-Satnite Story-


"Winny .. !!!!" suara melengking panjang seorang gadis di ujung gudang sontak membuatku kaget dan melepaskan bilik besar yang berusaha kuangkat. Panggilan itu terdengar sangat tidak baik di telingaku. Pasti orang itu akan memintaku melakukan hal lain. Aku mendesah pelan sambil melirik bilik besar yang tadi jatuh tergenlincir dari tanganku. Padahal aku belum sempat memindahkan bilik-bilik itu. Totalnya 12 buah, baru 2 yang berhasil kami pindah, dan orang itu sudah memintaku mengerjakan yang lain ?
"Kalau udah selese mindahin bilik cepet bantu dekor ruangan, oke ?"
Sudah kuduga, gumamku dalam hati.
"Ya !" teriakku lantang setengah mengerang. Dua orang, hanya dua perempuan yang ditugaskan di bagian perlengkapan. Bisa dibayangkan betapa beratnya pekerjaan bagian ini untuk perempuan. Aku awalnya mendaftar bagian dekorasi tetapi entah kenapa bisa aku disesatkan di sini oleh Finda, si ketua gila tadi.
"Sabar Win." saran Giena, perempuan lain di bagian perlengkapan. Aku melemparkan senyum masam lalu kembali melanjutkan pekerjaan. Dan di saat itu lah terdengar suara ponsel yang ternyata milik Finda, ia menerobos keluar melewatiku sambil menaruh ponselnya di samping telinga.
"Haloo..."
Aku dan Giena bersama-sama mencoba memindahkan satu bilik keluar. Sedangkan anggota laki-laki mengangkatnya seorang diri dengan kecepatan dua kali lebih dari kami. Ya bagaimana lagi. Aku berusaha tidak menghiraukan keberadaan Finda sampai suaranya yang melengking menerobos masuk gendang telingaku.
"Winny !!!!"
"Apalagi ?" gerutuku lirih
Jari Finda menunjuk ke arah bilik yang masih kami angkat. "Winny turunin biliknya, kamu tolong beli air mineral dua dus. Ini uangnya"
"Kenapa harus aku?" kali ini emosiku sudah tidak bisa tertahan. Orang itu semakin kelewatan. Wajah antagonis Finda sudah cukup menyadarkanku, ini memang tugasku. Aku menghembuskan napas panjang tanda menyerah "Oke." Ini hanya karena aku tidak mau acara ini berantakan, acara ini proyek tahunan mahasiswa sastra asing. Kalau acara ini gagal, kita tidak lulus.

Aku susah payah mengangkat dua dus berisi minuman mineral sambil berjalan menuju kasir. Seseorang berjalan cepat melewatiku dan menyusup masuk ke antrian. Sial. Aku mengintip dari balik kardus sambil mati-matian menjaga keseimbangan. Sekeranjang penuh barang dikeluarkan satu persatu ke meja kasir. Kumohon ! Jangan gunakan mode slow-motiom, erangku dalam hati. Tanganku sudah tidak mampu bertahan dengan dua kardus ini. Aku menjatuhkannya tepat di depanku. Dan orang di depanku masih sibuk mengeluarkan belanjaannya. Seorang laki-laki berperawakan tinggi kurus dengan rambut cokelat yang  tertata rapi, tidak terlalu rapi tapi yang kumaksud sengaja dibuat agak berantakan. Kulitnya putih dan matanya agak sipit, sepertinya bukan orang asli sini. Setelah belanjaannya selesai dihitung, ia mulai merogoh kantung belakang celananya. "wait." katanya pelan sambil menepuk-nepuk kantung lainnya.
"Bagaimana ?" tanya si kasir.
Aku memutar bola mataku. Dasar orang aneh. Sampai berapa lama lagi ia harus membuatku menunggu ?
"Can you please count hers, too ?" katanya ringan. Apa? Orang itu sudah gila ! Aku melototinya sampai mataku terasa hampir keluar, tapi ia justru tersenyum. "I'm with her here."
Ia memang sudah gila ! Aku tersenyum kecut lalu membuang pandanganku sengit. "Excuse me..." Tiba-tiba tangan orang itu merengkuh pundakku.
"Oh come on! I forget bring my wallet, I will pay back you at home"
Mataku terpaku pada jam dinding yang tergantung di pojok toko, yang membuatku teringat pada Finda. kalau tidak cepat kembali orang itu pasti akan mengomel dan bisa menerkamku kapan saja.
"Oke." aku menaruh kardus-kardus itu pada meja kasir. Tanpa bantuan. Bayangkan betapa gilanya aku sekarang, sama seperti orang yang berdiri terdiam di sampingku tanpa punya inisiatif membantu.

***

Aku menjatuhkan kardus-kardus itu tepat di hadapan Finda.
"Be careful, baby, you might spoil the contents."
Aku mendecakan lidah lalu menggumam. "Itu memang niatku."
"Tadi kamu bilang apa?" Finda melanjutkan setelah aku menggeleng pasrah. "Oke, sekarang lanjutin tugasmu ya. Masih ada dua bilik, khusus untukmu, dear."
Aku memasukan kepalan tanganku yang mengeras ke dalam saku jaket. Tidak ada gunanya melawan dan mengeluh. Semakin cepat megerjakannya semakin cepat selesai.
Aku berjalan setengah dongkol ke arah gudang. Dan suara Finda masih terdengar jelas, aku benar-benar ingin menyelamatkan telingaku dari suara orang evil satu itu.
"Oh, Koizumi-san ? Oh welcome. Nice to meet you."

Aku merasakan ponselku berdering dan segera merogohnya. Tanpa nama. Aku menjawab panggilannya dan menempelkannya ke telinga.
"Hay" sapa orang di seberang sana.
"Siapa ini?" tanyaku lemah.
"Exactly, this is a lot easier than I thought." Sudah bisa kupastikan orang itu adalah laki-laki gila tadi. Sangat jelas terdengar dari logat bahasa inggrisnya yang tidak biasa. Aku sempat memberinya nomer telepon agar ia bisa mengembalikan uangku. Kuharap orang itu bukan penguntit atau sebagainya yang bisa melacak menggunakan nomer teleponku. "What do you mean, I don't have time to listen dumb from you."
"I can pay back to you anytime. Because I'm here. Right behind you."
Aku berputar cepat dan melihat seorang laki-laki tinggi di samping Finda melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum.
Oh-God, kesialan apalagi ini.

***


The Fate [One person who loves raindrop]


Titik-titik air meluncur deras dan meninggalkan beberapa genangan dalam. Tanah cokelat sudah bergantikan dengan lumpur yang siap menggelincirkan siapa saja yang melintasinya. Tapi Ia tidak mungkin tetap tinggal di sana, menunggu sampai hujan berhenti. Ia menoleh dan matanya memperhatikan jam yang tergantung di dalam toko kecil itu. Ia benar-benar harus segera pergi.
