Welcome to Madrid, Spanyol...
Akhirnya setelah perjalanan hampir 18
jam dari Indonesia, Viena menginjakkan kakinya di Adolfo Suárez Barajaz Madrid International
Airport. Seluruh badannya terasa pegal akibat duduk terlalu lama selama di
pesawat. Sekarang ia benar-benar butuh rebahan sebelum tubuhnya remuk.
Syukurlah ia sudah sampai dengan selamat walau tadi sebelum berangkat ia khawatir
setengah mati. Ini pengalaman pertamanya naik pesawat. Bagaimana kalau terjadi
turbulensi atau bahkan hal yang lebih mengerikan?
Ia meregangkan tangannya ke atas lalu
mendesah puas. “SPANYOOOOL!!!”
Orang-orang yang berlalu-lalang
melewatinya, diam-diam mengamati dengan tatapan aneh dan curiga. Biarlah, toh
orang-orang itu tidak akan mengerti ucapannya. Ia ingat ia harus menelepon Papa
segera. Tangannya seketika merogoh saku celana dan menarik paksa ponselnya
keluar dari tempat sempit itu. Setelah menekan beberapa tombol disana, ia
mendengar serentetan nada sambung tanpa henti. Tumben, Papa tidak langsung
menjawab. Biasanya Papa langsung menjawab di nada sambung kedua.
“Halo.. oh Papa. Kenapa telat sekali
menjawabnya? Aku sudah sampai.. oh.. Abuela sakit? Lalu?.. oh ya aku mengerti.. aku harus
kemana?.. oke.. ya Papa, tidak masalah. Yasudah aku tutup telponnya. Bye.”
Ia berkacak pinggang lalu bergumam.
“Oke.. Karena Papa harus menjenguk Abuela,
itu artinya aku harus di Spanyol sendirian selama dua hari ke depan. Setidaknya
aku masih punya tempat tinggal. Masalah yang lain kuatur setelahnya.” Senyum
masam mengembang di bibirnya. Keadaan ini memang sangat..tidak baik. Tapi mau
bagaimana lagi?
Ia menekuk lengan bajunya sampai ke
siku lalu mengenakan topi warna abu-abu yang sedari tadi menggantung di tasnya.
“SEMANGAT !” katanya pada dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan di depan
wajah. Kakinya mantap melangkah ke luar dari bandara.
***
“Miss. Anda yakin ini tempatnya?” tanya
supir taksi dengan suara parau. Pria berjanggut putih itu menatap cemas ke arah
luar melalui jendela. Untunglah Viena mendapatkan jasa taksi yang supirnya
fasih berbahasa Inggris. Jadi, ia tidak perlu menggunakan bahasa tubuh untuk
menerangkan segala sesuatu.
“Bukankah ini tempat yang kusebutkan
tadi, sir ?”
Supir itu mengangguk pasrah. “Kau
sepertinya orang baik.”
“Huh?” Viena mengernyit tidak mengerti.
Kenapa juga ia berkata seperti itu?
“Tidak apa-apa.” Jawabnya singkat.
Viena memandang ke luar jendela sekali
lagi. Sampai Papa kembali, ia diminta tinggal di hotel tempat Papa bekerja.
Supaya setidaknya ia terurus dengan baik oleh pelayanan dari hotel. Banyak
staff hotel yang mengenal baik Papa sehingga Papa tidak akan mengkhawatirkan
keadaannya selama pergi.
Tidak ada masalah dengan hotel itu.
Bangunan besar dan indah itu tampak sangat terawat, baginya tidak ada yang
perlu dicemaskan.
Ia tiba-tiba ingin menarik kata-katanya
kembali saat teringat dengan bangunan-bangunan yang dilewatinya sejak memasuki
kawasan ini. Sepertinya banyak sekali bar di sekitar hotel. Jangan sampai ia
bertemu dengan pria-pria tua yang sedang mabuk. Jangan sekali pun! Viena
mengatupkan kelopak matanya erat sebelum bayangan menakutkan hasil imajinasinya
terlihat jelas. Ia hanya perlu diam di kamar selama dua hari dan ia tidak perlu
khawatir bertemu dengan pria tua tukang mabuk.
