah mengakui perbuatanmu sendiri." cecar Joowon panjang sambil terus mendekatkan wajahnya.

Kedua pipi Subin terasa semakin panas. Terus mengelak tidak akan membebaskannya dari situasi konyol ini. “Iya, iya aku mengaku. Soal kejadian waktu itu, aku minta maaf. Aku hanya sedang kesal. Andai kau meminjamkan buku itu padaku kemarin, aku tidak akan melemparmu dengan botol yoghurt.” beber Subin sambil menatap balik Joowon. Entah kekuatan dari mana bisa membuatnya berani menatap pria yang baru dikenalnya.

"Subin-a! Mana gitarku?" Jongyeol tiba-tiba datang dan menghentikan semua kejadian konyol itu. Lari kecilnya terhenti di depan pintu, matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Syukurlah, kau menyelamatkanku Jongyeol, aku tidak akan membunuhmu sebagai rasa terima kasihku, gumam Subin sambil bernapas lega. Jowoon mulai mundur beberapa langkahdan mencoba bertingkah seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

"Oh, seonbaenim." sambung Jongyeol sambil menundukkan kepala rendah setelah mendapati Joowon bersama Subin.

"Apa yang sedang kalian berdua lakukan ?" tanya Jongyeol to the point. Dia tidak habis pikir mengapa kedua orang itu bisa bersama, padahal notabene mereka belum mengenal satu sama lain. Hanya gara-gara kejadian di perpustakaan dan kejadian botol yoghurt. “Tapi kenapa mereka bisa sedekat ini? Sejak kapan sahabatnya itu jadi mudah bergaul dengan pria lain?” otaknya bekerja keras menemukan jawaban yang pas untuk semua kejadian ganjil ini.

~~~
Angin semilir menerpa lembut badan Subin yang sejak tadi duduk lemah di sebuah bangku panjang di atas bukit, tempat persembunyian favoritnya. Sebenarnya tidak tepat disebut sebuah bukit, hanya sebuah dataran yang lebih tinggi dari dataran lainnya. Subin selalu mampir kesini kalau sedang bosan, stress, jengkel, atau hanya sekedar duduk-duduk memandangi indahnya pemandangan dari atas bukit itu. Kali ini tujuannya datang kemari karena dia sedang benar-benar stress, frustasi, depresi, atau apalah namanya. Semangatnya pupus setelah tadi pagi mendapat kritik tajam dari Mr.Kim.

Tadi pagi Subin diminta untuk mengumpulkan review naskahnya kepada Mr.Kim. Sebenarnya dia sudah mulai membuat naskah walaupun belum benar-benar mendapat ide, hanya  sebisanya. Tapi tidak yakin kalau naskahnya itu layak untuk dipentaskan.

Setelah kuliah pertamanya berakhir, dia bergegas menemui Mr.Kim di ruangan dosen. Dia menyerahkan hasil reviewnya seperti yang diperintahkan oleh Mr.Kim.
 
Mr.Kim memijat-mijat kepalanya sambil terus membolak-balik lembaran-lembaran kertas, review naskah milik Subin, yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dari raut wajahnya sudah bisa terbaca, ada yang tidak beres dengan hasil review Subin.
 
"Kau anggap ini sebuah karya ?" tanya Mr.Kim sambil mengacung-acungkan lembaran-lembaran kertas yang dijepit menjadi satu. Subin hanya menunduk terdiam, dia tahu dia tidak harus menjawab pertanyaan Mr.Kim barusan, itu bukan tipe pertanyaan untuk dijawab.
 
"Saya sangat berharap banyak dari kamu. Kamu anak yang berbakat. Tapi kenapa membuat naskah drama percintaan saja tidak bisa ? Cinta harus dengan feeling tidak seperti genre lainnya. Aku sama sekali tidak bisa merasakan feeling itu dalam review kamu. Kau harus baca naskah milik Jiyoon, naskahnya benar-benar hebat. Kalau begini caranya bisa-bisa kamu tidak lulus di ujian.” beber Mr.Kim dengan nada bicara semakin tinggi. Kemudian dia membuang pandangannya dari Subin yang tetap menunduk. “Betulkan tugasmu jika ingin lulus. Kau bisa pergi sekarang.” Lanjut Mr.Kim tanpa menatap Subin.