Ia menaruh tas cokelatnya di atas kepala lalu mulai melangkahkan kakinya memasuki genangan air. Kakinya berlari dengan setengah berjinjit, mencoba menyelamatkan sepatunya walau usahanya mungkin akan sia-sia. Kakinya terhenti saat matanya menangkap keberadaan dua anak sedang menunggu di halaman rumah. Meringkuk berdampingan dengan anjingnya yang hanya menoleh tanpa tahu apapun. Salah satu anak itu terlihat lebih besar. Kemungkinan mereka adalah kakak beradik. Mereka memandangi hujan tanpa banyak bicara. Sang adik menoleh polos bertanya pada kakaknya “kapan ayah dan ibu pulang ? Apa mereka baik-baik saja?”. Sang kakak hanya berdeham meyakinkan. Tidak ada pertanyaan lain dari sang adik, ia menutup matanya yang seakan sedang menikmati keadaan di sekelilingnya.
Bagaimana ... ? Bagaimana ia bisa mendengar percakapan mereka ? Jarak mereka memang tidak terlalu jauh, tapi juga tidak mungkin suara mereka akan terdengar dari tempatnya berdiri, apalagi suara hujan itu pasti mengganggu.
Rasa dingin mulai menjalari tubuhnya. Ia melihat dirinya sudah basah kuyup, rambutnya, baju hangatnya, bahkan sampai sepatunya, seluruhnya basah. Sudah berapa lama ia berdiri di sini ?
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangan padanya yang masih sibuk mengamati bajunya yang benar-benar tidak bisa tertolong. Ia mengangkat kepalanya, seorang pria berdiri di hadapannya, dengan sebuah payung hitam besar. Matanya tajam tetapi juga muram... walaupun pertama kali ia melihat mata itu, ia yakin pria di depannya itu... mungkin orang yang tulus. Siapa dia ?
Pria itu tersenyum padanya, bibirnya membentuk garis lengkung sempurna. “Cepatlah, kau sudah basah kuyup.”
Ia meraih tangan pria itu, walau ia sama sekali belum mengerti apa mau pria itu. Tangan itu terasa hangat... sangat. Serasa kebekuan yang dirasakannya beberapa saat lalu, menghilang dalam sekejap. Tubuhnya tertarik masuk dalam rengkuhan payung hitamnya. Lalu mereka berjalan mendekati tempat dimana dua anak tadi berada. Pria tadi menyelimutinya dengan handuk besar yang hangat, entah dari mana ia mendapatkannya. Ia bisa melihat dua anak tadi masih dalam posisi yang sama tidak jauh dari mereka. Tapi sepertinya keberadaan mereka sama sekali tidak mengganggu dua anak itu. Mereka tetap bergeming seperti menikmati keadaan.
“Kau tahu siapa mereka?”  tanyanya pada pria di sampingnya
Pria itu hanya berdeham seperti yang dilakukan sang kakak pada adiknya.
“Kau tinggal di sekitar sini ?”
Pria itu berdeham sekali lagi.
“Lalu kau tahu apa yang sedang dua anak dan satu anjing itu lakukan di luar ?”
Pria itu tersenyum, “Mereka sedang menunggu orang tua mereka pulang bekerja. Dan juga.. menikmati hujan.”
“Menikmati hujan ?”
Kali ini pria itu tidak bersuara, tapi ia masih bisa melihat senyum masih terulas di wajahnya dengan mata tertutup. Seperti ketika orang sedang menikmati sebuah lagu.
Dengan posisi yang masih belum berubah, pria itu mulai menggumam, seperti dalam tidurnya. “Aku suka hujan. Aku suka mendengar bunyi hujan yang jatuh...sejak kecil. Karena itu aku selalu menantikan hujan.”
“Huh?” desahnya tidak mengerti. Ia kemudian kembali memperhatikan dua anak di sana, dan kemudian mulai terfokus pada sang adik. Ekspresinya... Ia memutar kepalanya dan memperhatikan pria di sebelahnya. Ekspresi wajah mereka sama, hampir sama persis. Sebenarnya siapa pria itu ? Apa hubungannya dengan dua anak itu ?
“sebenarnya kau siapa?” tanyanya penasaran sekaligus curiga. Ia melihat pria itu membuka matanya lalu menatapnya dengan serius. Seketika ia bisa merasakan darahnya mengalir lebih cepat. Pria itu kembali tersenyum tanpa ada satu katapun keluar dari mulutnya selain “sampai berjumpa kembali”.

lloviendo [Chapter 2]



Welcome to Madrid, Spanyol...
Akhirnya setelah perjalanan hampir 18 jam dari Indonesia, Viena menginjakkan kakinya di Adolfo Suárez Barajaz Madrid International Airport. Seluruh badannya terasa pegal akibat duduk terlalu lama selama di pesawat. Sekarang ia benar-benar butuh rebahan sebelum tubuhnya remuk. Syukurlah ia sudah sampai dengan selamat walau tadi sebelum berangkat ia khawatir setengah mati. Ini pengalaman pertamanya naik pesawat. Bagaimana kalau terjadi turbulensi atau bahkan hal yang lebih mengerikan?
Ia meregangkan tangannya ke atas lalu mendesah puas. “SPANYOOOOL!!!”
Orang-orang yang berlalu-lalang melewatinya, diam-diam mengamati dengan tatapan aneh dan curiga. Biarlah, toh orang-orang itu tidak akan mengerti ucapannya. Ia ingat ia harus menelepon Papa segera. Tangannya seketika merogoh saku celana dan menarik paksa ponselnya keluar dari tempat sempit itu. Setelah menekan beberapa tombol disana, ia mendengar serentetan nada sambung tanpa henti. Tumben, Papa tidak langsung menjawab. Biasanya Papa langsung menjawab di nada sambung kedua.
“Halo.. oh Papa. Kenapa telat sekali menjawabnya? Aku sudah sampai.. oh.. Abuela sakit? Lalu?.. oh ya aku mengerti.. aku harus kemana?.. oke.. ya Papa, tidak masalah. Yasudah aku tutup telponnya. Bye.”
Ia berkacak pinggang lalu bergumam. “Oke.. Karena Papa harus menjenguk Abuela, itu artinya aku harus di Spanyol sendirian selama dua hari ke depan. Setidaknya aku masih punya tempat tinggal. Masalah yang lain kuatur setelahnya.” Senyum masam mengembang di bibirnya. Keadaan ini memang sangat..tidak baik. Tapi mau bagaimana lagi?
Ia menekuk lengan bajunya sampai ke siku lalu mengenakan topi warna abu-abu yang sedari tadi menggantung di tasnya. “SEMANGAT !” katanya pada dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan di depan wajah. Kakinya mantap melangkah ke luar dari bandara.