“Hati-hatilah.” saran supir taksi
setelah menerima uang dari Viena.
“Kumohon, jangan membuatku tambah
cemas.” pinta Viena dalam hati.
Viena membalikan tubuhnya dan mengamati
dengan hati-hati bangunan besar di hadapannya. Beberapa pria terlihat keluar
dari hotel. Mereka menggunakan pakaian serba hitam. Dua orang di bagian paling
belakang menggunakan tuxedo hitam dan kacamata hitam. Mereka terlihat seperti
pengawal. Lalu ada satu pria yang juga mengenakan tuxedo hitam sedang menenteng
dokumen di salah satu tangannya. Beberapa kali ia terlihat menoleh ke samping
lalu seperti membisikkan sesuatu, mirip seorang sekertaris atau mungkin
asisten. Dan yang satu lagi, pria tua dengan janggut putih panjang. Ia
menggunakan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu merah. Kepalanya ditutupi topi
besar yang juga berwarna hitam. Tangannya memegang tongkat yang kadang-kadang
digunakan untuk membantunya berjalan atau menunjuk ke suatu arah untuk...
memerintah ? Pria tua itu mengarahkan tongkatnya ke pintu mobil limosin
hitamnya yang terlihat berkilau. Lalu segera saja dua pengawal yang ada di belakangnya
langsung menghambur ke arah mobil dan membukakan pintu untuknya.
Viena terperangah untuk beberapa saat.
Matanya mengerjap tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Pemandangan
itu tidak hanya sekali tetapi berkali-kali. Dan semuanya sama persis. Pengawal,
sekertaris, bos dan mobil limosin. Baginya mereka seperti sekumpulan mafia yang
baru saja selesai dari sebuah pertemuan gelap, seperti di dalam film yang
pernah ia tonton.
Pandangan Viena kini tersita pada
sebuah papan kecil di depannya. Sepertinya penunjuk arah parkir. Tepat di
bagian bawah papan tertulis “Iliabeny Hotel”. Sama seperti yang dituliskan
Papanya lewat email. Tapi hatinya masih belum tenang. Entah kenapa ia sangat
yakin hotel di depannya itu bukan hotel yang ia maksud. Sekilas ia melihat
serentetan huruf kapital tertulis indah di pintu masuk hotel yang terbuat dari
kaca ukuran jumbo. ILIABENY HOTEL.
“Ilia – beny .” ejanya lirih tak
terlalu yakin. Segera ia memeriksa isi email yang dikirimkan Papa tadi pagi.
“Bagaimana cara membaca yang satu ini? Iliabeny juga kan? atau... ” Ucapannya
terhenti setelah otaknya mulai menangkap sesuatu yang aneh dari kedua tulisan
itu. “Jangan-jangan yang dimaksud Papa LLIABENY HOTEL ! bukan ILIABENY HOTEL !”
teriaknya kesal. Setelah perjalanan jauh yang membuat seluruh badannya terasa
hampir remuk, lalu Papa mendadak harus pergi dan menyuruhnya menginap di hotel
sementara waktu, kemudian ia pergi ke hotel – yang dipenuhi orang-orang aneh
dan menakutkan – yang salah hanya karena ia keliru melihat satu huruf.
Kedongkolannya benar-benar sudah membuncah sampai ke ubun-ubunnya. Rasanya ingin
sekali ia berteriak sekuat mungkin menggunakan tenaga terakhir yang ia punya.
Tapi rasanya itu juga tidak mungkin mengingat tenaganya yang benar-benar hampir
habis. Ia lebih baik menggunakannya untuk mencari taksi lalu pergi dari tempat
mengerikan itu.
***
Kenapa banyak sekali bar di sini ?
