Setiap orang ingin
memikirkan sesuatu yang indah
Mereka memikirkan banyak
hal
Tetapi terkadang pikiran
itu seperti ramalan yang kita buat sendiri
Bagus kalau hal baik yang
selalu terpikir.
Bagaimana jika hal buruk
juga ikut hadir ?
Dan itu semua menjadi kenyataan
?
Tentu akan menjadi sebuah
kesalahan yang tak termaafkan
Sebuah kutukankah ? Atau
mukjizat ?
Bisakah pikiran itu
berhenti ?
Walaupun itu berarti akhir
dari segalanya.
Mind
Control
Eps.
1
Pemandangan menakutkan itu muncul lagi. Derap langkah
kakinya yang cepat menggema bersama suara derap kaki lain di belakangnya. Sesaat
lorong-lorong kecil yang sunyi berubah tegang karena suara langkah yang
menyerbu. Orang itu hampir menyusulnya. Tidak ada jalan lain selain mempercepat
langkah. Ia menoleh beberapa kali memastikan orang itu tidak dapat meraihnya.
Tapi melihat pecahan botol di tangan orang itu membuat keringatnya menetes
deras. Orang itu memang berniat membunuhnya. Benar, orang itu, orang bertubuh
tambun setengah mabuk yang sudah tidak lagi ia panggil dengan sebutan Ayah.
Masih jelas diingatannya bagaimana orang itu mengkhianati Ibu dan dirinya
setelah berselingkuh dengan wanita lain.
“Ocha !!! Berhenti !” Teriak orang di belakangnya
sambil mengancam dengan mengacungkan pecahan botol tinggi-tinggi. “Berhenti
sekarang juga ! Kau benar-benar akan mati di tanganku sebelum kau buka mulutmu
itu ke hadapan ibumu ! Berhenti ku bilang ! Percuma saja ! Kau tidak bisa
melarikan diri.”
Suara lantang itu menggusarkan hatinya, kakinya mulai
gontai. Beberapa kali ia hampir terjatuh tetapi tangannya sigap bersandar pada
dinding lorong. Matanya menatap lurus dan mendapati ujung lorong yang sudah
tidak jauh lagi. Ujung lorong itu adalah satu-satunya harapannya untuk bisa
lolos. Ia tidak bisa mati dan meninggalkan ibunya tetap bersama orang jahat
itu.
Tetes demi tetes air mata mengucur saat ia mengingat
ibunya yang sering dilukai dan bahkan sekarang diselingkuhi. Ia membasuh air
matanya seraya mempercepat langkahnya dan segera mencapai ujung lorong. Di sana
ia menemukan jalan raya besar yang sangat kosong. Tidak ada satupun kendaraan
ataupun seseorang melintas. Lalu kepada siapa ia bisa meminta tolong ? sebelum
ia bisa meminta tolong pada siapapun, telinganya menangkap suara langkah kaki
yang sudah sangat dekat.
Orang itu berhenti lalu mengatur napasnya. “Sudah
kubilang, tidak ada yang bisa menolongmu. Nyawamu sudah ada ditanganku.” Ia
menyeringai sambil tiba-tiba menunjuk jurang curam di seberang jalan. “Kau akan
membusuk di sana. Orang tidak dapat menemukanmu.”
Tangannya sendiri mengepal, ingin mengutuk segala
kejahatan yang orang itu pernah lakukan. Tanpa pikir panjang ia berlari
menyeberang. Ia sudah tidak tahu akan kemana dan berbuat apa. Ia hanya ingin
berlari walaupun akhirnya orang itu akan menangkapnya dan membinasakannya
dengan kejam. Di saat seperti ini, andai ada sebuah truk besar tiba-tiba
melintas dan menabrak orang yang mengejarnya itu hingga tewas.
Tiba-tiba ia terhenyak karena mendengar suara klakson
keras dengan decit ban. Ia menoleh dan menangkap bayangan mengerikan. Orang itu
terhempas setelah beradu dengan sebuah truk besar. Tubuhnya terjatuh tidak jauh
dari hadapannya. Darah segar mengalir dan menggenangi ujung sepatunya, dan
beberapa terciprat ke wajahnya. Ia mengusapnya menggunakan tangan lalu ia
pandangi lekat. Napasnya kembali berpacu. Ia ingin teriak tetapi suaranya
tertahan.
“Apa ini ?” ucapnya parau sambil terus memandangi
telapak tangannya yang gemetar. Lalu Ia menoleh pada pecahan botol yang terlepas
dari genggaman orang itu. Orang itu mati dengan keadaan yang mengerikan.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana ???”