 ***
“Miss. Anda yakin ini tempatnya?” tanya supir taksi dengan suara parau. Pria berjanggut putih itu menatap cemas ke arah luar melalui jendela. Untunglah Viena mendapatkan jasa taksi yang supirnya fasih berbahasa Inggris. Jadi, ia tidak perlu menggunakan bahasa tubuh untuk menerangkan segala sesuatu.
“Bukankah ini tempat yang kusebutkan tadi, sir ?”
Supir itu mengangguk pasrah. “Kau sepertinya orang baik.”
“Huh?” Viena mengernyit tidak mengerti. Kenapa juga ia berkata seperti itu?
“Tidak apa-apa.” Jawabnya singkat.
Viena memandang ke luar jendela sekali lagi. Sampai Papa kembali, ia diminta tinggal di hotel tempat Papa bekerja. Supaya setidaknya ia terurus dengan baik oleh pelayanan dari hotel. Banyak staff hotel yang mengenal baik Papa sehingga Papa tidak akan mengkhawatirkan keadaannya selama pergi.
Tidak ada masalah dengan hotel itu. Bangunan besar dan indah itu tampak sangat terawat, baginya tidak ada yang perlu dicemaskan.
Ia tiba-tiba ingin menarik kata-katanya kembali saat teringat dengan bangunan-bangunan yang dilewatinya sejak memasuki kawasan ini. Sepertinya banyak sekali bar di sekitar hotel. Jangan sampai ia bertemu dengan pria-pria tua yang sedang mabuk. Jangan sekali pun! Viena mengatupkan kelopak matanya erat sebelum bayangan menakutkan hasil imajinasinya terlihat jelas. Ia hanya perlu diam di kamar selama dua hari dan ia tidak perlu khawatir bertemu dengan pria tua tukang mabuk.
“Hati-hatilah.” saran supir taksi setelah menerima uang dari Viena.
“Kumohon, jangan membuatku tambah cemas.” pinta Viena dalam hati.
Viena membalikan tubuhnya dan mengamati dengan hati-hati bangunan besar di hadapannya. Beberapa pria terlihat keluar dari hotel. Mereka menggunakan pakaian serba hitam. Dua orang di bagian paling belakang menggunakan tuxedo hitam dan kacamata hitam. Mereka terlihat seperti pengawal. Lalu ada satu pria yang juga mengenakan tuxedo hitam sedang menenteng dokumen di salah satu tangannya. Beberapa kali ia terlihat menoleh ke samping lalu seperti membisikkan sesuatu, mirip seorang sekertaris atau mungkin asisten. Dan yang satu lagi, pria tua dengan janggut putih panjang. Ia menggunakan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu merah. Kepalanya ditutupi topi besar yang juga berwarna hitam. Tangannya memegang tongkat yang kadang-kadang digunakan untuk membantunya berjalan atau menunjuk ke suatu arah untuk... memerintah ? Pria tua itu mengarahkan tongkatnya ke pintu mobil limosin hitamnya yang terlihat berkilau. Lalu segera saja dua pengawal yang ada di belakangnya langsung menghambur ke arah mobil dan membukakan pintu untuknya.
Viena terperangah untuk beberapa saat. Matanya mengerjap tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Pemandangan itu tidak hanya sekali tetapi berkali-kali. Dan semuanya sama persis. Pengawal, sekertaris, bos dan mobil limosin. Baginya mereka seperti sekumpulan mafia yang baru saja selesai dari sebuah pertemuan gelap, seperti di dalam film yang pernah ia tonton.
Pandangan Viena kini tersita pada sebuah papan kecil di depannya. Sepertinya penunjuk arah parkir. Tepat di bagian bawah papan tertulis “Iliabeny Hotel”. Sama seperti yang dituliskan Papanya lewat email. Tapi hatinya masih belum tenang. Entah kenapa ia sangat yakin hotel di depannya itu bukan hotel yang ia maksud. Sekilas ia melihat serentetan huruf kapital tertulis indah di pintu masuk hotel yang terbuat dari kaca ukuran jumbo. ILIABENY HOTEL.
“Ilia – beny .” ejanya lirih tak terlalu yakin. Segera ia memeriksa isi email yang dikirimkan Papa tadi pagi. “Bagaimana cara membaca yang satu ini? Iliabeny juga kan? atau... ” Ucapannya terhenti setelah otaknya mulai menangkap sesuatu yang aneh dari kedua tulisan itu. “Jangan-jangan yang dimaksud Papa LLIABENY HOTEL ! bukan ILIABENY HOTEL !” teriaknya kesal. Setelah perjalanan jauh yang membuat seluruh badannya terasa hampir remuk, lalu Papa mendadak harus pergi dan menyuruhnya menginap di hotel sementara waktu, kemudian ia pergi ke hotel – yang dipenuhi orang-orang aneh dan menakutkan – yang salah hanya karena ia keliru melihat satu huruf. Kedongkolannya benar-benar sudah membuncah sampai ke ubun-ubunnya. Rasanya ingin sekali ia berteriak sekuat mungkin menggunakan tenaga terakhir yang ia punya. Tapi rasanya itu juga tidak mungkin mengingat tenaganya yang benar-benar hampir habis. Ia lebih baik menggunakannya untuk mencari taksi lalu pergi dari tempat mengerikan itu.
***
Kenapa banyak sekali bar di sini ?
Viena memandang sekitarnya sambil bergidik ngeri. Matanya dapat melihat dengan jelas puluhan bar berbaris rapi di sepanjang jalanan. Mungkin karena masih siang sehingga tidak terlihat pengunjung di bar-bar itu. Jalanannya pun sangat lengang. Hanya beberapa mobil limosin yang terlihat lalu lalang. Itu pun sudah 15 menit yang lalu. Ia kini bisa melihat jalan lurus dengan tanah kering yang terasa sangat panas karena terpapar sinar matahari.
Ia menarik kopernya dengan lebih kuat sambil mempercepat langkahnya. Ia harus  mendapatkan taksi dan pergi dari tempat ini segera.
“Kenapa tidak ada taksi yang lewat daerah sini ?” gerutu Viena sambil beberapa kali menoleh. Siapa tahu ada taksi dari arah belakangnya.
Begitu ia menoleh kembali, langkahnya seketika terhenti. Keringat dingin mulai mengucur deras. Tubuhnya membeku dan agak gemetar. Pandangannya tak lepas dari sekumpulan pria paruh baya dengan tampilan yang agak berantakan berdiri di depannya.
Mereka memasang senyuman yang jelas-jelas membuat Viena justru ketakutan setengah mati. Apa mereka sedang mabuk ? Oh, God.
Salah satu pria yang mengenakan jaket kulit lusuh mulai melangkah mendekati Viena. Ia mengamati Viena teliti tanpa melepaskan seringainya. Ia berdeham pelan. “Kenapa buru-buru begitu ?” Ia mengulurkan tangannya hendak merangkul pundak wanita yang berdiri kaku di depannya namun wanita itu segera mundur dengan ketakutan.