Viena memandang sekitarnya sambil
bergidik ngeri. Matanya dapat melihat dengan jelas puluhan bar berbaris rapi di
sepanjang jalanan. Mungkin karena masih siang sehingga tidak terlihat
pengunjung di bar-bar itu. Jalanannya pun sangat lengang. Hanya beberapa mobil
limosin yang terlihat lalu lalang. Itu pun sudah 15 menit yang lalu. Ia kini
bisa melihat jalan lurus dengan tanah kering yang terasa sangat panas karena
terpapar sinar matahari.
Ia menarik kopernya dengan lebih kuat
sambil mempercepat langkahnya. Ia harus
mendapatkan taksi dan pergi dari tempat ini segera.
“Kenapa tidak ada taksi yang lewat
daerah sini ?” gerutu Viena sambil beberapa kali menoleh. Siapa tahu ada taksi
dari arah belakangnya.
Begitu ia menoleh kembali, langkahnya
seketika terhenti. Keringat dingin mulai mengucur deras. Tubuhnya membeku dan
agak gemetar. Pandangannya tak lepas dari sekumpulan pria paruh baya dengan
tampilan yang agak berantakan berdiri di depannya.
Mereka memasang senyuman yang
jelas-jelas membuat Viena justru ketakutan setengah mati. Apa mereka sedang
mabuk ? Oh, God.
Salah satu pria yang mengenakan jaket
kulit lusuh mulai melangkah mendekati Viena. Ia mengamati Viena teliti tanpa
melepaskan seringainya. Ia berdeham pelan. “Kenapa buru-buru begitu ?” Ia
mengulurkan tangannya hendak merangkul pundak wanita yang berdiri kaku di
depannya namun wanita itu segera mundur dengan ketakutan.
Untunglah kaki Viena masih dapat digerakkan
walau dengan susah payah. Hampir saja pria itu menyentuhnya. Sekarang ia harus
segera mencari jalan untuk kabur dari kumpulan pria menakutkan di depannya.
Pada saat yang sama, seorang pria
keluar dari mobil hitam yang sejak tadi terparkir di depan sebuah bar, yang
tidak jauh dari tempat Viena berdiri. Tangannya masih menempelkan ponsel di
telinga. “Aku tidak mau, sudah berapa kali ku bilang.” Viena sontak menoleh
mendengar seseorang berbicara dengan bahasa yang ia mengerti, di tempat yang
se-asing ini. Viena menyipitkan matanya agar dapat mendapatkan gambaran yang
lebih jelas dari pria itu. Ia tidak terlihat seperti tiga pria di depannya.
Tampilannya benar-benar stylish dan
rapi. Ia juga jauh lebih muda di banding pria-pria mengerikan itu. Jadi, tidak
mungkin pria muda itu salah satu dari komplotan mereka.
Pria mabuk itu kembali mencoba
mendekati Viena. “Kau sendirian ? Bagaimana menemaniku saja ? Aku sama sekali
tidak keberatan.”
Viena memang sama sekali tidak mengerti
apa yang sedang dikatakan pria itu. Tapi dari wajahnya, ia yakin pria itu
berencana buruk terhadapnya. Ia benar-benar harus segera kabur. Tapi bagaimana
caranya ? Mereka pasti akan mengejar jika ia lari.
Tidak ada cara lain.
Tanpa berpikir panjang ia berlari ke
arah pria yang berdiri tidak jauh darinya lalu merangkul lengannya. Pria itu
sempat terperanjat namun tidak mendorong Viena untuk menjauh.
“Kumohon.. Tolong aku..”
***
Al mematikan mesin mobilnya lalu
mengangkat ponselnya dengan kesal. Kenapa mereka terus menghubunginya ? Sudah
puluhan kali orang itu meneleponnya hari ini. Telinganya serasa akan meledak
jika mendengarkan suara ponselnya sekali lagi.
“Ada apa lagi ?” tanya Al sambil
bersungut.