Kriing...kringgg.. !!!!!
Suara nyaring alarm seketika menghentikan mimpi buruk
Ocha. Matanya memperhatikan sekeliling. Ia mengusap dadanya segera setelah tahu
ia masih di dalam kamar tidurnya. “kenapa mimpi itu datang lagi?” katanya
lemah. Matanya membulat besar ketika melihat jarum jam alarm di samping
ranjang. “Sudah jam 6 ?!!?” Dengan satu hentakan cepat ia sudah bangkit dan
bergegas mandi. “Maah, kenapa tidak membangunkanku sejak tadi ? Aku pasti
terlambat datang ke wawancara kerja..”
***
Ocha menatap cermin di hadapannya sambil beberapa kali
melenggokkan tubuhnya lalu tersenyum. Tubuh mungilnya terlihat sempurna berpadu
dengan setelan kemeja berwarna biru gelap. Rambut hitam kecokelatan yang
panjangnya hanya sepundak ia biarkan terurai. Ia kemudian menyelipkan sebuah
map di dalam tas jinjing hitamnya. Sebelum berangkat ia kembali mengecek
tampilannya di depan cermin. “Semoga aku diterima menjadi sekretaris di
perusahaan besar itu. Semangat !”
***
“sebentar lagi interviewnya dimulai.” gerutunya pada
jam rantai perak di tangannya. Sudah 15 menit berlalu dan bus yang akan mengantarnya
ke tempat tujuan tidak datang juga. Matanya menyusuri setiap jengkal jalanan
besar di depannya mencoba menemukan tanda-tanda kedatangan bus, tapi hasilnya
nihil. Padahal ia berdiri tepat di dekat perempatan jalan raya. Banyak motor
dan mobil melintas, tetapi kenapa tidak ada bus juga ?
“neng lagi nungguin bus ya ?” tanya penjaga warung
dekat perempatan. Penjaga warung itu cepat-cepat melanjutkan. “Yah si eneng,
supir busnya kan lagi padha itu tuh, demo. Gara-gara kemarin harga solar naik.
Ga cuman supir bus, supir angkot sampe ojek demo semua neng.”
“Oh gitu ya mang.” jawab Ocha lirih putus harapan.
“Makasih ya mang.”
Pikirannya mulai bekerja. “Andai.. tiba-tiba ada mobil
berhenti di depan ku terus kasih tumpangan.” Ia tersenyum getir sambil melihat
map di dalam tasnya.
Tepat saat ucapannya berhenti sebuah benda hitam
berkilat datang dari kejauhan. Mobil mewah mendekat dan berhenti tepat di
depannya. Belum selesai Ocha terperangah dan berdecak kagum entah karena
keberhasilan telepatinya atau kemewahan mobil di depannya, salah satu kaca
jendela mobil itu bergerak turun.
Seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah
memutih menundukkan kepalanya lalu tersenyum. “Silahkan masuk.”
Ocha mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Bagaimana
mungkin orang itu menyuruhnya masuk ke dalam mobil semewah itu tanpa mengenal
sama sekali. Aneh. Apa ia terlihat seperti putri malang yang terlontar di
jalanan dan seorang pangeran datang untuk menjemputnya. Lalu mana pangerannya ?
Jangan katakan pangeran yang menjemputku bukan menggunakan kuda putih tetapi
rambutnya yang putih.
Hembusan napas ringan keluar dari mulutnya. Matanya
berputar dan tanpa di sengaja menangkap sosok lain di kursi penumpang. Ada
seorang pria di sana. Pria itu masih muda, pakaian dan rambutnya sangat rapi,
wajahnya yang tegas tergurat jelas dalam bayangan hitam di balik kaca jendela. Itu
baru pangeran.
Tanpa pikir panjang ia membuka pintu belakang dan duduk
di sebelah pangeran. Ia menoleh dan melihat pria itu hanya terdiam sambil
memandang lurus tanpa sedikitpun tertarik akan kedatangannya. “Terimakasih atas
tumpangannya.” katanya lirih. “Saya bisa turun di...”
“Di tempat berakhirnya 3 in 1 tentu saja.” Pria di
sebelahnya akhirnya membuka mulutnya. Suaranya terdengar tegas dan berat. Tapi
sama sekali tidak menoleh.
Mulut Ocha terbuka lebar, ada suara melengking siap
keluar tetapi ia berusaha menahannya. Ia baru sadar, ternyata orang-orang itu
menganggap ia seorang joki, joki 3 in 1. Keterlaluan.
“kenapa ? Bukankah joki 3 in 1 selalu begitu ?” kata
pria dingin itu lagi. Kali ini ia menoleh sepersekian detik. Ekspresi wajahnya datar,
sama sekali tidak ramah.