Untunglah kaki Viena masih dapat digerakkan walau dengan susah payah. Hampir saja pria itu menyentuhnya. Sekarang ia harus segera mencari jalan untuk kabur dari kumpulan pria menakutkan di depannya.
Pada saat yang sama, seorang pria keluar dari mobil hitam yang sejak tadi terparkir di depan sebuah bar, yang tidak jauh dari tempat Viena berdiri. Tangannya masih menempelkan ponsel di telinga. “Aku tidak mau, sudah berapa kali ku bilang.” Viena sontak menoleh mendengar seseorang berbicara dengan bahasa yang ia mengerti, di tempat yang se-asing ini. Viena menyipitkan matanya agar dapat mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari pria itu. Ia tidak terlihat seperti tiga pria di depannya. Tampilannya benar-benar stylish dan rapi. Ia juga jauh lebih muda di banding pria-pria mengerikan itu. Jadi, tidak mungkin pria muda itu salah satu dari komplotan mereka.
Pria mabuk itu kembali mencoba mendekati Viena. “Kau sendirian ? Bagaimana menemaniku saja ? Aku sama sekali tidak keberatan.”
Viena memang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dikatakan pria itu. Tapi dari wajahnya, ia yakin pria itu berencana buruk terhadapnya. Ia benar-benar harus segera kabur. Tapi bagaimana caranya ? Mereka pasti akan mengejar jika ia lari.
Tidak ada cara lain.
Tanpa berpikir panjang ia berlari ke arah pria yang berdiri tidak jauh darinya lalu merangkul lengannya. Pria itu sempat terperanjat namun tidak mendorong Viena untuk menjauh.
“Kumohon.. Tolong aku..”
 ***
Al mematikan mesin mobilnya lalu mengangkat ponselnya dengan kesal. Kenapa mereka terus menghubunginya ? Sudah puluhan kali orang itu meneleponnya hari ini. Telinganya serasa akan meledak jika mendengarkan suara ponselnya sekali lagi.
“Ada apa lagi ?” tanya Al sambil bersungut.
Ia membuka pintu mobilnya lalu melompat keluar. “Aku tidak mau, sudah berapa kali ku bilang.” Bisakah manajer hotel itu tidak terus-terus memaksanya melakukan semua hal ? Ia bahkan bukan orang tuanya. Tapi setiap kali ia membantah permintaannya, manajer hotel itu akan mengadukannya kepada Papanya. Sungguh... Kalau saja ia bukan pegawai kesayangan Papanya, ia sudah pasti akan memecatnya dari hotel.
Ia mendesah pelan, menyerah pada bujukan manajer hotel untuk menghadiri acara besar nanti malam di hotel. “Yasudah, aku akan datang. Tapi hanya kali ini.” Ia menutup ponselnya lalu melemparkannya ke kursi kemudi. Badannya ia sandarkan pada sisi mobil hitam berkilapnya sambil menunduk.
Huh... Malam nanti ia harus menghadiri pesta besar di hotel. Itu artinya ia harus menyambut tamu-tamu penting Papanya sebagai pewaris hotel. Ia membenci kenyataan bahwa ia harus mewarisi hotel itu. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mengambil alih hotel Papanya.
Ia baru akan meraih pegangan di pintu mobil sebelum seseorang meraih lengannya. Ia tersentak dan segera menoleh. Seorang wanita merangkulnya kuat. Siapa wanita ini ? Kenapa tiba-tiba merangkulnya ? Apa maunya ?
Rasa kesal yang beberapa saat menyelimuti dirinya langsung padam saat melihat wajah wanita itu yang ketakutan. Bagaimanapun ia tidak tega memarahi atau mendorong wanita itu menjauh.
Tiga pria dengan tampilan berantakan memandangi keduanya dengan tatapan sinis. Al mengangguk pelan dan mulai mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Ternyata pria-pria itu yang membuat wanita ini ketakutan. Mereka tidak terlihat asing bagi Al. Kalau tidak salah mereka adalah pekerja di salah satu bar dekat sini.
“Hey..” sapanya pada komplotan itu sambil tersenyum menyeringai. Tanpa perlawanan pria-pria itu melangkah pergi dengan wajah kesal. Sudah tentu mereka bisa mengenalinya sebagai putra Papanya – yang terkenal sebagai salah satu pemegang kendali di wilayah ini –. Itu sebabnya mereka tidak berani berurusan dengannya.
“Mereka sudah pergi. Sekarang lepaskan aku.” kata Al dingin.
***
Viena perlahan melepaskan lengannya dan menjauhi pria itu. Pria yang awalnya nampak baik karena bersedia membantunya tetapi ternyata aslinya sangat dingin.
“Terima kasih.” gumamnya lirih.
Pria itu beranjak pergi namun ia kembali menarik lengannya. Bukankah pria itu orang Indonesia ? Ia tidak boleh melewatkan kesempatan bagus ini. Mungkin saja pria itu bisa membantunya lagi walau kemungkinannya sangat kecil setelah ia tahu pria itu ternyata sangat dingin dan tidak terlalu ramah.
“Bukankah kau orang Indonesia ? Tadi aku mendengarmu berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Wajahmu juga terlihat seperti orang Indonesia walau mungkin kau punya keturunan Eropa.”
Pria itu menoleh dengan tatapan sinis. “Apa maumu ?”
“Tolonglah aku... aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku tersesat jadi bisa tolong kau beri aku tumpangan atau setidaknya membantuku mencari taksi ? Aku tidak melihat taksi melintas sejak tadi. Jadi...”
“Kau hanya perlu mengikuti jalan itu.” Kata pria itu sambil menudingkan jarinya lalu melengos pergi tanpa menunggu jawaban apapun dari Viena.
“Oh terimakasih... eh!” Tiba-tiba tangannya terasa ditarik dengan keras sehingga membuatnya terasa sangat sakit.
“Kenapa kau mengikutiku lagi ? Bukankah aku sudah menunjukkan jalannya ? Kau harus segera pergi dari sini.” tanya Pria itu sedikit kesal.
Viena mendengus kesal. Apa pria itu pikir ia ingin terus mengikutinya kalau tidak karena gelangnya tersangkut pada jam tangan pria itu ?
Viena mengangkat tangan kanannya yang juga membuat tangan kiri pria itu ikut terangkat. “Lihat ? Aku tidak ingin mengikutimu kalau bukan karena ini.”
 “Lepaskan gelangmu !”
Viena tergelak. “Tidak bisa ! Gelang ini sudah aku kaitkan dengan kencang, jadi hanya bisa dibuka dengan tang atau alat sejenisnya.”
“Kenapa kau melakukan itu ? menyusahkan sekali.”
“Ini gelang pemberian Papa ku jadi aku tidak ingin gelang ini terlepas sebentarpun. Kenapa tidak kau saja yang melepaskan jam tanganmu ?”