Ia membuka pintu mobilnya lalu melompat
keluar. “Aku tidak mau, sudah berapa kali ku bilang.” Bisakah manajer hotel itu
tidak terus-terus memaksanya melakukan semua hal ? Ia bahkan bukan orang
tuanya. Tapi setiap kali ia membantah permintaannya, manajer hotel itu akan
mengadukannya kepada Papanya. Sungguh... Kalau saja ia bukan pegawai kesayangan
Papanya, ia sudah pasti akan memecatnya dari hotel.
Ia mendesah pelan, menyerah pada
bujukan manajer hotel untuk menghadiri acara besar nanti malam di hotel. “Yasudah,
aku akan datang. Tapi hanya kali ini.” Ia menutup ponselnya lalu melemparkannya
ke kursi kemudi. Badannya ia sandarkan pada sisi mobil hitam berkilapnya sambil
menunduk.
Huh... Malam nanti ia harus menghadiri
pesta besar di hotel. Itu artinya ia harus menyambut tamu-tamu penting Papanya
sebagai pewaris hotel. Ia membenci kenyataan bahwa ia harus mewarisi hotel itu.
Ia sama sekali tidak tertarik untuk mengambil alih hotel Papanya.
Ia baru akan meraih pegangan di pintu
mobil sebelum seseorang meraih lengannya. Ia tersentak dan segera menoleh. Seorang
wanita merangkulnya kuat. Siapa wanita ini ? Kenapa tiba-tiba merangkulnya ?
Apa maunya ?
Rasa kesal yang beberapa saat
menyelimuti dirinya langsung padam saat melihat wajah wanita itu yang ketakutan.
Bagaimanapun ia tidak tega memarahi atau mendorong wanita itu menjauh.
Tiga pria dengan tampilan berantakan
memandangi keduanya dengan tatapan sinis. Al mengangguk pelan dan mulai
mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Ternyata pria-pria itu yang membuat wanita
ini ketakutan. Mereka tidak terlihat asing bagi Al. Kalau tidak salah mereka
adalah pekerja di salah satu bar dekat sini.
“Hey..” sapanya pada komplotan itu
sambil tersenyum menyeringai. Tanpa perlawanan pria-pria itu melangkah pergi
dengan wajah kesal. Sudah tentu mereka bisa mengenalinya sebagai putra Papanya
– yang terkenal sebagai salah satu pemegang kendali di wilayah ini –. Itu
sebabnya mereka tidak berani berurusan dengannya.
“Mereka sudah pergi. Sekarang lepaskan
aku.” kata Al dingin.
***
Viena perlahan melepaskan lengannya dan
menjauhi pria itu. Pria yang awalnya nampak baik karena bersedia membantunya
tetapi ternyata aslinya sangat dingin.
“Terima kasih.” gumamnya lirih.
Pria itu beranjak pergi namun ia
kembali menarik lengannya. Bukankah pria itu orang Indonesia ? Ia tidak boleh
melewatkan kesempatan bagus ini. Mungkin saja pria itu bisa membantunya lagi
walau kemungkinannya sangat kecil setelah ia tahu pria itu ternyata sangat
dingin dan tidak terlalu ramah.
“Bukankah kau orang Indonesia ? Tadi
aku mendengarmu berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Wajahmu juga terlihat
seperti orang Indonesia walau mungkin kau punya keturunan Eropa.”
Pria itu menoleh dengan tatapan sinis.
“Apa maumu ?”
“Tolonglah aku... aku benar-benar butuh
bantuanmu. Aku tersesat jadi bisa tolong kau beri aku tumpangan atau setidaknya
membantuku mencari taksi ? Aku tidak melihat taksi melintas sejak tadi.
Jadi...”
“Kau hanya perlu mengikuti jalan itu.”
Kata pria itu sambil menudingkan jarinya lalu melengos pergi tanpa menunggu
jawaban apapun dari Viena.