Ocha mengerdipkan mata lalu mendengus kesal. “Jo – ki ?”
dandannya serapi itu dan disangka joki 3 in 1, orang itu pasti sudah tidak
waras. Seribu caci maki, sumpah serapah ingin sekali ia teriakan keras di depan
wajah pria es itu. Tapi tidak mungkin, mereka pasti akan menurunkannya saat itu
juga dan wawancaranya batal. Lagi pula mobil itu berjalan ke arah yang sama
dengan tujuannya. Ia harus menahan amarahnya setidaknya sampai 10 -15 menit ke
depan. “Iya, tentu saja. Joki. Iya saya joki. Jo..ki.” katanya dengan suara
getir.
Pria es meraih salah satu amplop yang terselip di saku
belakang kursi depan. Ia bergumam ringan “Memang sudah seharusnya begitu kan.”
Wajahnya serius menatap lembaran-lembaran dokumen yang ia keluarkan perlahan
dari dalam map. “Turunkan nona ini di perempatan terdekat dari sini.”
Kepala Ocha berputar cepat. “Bisakah kau turunkan aku
agak jauh lagi ? Aku ada wawancara kerja, kalau tidak cepat wawancaraku bisa
gagal.” suaranya kini terdengar memelas.
“Kita sudah lewat jalur
3in1 kan ?”
Supir beruban menoleh ke belakang lalu menjawab “Sudah
tuan.”
“Kalau begitu, turunkan di sini saja.”
Ocha sudah tidak bisa menahan kesabarannya sekarang. “Huh
?”
“Kau ini joki kan? Dan kita sudah melewati jalur 3 in 1
makanya sekarang tugasmu sudah berakhir. Turunkan dia sekarang.”
“Baik, Tuan.” Supir itu perlahan menginjak remnya. Dan
mobil berhenti 500 meter sebelum perempatan.
Pria es menoleh. Alisnya terangkat. Tidak ada senyum. “Tolong
beri upahnya, pak Eryo.”
Rahang Ocha jatuh melihat tatapan angkuh si pria es. “Tidak
usah repot-repot. Lagian aku bukan joki.” Ia berpaling ke arah supir di depan
lalu tersenyum. “Terima kasih atas tumpangannya, pak.” Supir itu membalas
dengan senyuman hangat. Lalu ia menoleh lagi kemudian berucap singkat dengan
nada tegas, tanpa senyum. “Thank you !”
***
“Mindy Rosalia.”
panggil salah seorang tim pewawancara. Ia mengulangi karena tidak mendapat
jawaban dari satupun pelamar kerja. Kali ini volume suaranya naik. “Mindy
Rosalia.”
Ocha yang mendengar namanya di panggil berlari dengan
sangat kencang. “Saya Mindy Rosalia.”
Wanita tua dengan tampang sinis mengamatinya lalu
menyeringai. “Silahkan masuk.”
Ia menangguk lalu merapihkan rambutnya yang berantakan
dengan ujung-ujung jarinya. Ini semua karena orang itu menurunkannya sangat
jauh. Jadi ia harus berlari untuk sampai ke sini. Ditambah di jalan ia
berpapasan dengan supir-supir bus yang sedang demo. Sudah pasti penampilannya menjadi
sangat buruk. Tapi syukurlah ia sampai tepat pada waktunya.
Pintu ruangan yang terasa sangat dingin di kulitnya
tidak ia hiraukan. Langkah kakinya sigap dan tegas. Ia harus tetap percaya diri
dan menyelesaikan wawancara ini dengan baik. Serangkaian tes super susah sudah
ia lewati, kalau ia gagal di tahap ini, akan sangat mengecewakan.
“Selamat datang. Silakan perkenalkan dirimu.”
Suara berat yang barusan ia dengar membuat hatinya
merasa tidak nyaman. Sepertinya ia pernah mendengar suara itu sebelumnya. Tapi
dimana ? Oh.. tidak mungkin !
Kepalanya ia angkat perlahan. Gambaran yang semakin
lengkap seperti potongan puzzle, membuat semuanya semakin jelas. Jarinya
seketika menunjuk ke arah asal suara. “Kau ???” ia melanjutkan dengan tergagap “Kenapa
kau ada disini ???” Si pria es duduk di tengah-tengah jajaran tim pewawancara.
Wajahnya terangkat tetapi masih tampak sama angkuhnya dengan yang tadi. Di
depan pria es itu tertulis “Danias Pratama – CEO Pratama Group”
“Kenapa bisa?” gerutu Ocha tanpa suara.