“Aku tidak mau. Lagian kalau aku yang melepaskan jam tanganku tidak ada jaminan akan terlepas begitu saja. Gelangmu yang mengait di jam tanganku. Jadi kau yang lepaskan.”
Viena benar-benar tidak habis pikir dengan pria yang dihadapinya sekarang. Bagaimana bisa ada pria se-keras kepala itu ? Ia tidak bisa berdebat terus dengan pria itu, ia harus segera pulang, segera.
Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi mendekat. Sepertinya tidak hanya satu mobil polisi, mungkin belasan ? Suaranya yang menderu keras sontak membuat tempat itu dirundung kekalutan. Puluhan orang berlarian keluar dari bar-bar seperti sedang menyelamatkan diri. Tadi ia pikir tidak ada orang dalam bar-bar itu tapi ternyata dugaannya salah. Syukurlah ia baru menyadarinya dan juga tidak banyak pria lagi yang menganggunya. Tapi kenapa mereka berlarian? Apa mungkin polisi-polisi itu seperti Satpol PP di Indonesia ?
“Hey !” suara pria di depannya seketika membuyarkan lamunannya. “Kalau kau tetap di sini kau tidak akan selamat.”
Tidak selamat ? Apa maksudnya ? Kenapa ia harus ikut lari ? Ia bukan kriminal seperti orang-orang dalam bar itu. Belum sempat Viena mengelak bahkan bertanya, pria tadi menggenggam tangannya dan menariknya pergi sebelum belasan polisi turun dari mobil dan mengejar semua orang.
***
Setelah berlari kurang lebih sepuluh menit akhirnya mereka berhenti di sebuah lorong sempit. Al beberapa kali menoleh ke belakang memastikan sudah tidak ada polisi yang masih mengejar mereka. Syukurlah.. sepertinya usaha melarikan diri mereka sukses. Al menyandarkan tubuhnya di tembok lorong. Napasnya masih terengah-engah. Ia sesekali menoleh ke arah wanita di sampingnya. Wanita itu tampak pucat dan sangat kelelahan. Walau ia benci bertingkah seperti pahlawan di depan wanita, tapi tidak mungkin ia membiarkan wanita itu pingsan di sini. Ia harus melakukan sesuatu. Ia merogoh saku celananya beberapa kali tapi tidak menemukan apa yang dicarinya. Dimana ia meletakan ponselnya tadi ? Oh.. tidak. Ponselnya ada di dalam mobil.
Al kembali menoleh ke arah wanita di sampingnya. Kenapa dengan wanita ini ? Ia tidak berani menoleh ke arahnya. Apa ia gugup ? Al melihat tangannya masih menggenggam tangan wanita itu lalu segera melepaskannya dengan canggung. “Pantas saja.” pikir Al.
Ia hanya menggenggam tangannya. Kenapa harus gugup begitu ? Oh benar, ia bukan wanita Spanyol. Budaya barat dan timur sudah pasti berbeda.
Al tidak terlalu tahu mengenai kehidupan di Indonesia. Walau ia keturunan Indonesia, tapi ia jarang mengunjungi negara itu. Seluruh keluarga besarnya sudah lama menetap di Spanyol. Ia menggunakan bahasa Indonesia hanya pada keluarga besarnya dan manajer hotel itu. Pak Sam – manajer hotel – adalah orang Indonesia yang bekerja pada Papanya dan akhirnya diangkat menjadi manajer hotel.
 “Namaku Al. Al Kohler.”
Al mengernyit. Wanita itu tertegun setelah mendengar namanya. “Boleh aku pinjam ponselmu, señorita?”
“Tidak usah memanggilku señorita. Namaku Loviena. Panggil saja Viena.” jawab Viena sambil merogoh sakunya.
“Oh Tuhan !! Koperku !! Koperku pasti tertinggal di sana.” teriak Viena setelah sadar kopernya tidak ada di sekelilingnya. “bagaimana ini ?”
Al mengadahkan tangannya. “Tenang saja, kau hanya perlu meminjamkan ponselmu padaku.”
“Bagaimana kalau koperku disita polisi-polisi itu ?” Viena tidak bisa membayangkan ia harus berurusan dengan polisi di negara yang sama sekali belum pernah ia datangi. Ini benar-benar mimpi buruk.
“Tentu saja. Mobilku juga. Sekarang bisakah kau serahkan ponselmu ?”
Mobilnya disita dan ia tidak khawatir sedikitpun ? bagaimana bisa ? Apa ia sudah gila ? Viena mengacak rambutnya frustasi. “Mobilmu disita dan kau masih bisa setenang itu ? Lalu bagaimana dengan koperku ? Pakaian dan perlengkapanku ada di sana semua.”
“Bisakah kau tidak sepanik itu ? Sudah kubilang pinjamkan saja ponselmu. Aku akan membantumu menemukan kopermu tanpa berurusan dengan polisi. Mobilku juga. Kau sudah bisa tenang sekarang ?” Nada bicara Al terdengar meninggi kali ini. Wanita itu benar-benar sudah membuat Al kesal.
Dalam satu sentakan, Al mengambil paksa ponsel dalam genggaman Viena lalu memencet beberapa tombol di sana. Ia tidak peduli bagaimana Viena akan menganggapnya setelah ini.
“Halo.. aku tidak apa-apa.. bisakah kau urus mobilku ? tadi aku tidak sempat menyelamatkannya... oh ya koper milik temanku juga sepertinya ikut dibawa mereka, bisa kau mengurusnya juga ?.. ohh.. aku ada di dekat casino milik Papa.. oke.”
Al menutup ponsel itu lalu mengembalikannya pada Viena. Keadaan wanita itu sudah semakin buruk sekarang. Ia harus mencari tempat istirahat segera. Kalau menunggu manajer hotel atau orang suruhannya datang, pasti akan memakan waktu yang lama. Sebaiknya mereka menunggu di casino milik Papa nya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang. Lagian ia juga sering mampir ke tempat itu, jadi ia sudah mengenal baik pekerja disana. Semoga saja wanita ini tidak anti dengan casino. “Ayo.. sebaiknya kita pergi.”
***

Like a star [Chapter 1]



15 Juni 2013
Junho menatap lurus ke arah bayangannya di dalam cermin. Wajahnya yang sangat kusam beberapa menit yang lalu, sudah berpoles sedikit make up yang membuat penampilannya kembali terlihat segar. Walaupun begitu tubuhnya tidak bisa berbohong. Dia bahkan menguap berkali-kali selama make-up.
Lee-Junho, artis ngetop sepenjuru Korea Selatan. Tidak ada orang yang tidak mengenalnya dan beberapa anggota lain grup 2PM. Grup yang terkenal dengan anggota-anggotanya yang super manly, tampan, dan tentu saja pujaan semua wanita, termasuk juga Junho. Berpostur tubuh tinggi dan atletis, wajah yang tampan dengan berhiaskan eye smilenya, membuat banyak tawaran film, drama, sampai iklan datang menghampirinya.