Subin bukan tipe gadis yang tahan dengan segala macam bentakan, ucapan dengan nada tinggi juga termasuk. Tidak mudah baginya menerima kritik tajam seperti itu setelah sering kali mendapat pujian. Apalagi dibanding-bandingkan dengan teman sekelasnya. Dia tidak seberuntung mahasiswa lain. Dia disini berkat beasiswa, itu artinya dia harus terus mengontrol nilanya. Dia khawatir kuliahnya terhenti jika sampai naskahnya benar-benar tidak berhasil. Berbagai pikiran campur aduk menjadi satu di kepalanya, membuatnya hampir gila.

Subin membenamkan kepalanya ditumpukan lengan yang bertumpu pada lutut-lututnya. Belakangan ini dia terus saja diterpa masalah, entah apa yang telah dilakukannya. Hanya saja dia merasa dunia sedang menghukumnya.

"Mr.Kim !!! Aku bisa melakukannya ! Bakan lebih baik dari gadis centil itu !!! Aku pasti lulus ujian !" Subin mengerahkan seluruh suara yang tersisa di tenggorokannya untuk mengeluarkan seluruh unek-unek yang mengganggu pikirannya. Dia mendengar suaranya sendiri memantul dan menggema sebelum masuk ke telinga.

"Waaw, suaramu keras juga ya?" terdengar suara pria dari arah belakang. Subin segera menoleh dan segera mencari sumber suara yang mengganggu ritualnya. "Kau? sejak kapan kau di sini?" tanya Subin gelagapan.

"Baru saja, tapi aku mendengar semuanya." jawab Joowon sambil melangkah mendekati Subin yang masih duduk terdiam sambil memandangnya tanpa semangat. Joowon menjatuhkan diri di tempat kosong sebelah Subin dan merentangkan lengan kananya di sepanjang ujung sandaran bangku. "Mendengar yang mana ?" selidik Subin. Khawatir pria itu mendengar umpatannya yang ditujukan pada Mr.Kim dan membeberkannya.

"Kau khawatir aku akan mengadu pada Mr.Kim? Aku bukan tipe pria pengadu."

"Bagaimana pria itu bisa membaca pikirannya ?

"Tidak. Bahkan aku tidak takut jika kamu benar-benar melakukannya." timpal Subin cepat.

"Benarkah ?"

"Hmm.." dehem Subin ringan. Lalu kembali hanyut dalam kesedihannya.

"Aku tidak tahu kau selemah itu." lanjut Joowon setelah melirik ke arah Subin yang duduk terkulai lemas, kepalanya menunduk sehingga rambutnya terlujur menutupi sebagian wajahnya, sekilas terlihat seperti zombie.

"Aku tidak ingin bercanda." jawab Subin cepat sambil terus mempertahankan posisi mengerikan itu.

"Aku benci gadis yang lemah."

"Aku tidak peduli." Subin tetap tidak menoleh pada pria pengganggu di sampingnya.

"Kenapa kau ingin sekali meminjam buku itu?" Subin tersentak mendengar pertanyaan itu, dan langsung menoleh ke arah Joowon. Apa dia sudah berubah pikiran ?

"Apa dengan aku mengatakannya kau akan meminjamkannya ?" Subin mulai mendekatkan wajah ke arah Joowon. Mencoba mendeteksi sinyal-sinyal kebohongan di raut wajh pria itu.

"Mungkin." jawab Joowon singkat tanpa menghiraukan tingkah Subin yang agak mengganggunya.