 “Junho, segera bersiap-siap ! Sebentar lagi kita take.” kata Sutradara Shin sambil menunjuk-nunjuk jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Junho menganggukan kepalanya tanda mengerti ke arah pria paruh baya bertopi merah di seberang.
Hari ini Junho sedang sibuk menyelesaikan musik video single solo karirnya. Saking sibuknya semalam dia hanya –benar-benar- tertidur selama dua jam. Untunglah make up bisa menutupi bayangan hitam di bawah matanya. Dia sama sekali tidak berniat meninggalkan grupnya dengan aktivitas solo karirnya ini. Dia hanya sedang ingin lebih menunjukkan bakatnya. Banyak orang yang menganggapnya mirip dengan bintang nge-top ‘Rain’. Dia ingin orang-orang mengenal dirinya sebagai Lee Junho bukan seseorang yang mirip Rain. Selama ini dia juga merasa dirinya kurang percaya diri dibanding anggota 2PM yang lain. Maka dari itu inilah kesempatannya untuk menunjukkan bakat-bakat dirinya.
“Sudah selesai Junho.” kata wanita berumuran 30 tahunan dengan rambut ikal yang bertugas merias Junho. “Terimakasih Yoon-sshi.” Junho meninggalkan meja riasnya kemudian bergegas menghampiri Sutradara Shin.
“Oh, kau sudah selesai ?” ucap Sutradara Shin setelah menyadari Junho sudah berada di sampingnya. “Kalau begitu kita lanjut lagi syutingnya.” lanjut Sutradara Shin cepat.
5 jam kemudian.
“Oke cut ! sampai disini kerja kita. Terimakasih atas kerja keras semuanya.” Kata-kata Sutradara Shin barusan menandai agenda syuting panjang – dan melelahkan – akhirnya selesai. Tetapi agenda panjang selanjutnya harus siap dihadapi Junho. Promo dan Tour di Jepang.  Junho akan melewati 1 tahun ini dengan kesibukan oleh pekerjaannya. Mungkin juga dengan kesepian dan kebosanan. Selama promo dan tour dia akan dikelilingi oleh beribu-ribu fansnya, itu bukan berarti dia bisa melepaskan dirinya dari kesepian dan kebosanan. Satu tahun tanpa bermain dan bersenang-senang, Junho harus menghadapi satu tahun itu demi karirnya.
“Hey, Junho !!!!” Seseorang menepuk keras pundak Junho dari balik tubuhnya. “Taecyeon ! Kenapa kau ada di sini ?” tanya Junho segera setelah mengenali pria berpostur tubuh sempurna di sebelahnya.
“Kenapa ? Aku kesini untuk menyemangati proyek solo karirmu,  kau ini bagaimana ?” kata Taecyeon dengan nada menggoda. “Oh ya ? Tapi syutingku hari ini sudah selesai. Kau telat.”
Junho mulai berjalan menuju ruang ganti. Taecyeon mengikutinya dari belakang. “Maaf, Bro ! Tadi aku harus menyelesaikan masalah bisnis dulu. Oke sebagai permintaan maafnya aku traktir kau makan di restoran enak dekat sini, bagaimana ?”
Junho menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Taecyeon. “Deal !”
“Oh bagaimana proyek solo karirmu kali ini ?” tanya Taecyeon tidak lama setelah pesanan makanan sampai di meja mereka.
“Aku berharap ini akan sukses. Lagu-lagunya sendiri aku sangat menyukainya. Semoga saja banyak yang menyukainya.”
Taecyeon berhenti menggerak-gerakan sumpitnya dan memfokuskan tatapannya pada Junho yang sibuk memasukan makanan ke mulutnya. “Mini album ini akan dipasarkan di Jepang, benar kan ?” Junho menengangguk mengiyakan.  “Waah, kau pasti akan sangat sibuk. Waktu kita bersantai juga akan berkurang. Apa kau tidak masalah dengan itu?”
Junho beberapa saat bergeming setelah mendengar ucapan Taecyeon. “Aku baik-baik saja. Aku yakin bisa mengatasi itu semua. Lagian aku juga akan bersenang-senang bersama fans-fansku, lalu apalagi yang ku khawatirkan ?”
“Tapi Junho, setiap orang pasti ingin memiliki waktu privasi. Mungkin setahun kedepan kau tidak memiliki banyak yang seperti itu. Kau tidak kesepian atau kebosanan?”
“Semoga tidak.” Jawab Junho singkat lalu kembali melahap makanan di hadapannya.
“Oh hey, di mini albummu tidak salah single utamanya menceritakan seseorang yang jatuh cinta kan ? kau tidak berpikir kau akan segera jatuh cinta?” goda Taecyeon.
“Eisssh, kau ini bisanya menggoda dan mengusikku saja !” kata Junho sambil berpura-pura kesal. Kemudian mengarahkan sumpitnya menuju mangkuk milik Taecyeon dan mengambil daging di atasnya. “hey, itu daging milikku kenapa kau mengambilnya ?” Junho mati-matian menahan tawa tapi gagal karena melihat ekspresi Taecyeon “itu balasan bagi orang yang berani mengusikku dan menggodaku. hahaha”
“atau jangan-jangan kau sedang jatuh cinta ya ? Lagu itu kau yang tulis sendiri.” Junho menepuk keras pelipis Taecyeon  “Akk.”
“Aku tidak sedang jatuh cinta. Puas kau sekarang ?” Taecyeon membalas ucapan Junho dengan cekikan. “Kau tidak percaya ? Aku menulis itu sambil membayangkan aku sedang memiliki kekasih.”
“Oh..” Taecyeon mengangguk-angguk kepalanya pelan “Sepertinya temanku satu ini sedang  membutuhkan seorang kekasih. Mungkin saja sebentar lagi kau akan menemukan kekasih.”
“Terserah kau saja, Taec”
14 Juni 2013
“hyeonsoo, tolonglaah ...”
Hyeonsoo mendengar seribu kali lebih kata-kata itu sepanjang hari ini. Sampai-sampai telinganya hampir pecah saking bosan mendengarnya. Hyeonsoo menatap sinis wanita yang duduk dihadapannya. Wanita itu memasang wajah memelas dan memohon agar Hyeonsoo iba dan akhirnya mau membantunya.
“Jinseo, sudahlah. Aku sangat lelah mendengarmu memohon sepanjang hari. Aku harus kembali bekerja”
Jinseo teman Hyeonsoo sejak kuliah. Jinseo selalu saja meminta Hyeonsoo mengirimkan barang-barang aneh untuk idolanya. Beberapa tahun yang lalu ketika dia sangat mengidolakan Rain, dia meminta Hyeonsoo untuk mengirimkannya satu paket makanan dengan pernak-pernik simbol hati di seluruh sisi kotak makanannya. Tentu saja Hyeonsoo menolak. Lalu satu tahun yang lalu, dia meminta Hyeonsoo mengantarkan boneka beruang dengan rajutan namanya di bagian perut boneka itu kepada Yoochun JYJ. Hyeonsoo juga menolak tegas saat itu, menurutnya itu sangat memalukan. Intinya, semua permintaan Jinseo selalu ditolak Hyeonsoo. Jinseo selalu saja beralasan tidak bisa mengantarkannya sendiri. Harus mengantar ibu belanjalah, ada janji dengan teman lesnya lah. Hyeonsoo tau sekali Jinseo tidak berani mengantarkannya sendiri. Dia orang yang pemalu.
Hyeonsoo sendiri tidak mau mengantarkan barang-barang itu bukan karena malu, tetapi karena dia sangat tidak tahan berada sekitar fans yang selalu menjerit histeris saat melihat sosok idolanya. Terlalu berisik baginya.
“Hyeonsoo, tolonglaah...” pinta Jinseo sekali lagi. “Tidak mau.” jawab Hyeonsoo cepat. “Ayolah Jinseo... aku sudah susah payah merajut syal merah untuk Junho Oppa.” Jinseo membuka kotak cokelat dan mengambil sesuatu di dalamnya. “Kenapa ada dua syal ?”
“Ini satu untuk Junho Oppa karena dia sedang mempersiapkan solo karirnya. Yang satu lagi...” Jinseo menghentikan kalimatnya dan tersenyum tersipu malu. “ini untuk Jaehoon Oppa yang sedang mempersiapkan pertandingannya.”
Hyeonsoo membelalakan matanya tidak percaya.“Siapa?? Jaehoon ? Pria yang sering kau ceritakan belakangan ini ? Kau yakin ?” Jinseo mengeluarkan satu kotak lagi dari dalam tasnya dan mulai memasukkan kedua syal di masing-masing kotak. Lalu mengikatnya dengan pita warna merah hati. “Iya, Aku ingin mengatakan perasaanku langsung ke Jaehoon Oppa. Aku tidak mau terus-terusan menjadi wanita yang pemalu. Makanya aku meminta bantuanmu mengirimkan yang satu untuk Junho Oppa. Mereka sama-sama berartinya untukku.” Jinseo memberikan salah satu kotak kepada Hyeonsoo yang masih bergeming mendengar pernyataan Jinseo barusan. “Jadi kalau aku tidak mendapatkan satu aku berharap mendapatkan yang lainnya.” canda Jinseo. “Dasar gadis licik.” gumam Hyeonsoo lirih. Jinseo yang mendengarnya hanya tertawa cekikian. “Besok kau tidak kerja kan ? Bisakah kau mengantarkannya pukul 9 ? Tempatnya akan aku beritahukan nanti kepadamu lewat sms.”
Hyeonsoo memandang kotak cokelat dengan hiasan pita merah di genggamannya. Dia melihat sepucuk surat terselip di atas kotak itu. “Oh ada suratnya juga ? Dia pasti menulisnya dengan baik. Anak itu itu pandai menulis kata-kata romantis.” ujar Hyeonsoo lirih. Tapi entah kenapa ketika melihat kotak itu timbul perasaan aneh di hati Hyeonsoo. “Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk.” gumam Hyeonsoo dalam hati. “Tapi Jinseo, aku belum bilang kan aku akan mengantarkan ini ?” Tanpa disadari Hyeonsoo, Jinseo sudah berada di ambang pintu kafe. Jinseo sudah tentu tidak bisa mendengarnya. Lalu bagaimana ini ?
Hyeonsoo menyusuri jalan sempit menuju rumahnya. Mungkin sekarang ini sekitar pukul 7 malam. Seharusnya dia selesai bekerja pukul 6 tapi karena harus mengurus suatu hal jadi dia terlambat pulang. Selama perjalanan pulang, dia tidak menemui banyak orang yang melintas. Mungkin orang-orang sedang menghabiskan waktu di taman pusat kota. Tetapi tiba-tiba matanya menangkap bayangan Jinseo dari balik kaca sebuah kafe. Jinseo bersama dengan seorang pria yang tidak terlalu dikenali oleh Hyeonsoo. Apakah orang itu Jaehoon ?
Beberapa menit kemudian pria itu berjalan keluar dari kafe dan meninggalkan Jinseo di belakang. Hyeonsoo bisa melihat kesedihan di raut wajah Jinseo saat itu. “apa ini artinya dia ... oh kasihan sekali Jinseo. Pasti sangat sedih apalagi dia benar-benar berusaha keras untuk menyatakan perasaannya..” gumam Hyeonsoo dalam hati. Hyeonsoo kembali memandangi kotak cokelat dipelukannya yang tadinya akan dikembalikan kepada Jinseo. “Mungkin kali ini aku harus membantunya. Kalau yang satu tidak dapat mungkin bisa dapat yang lain untuknya.”
15 Juni 2013
Keesokan harinya seperti perintah Junseo, pukul 9 Hyeonsoo bergegas menuju lokasi syuting musik video Junho. Dengan menggunakan bis, dia bisa sampai ke lokasi dalam lima belas menit. Seperti perkiraan sebelumnya, puluhan fans berjejal memenuhi pintu masuk lokasi. Dan tentunya dengan teriakan-teriakan histeris yang paling anti didengar Hyeonsoo. Beberapa kali Hyeonsoo menghela nafas panjang dan menghembuskannya keras berharap fans-fans itu mendengar dan berhenti membuat kericuhan.
Junho sedang syuting di dalam sebuah rumah. Mungkin konsep musik videonya kali ini tentang cinta yang romantis. Rumah yang digunakan untuk tempat lokasi syutingnya terlihat sangat cocok untuk sesuatu yang berbau romantis. Semua wanita pasti akan setuju kalau tempat itu rumah itu didesain sehingga terlihat romantis untuk pasangan.
Sudah 15 menit Hyeonsoo menunggu –bersama teriakan fans yang membuat kepalanya agak pening- tetapi Junho belum kunjung keluar dari lokasi. Hyeonsoo sudah beberapa kali berjinjit dan mengintip ke dalam, memang sepertinya syuting belum selesai.
1 jam kemudian. “hey, aku dengar syutingnya sudah selesai.  Sebentar lagi pasti Junho keluar.” Ucap salah seorang fans yang kontan membuat fans-fans lain yang mendengarnya kembali berteriak heboh. Padahal baru beberapa menit Hyeonsoo berhasil mengistirahatkan pendengarannya.
Kemudian seseorang keluar dari lokasi syuting dengan topi dan jaket tebal. Fans langsung membuat kerumunan disekitar orang itu. “Junhoo...Junhoo...Junhoo..” Semua fans langsung percaya orang itu adalah Junho walau wajah yang terlihat sangat tidak jelas karena tertutup kacamata, topi, dan jaket tebalnya.