"Sebenarnya, aku harus membuat naskah drama untuk pertunjukkan akhir semester ini. Tapi aku tidak punya ide akan membuat apa. Aku tidak mengerti bagaimana aku menulis tentang kisah cinta padahal aku sendiri saja tidak pernah mengalaminya, jangankan mengalaminya membayangkannya saja jarang." beber Subin tidak yakin kalau menceritakan kepada pria aneh itu adalah keputusan yang tepat. "Makanya aku membutuhkan sekali buku itu." lanjut Subin sambil kembali menunduk.

"Kau sama sekali belum pernah berkencan atau jatuh cinta ?" Joowon terperangah tidak percaya, pengakuan yang dibeberkan Subin beberapa detik yang lalu menurutnya agak tidak masuk akal. "Belum pernah ?" ulangnya sebelum bisa memberikan kesempatan pada Subin untuk menjawab.

Subin mengangkat sedikit kepalanya dan menggeleng lemah. Dia menatap nanar Joowon.

"Sebenarnya aku juga membutuhkan buku itu. Aku harus membuat sebuah lagu untuk showcase akhir semester. Aku tidak bisa meminjamkannya secara penuh padamu. Tapi mungkin kita membacanya bersama."
Ide cemerlang mendadak menghampiri otaknya, sehingga senyum puas mengembang di wajahnya. Entah ini dikatakan ide cemerlang atau ide gila, dia tidak peduli akan hal itu. Yang terpenting naskahnya selesai dan dia bisa lulus.

"Bisakah kau mengajariku bagaimana itu cinta ?" Subin mulai menuturkan ide yang disebutnya cemerlang itu.
Joowon hanya mengankat sebelah alisnya, tidak menangkap maksud perkataan Subin yang agak bertele-tele itu.

"Jadi, aku akan berguru kepadamu, kau harus mengajarkanku apa itu cinta. Atau gampangnya kau menjadi guruku, tapi yang ini mungkin agak sedikit aneh. bagaimana ? Kau setuju kan ?" Alis Subin naik turun sambil tersenyum merayu.

"Ah terserahlah." jawab Joowon pasrah sambil membuang pandangannya ke jejeran bunga-bunga musim panas yang merekah indah menyelimuti bukit itu.

"Kau setuju ?" tanya Subin mencoba mengartikan kalimat Joowon barusan. Joowon hanya berdehem.

"Kau benar-benar setuju, waaa.." teriak Subin riang. Spontan tangan Subin bergerak melingkar di tubuh Joowon.

"Ooooo!!!" teriak Joowon panik sambil berusaha menjauh dari dekapan spontan gadis itu. "Kau tidak boleh seperti itu."

"Maaf. Aku tadi terlalu senang, aku selalu melakukannya saat bersama Jungmin dan Jongyeol." Subin menyingkirkan kedua lengannya menjauh sambil tersenyum tersipu malu. "Kalau begitu mulai sekarang aku akan memanggilmu seonsaengnim."

"Aku tida suka panggilan seperti itu." tolak Joowon cepat. "Aku mau kau memanggilku dengan sebutan Boss, Boss Joowon." seberkas senyuman licik mulai membekas di wajah pria itu
.
"Apa-apaan ini? Jangan bilang kau berencana memperbudakku?" keluh Subin saat mendengar permintaan gila yang membuat telinganya risih. "Terserahlah, aku tidak peduli tentang itu. Yang penting aku bisa lulus." tambahnya.

"Umm, Ngomong-ngomong kenapa kau membutuhkan buku itu? Mungkinkah pria populer sepertimu juga kebingungan menulis lirik lagu cinta ?" tanya Subin sambil menatap raut wajah Joowon. Dia seketika tersadar pertanyaan tadi seharusnya tidak tepat ditujukan untuk Joowon, pria super populer di kampusnya. "Mana mungkin ! Pria seperti kau pasti sudah banyak berkencan dengan gadis cantik." komentar Subin panjang tanpa memberikan kesempatan pada Joowon untuk menjawab. .

"Mungkin." Joowon hanya tersenyum kecut sambil terus memandang jauh ke arah jejeran puncak gedung-gedung kampus. "Tebakanmu ada benarnya juga." gumamnya lirih