Hyeonsoo terjepit diantara fans-fans yang berdesak-desakan ingin memberikan hadiah kepada Junho, atau sekadar melihat dan menyapanya. Orang itu menerima bingkisan-bingkisan hadiah dari beberapa fans. Hyeonsoo berkali-kali berusaha mengulurkan hadiahnya tapi justru terkena dorongan dan pukulan. Hyeonsoo belum sempat memberikan bingkisan milik Jinseo saat orang itu sudah masuk ke dalam mobil lalu segera menghilang dari pandangan.
“Hadiah milik Jinseo bagaimana ???” Hyeonsoo terkulai lemas ke lantai sambil melemparkan ekspresi wajah sebal, putus asa, kecewa, dan minta dikasihani. Beberapa fans didekat Hyeonsoo melihatnya dengan tatapan ngeri sekaligus bergidik lalu pergi menjauhinya.
10 menit Hyeonsoo belum juga bangkit dari posisinya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat sekelilingnya yang sudah sangat sepi. Lalu dia bangkit dan membetulkan letak tas punggungnya. “bagaimana ini ?” gerutunya sambil melihat bingkisan di tangannya. Tanpa sengaja tatapan matanya terhenti pada salah satu pergelangan tangannya.  “Dimana gelangku ?????” Hyeonsoo langsung menyisir setiap penjuru arah. “Pasti tadi terjatuh saat aku berdesakan dengan fans-fans gila tadi.” Di sebelah pot bunga terlihat barang yang menyita perhatiannya, barang itu berkelip-kelip. “Oh disitu rupanya.” Hyeonsoo memungut gelangnya dan melihat pengaitnya rusak sehingga dia tidak mungkin memakainya sekarang. Dia membuka sedikit bingkisan milik Jinseo dan memasukan gelangnya ke dalam. “sepertinya sudah tidak ada gunanya aku disini. Sebaiknya aku pulang.”  ucap Hyeonsoo sambil melangkah pergi, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya menangkap dua sosok pria berjalan menjauhi lokasi syuting yang sudah sepi.
Salah satu pria berhenti dan memperhatikan tingkah Hyeonsoo yang celingukan heran sambil menunjuk dirinya dan menujuk ke suatu arah.
“Junho-ssi ?” tanya Hyeonsoo dengan mata terbelalak lebar. Pria itu tidak menjawab dan hanya menatap Hyeonsoo heran. “Kau benar Junho-ssi kan ? Lalu yang tadi siapa ?” Junho akhirnya mengangguk pelan.
“Dia fansmu ?” tanya Taecyeon pada Junho lirih. “Mungkin.” Junho menjawab dengan nada berbisik.
“Waaaa, akhirnya ! Aku mencarimu dari tadi.” Hyeonsoo berjalan mendekat ke arah Junho dan Taecyeon yang masih bergeming. Kemudian Hyeonsoo mengulurkan hadiah di tangannya ke arah Junho. “Ini untukmu. Selamat berjuang untuk solo karirmu. Semoga sukses.” Setidaknya itulah yang harus dilakukan Hyeonsoo saat menyampaikan bingkisan itu. Jinseo menuliskannya secara lengkap di sms-nya tadi pagi bersama dengan alamat lokasi syuting. Hyeonsoo memaksakan senyumnya –yang sama sekali tidak manis– selama  beberapa detik. Setelah bingkisan itu berpindah tangan ke Junho, Hyeonsoo secepat kilat membalikkan tubuhnya dan menghembuskan napas kuat-kuat. “Melelahkan sekali.” gerutu Hyeonsoo lirih yang ternyata terdengar jelas di telinga Junho dan Taecyeon.
“Kau yakin dia benar-benar fansmu ?” tanya Taecyeon dengan nada curiga. “Entahlah.” Jawab Junho sambil terus memandang Hyeonsoo yang semakin menjauh.
Kling...
Bel yang dipasang di pintu masuk Kafe bergerak saat seseorang wanita – dengan tampilan chicnya – membuka pintu. “Hyeonsoo !!” Wanita itu memanggil Hyeonsoo yang sedang membersihkan konter pemesanan makanan dengan cukup keras. Sore itu sudah tidak banyak pengunjung yang datang. Kedatangan dan teriakan Jinseo cukup membuat Hyeonsoo terkejut dan hampir menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.
“Jinseo ! Kau tidak perlu berteriak seperti itu di tempat sunyi seperti ini !.” sungut Hyeonsoo sambil menaruh kembali gelas yang baru saja dibersihkan dengan lebih hati-hati. “Tempat ini sangat sepi jadi aku ingin membuatnya sedikit ramai. hahaha” Jinseo menjatuhkan dirinya di sebuah kursi dekat counter pemesanan, tasnya dia letakan di meja bulat yang ada di hadapannya. “Hey Hyeonsoo !!! Ceritakan aku tentang kejadian kemarin !”
Hyeonsoo memandang tajam ke arah Jinseo sejenak lalu duduk di kursi depan Jinseo. “Kau ingin tahu ?” Jinseo menganggukan kepalanya cepat.
Hyeonsoo menyondongkan wajahnya mendekati Jinseo. Seolah-olah dirinya akan menceritakan sesuatu yang serius. “Tidak ada yang menarik.” Kata Hyeonsoo lirih lalu menarik tubuhnya menjauh.
“Kau ini !!! Ceritakan apapun padaku...” pinta Jinseo dengan muka memelas. “Tidak ada yang menarik. Dia tidak setampan yang terlihat di televisi. Hal yang paling aku ingat, kemarin aku menyerahkannya langsung.” Jinseo membuang pandangannya sambil bersungut. “Ya iyalah kau menyerahkannya langsung ke Junho. Dia selesai syuting pasti keluar lalu menyapa fans-fansnya. Tentu juga menerima hadiah dari fans-fansnya itu. Kau ini bagaimana ? Hal seperti itu saja tidak menarik.”
“Bukan yang seperti itu maksudku. Aku menyerahkannya hanya berdua saja... eh bukan, bertiga. Satunya lagi kalau tidak salah anggota 2pm yang lain, Taecyeon. Tidak ada fans yang lain.”
“Yang benar ??? bagaimana bisa ?” Hyeonsoo memutar bola matanya lalu mendengus. “Itu karena...” Belum sempat Hyeonsoo menceritakan kejadian kemarin secara detail, Jinseo tiba-tiba memutus kalimatnya. “Hyeonsoo !!!! Dimana gelangmu ? kenapa kau tidak memakainya ? Aku tidak pernah melihat kau melepaskannya. Gelang pemberian Ibumu.... kenapa tidak ada?” Mata Hyeonsoo langsung mengarah pergelangan tangan kanannya yang terlihat ‘kosong’. “Oh, benar ! Dimana gelangku ??” Hyeonsoo teringat kejadian kemarin saat dia menjatuhkan gelangnya saat berdesak-desakan dengan puluhan fans. Tapi dia sempat menemukannya dan .... Oh tidak.. Gelang itu berada di dalam kotak itu. Dan kotak itu ada pada Junho.