“Oh terimakasih... eh!” Tiba-tiba
tangannya terasa ditarik dengan keras sehingga membuatnya terasa sangat sakit.
“Kenapa kau mengikutiku lagi ? Bukankah
aku sudah menunjukkan jalannya ? Kau harus segera pergi dari sini.” tanya Pria
itu sedikit kesal.
Viena mendengus kesal. Apa pria itu
pikir ia ingin terus mengikutinya kalau tidak karena gelangnya tersangkut pada
jam tangan pria itu ?
Viena mengangkat tangan kanannya yang
juga membuat tangan kiri pria itu ikut terangkat. “Lihat ? Aku tidak ingin
mengikutimu kalau bukan karena ini.”
“Lepaskan
gelangmu !”
Viena tergelak. “Tidak bisa ! Gelang
ini sudah aku kaitkan dengan kencang, jadi hanya bisa dibuka dengan tang atau
alat sejenisnya.”
“Kenapa kau melakukan itu ? menyusahkan
sekali.”
“Ini gelang pemberian Papa ku jadi aku
tidak ingin gelang ini terlepas sebentarpun. Kenapa tidak kau saja yang
melepaskan jam tanganmu ?”
“Aku tidak mau. Lagian kalau aku yang
melepaskan jam tanganku tidak ada jaminan akan terlepas begitu saja. Gelangmu
yang mengait di jam tanganku. Jadi kau yang lepaskan.”
Viena benar-benar tidak habis pikir
dengan pria yang dihadapinya sekarang. Bagaimana bisa ada pria se-keras kepala
itu ? Ia tidak bisa berdebat terus dengan pria itu, ia harus segera pulang, segera.
Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil
polisi mendekat. Sepertinya tidak hanya satu mobil polisi, mungkin belasan ?
Suaranya yang menderu keras sontak membuat tempat itu dirundung kekalutan.
Puluhan orang berlarian keluar dari bar-bar seperti sedang menyelamatkan diri.
Tadi ia pikir tidak ada orang dalam bar-bar itu tapi ternyata dugaannya salah.
Syukurlah ia baru menyadarinya dan juga tidak banyak pria lagi yang
menganggunya. Tapi kenapa mereka berlarian? Apa mungkin polisi-polisi itu
seperti Satpol PP di Indonesia ?
“Hey !” suara pria di depannya seketika
membuyarkan lamunannya. “Kalau kau tetap di sini kau tidak akan selamat.”
Tidak selamat ? Apa maksudnya ? Kenapa
ia harus ikut lari ? Ia bukan kriminal seperti orang-orang dalam bar itu. Belum
sempat Viena mengelak bahkan bertanya, pria tadi menggenggam tangannya dan
menariknya pergi sebelum belasan polisi turun dari mobil dan mengejar semua
orang.
***
Setelah berlari kurang lebih sepuluh
menit akhirnya mereka berhenti di sebuah lorong sempit. Al beberapa kali
menoleh ke belakang memastikan sudah tidak ada polisi yang masih mengejar
mereka. Syukurlah.. sepertinya usaha melarikan diri mereka sukses. Al
menyandarkan tubuhnya di tembok lorong. Napasnya masih terengah-engah. Ia
sesekali menoleh ke arah wanita di sampingnya. Wanita itu tampak pucat dan
sangat kelelahan. Walau ia benci bertingkah seperti pahlawan di depan wanita,
tapi tidak mungkin ia membiarkan wanita itu pingsan di sini. Ia harus melakukan
sesuatu. Ia merogoh saku celananya beberapa kali tapi tidak menemukan apa yang
dicarinya. Dimana ia meletakan ponselnya tadi ? Oh.. tidak. Ponselnya ada di
dalam mobil.
Al kembali menoleh ke arah wanita di
sampingnya. Kenapa dengan wanita ini ? Ia tidak berani menoleh ke arahnya. Apa
ia gugup ? Al melihat tangannya masih menggenggam tangan wanita itu lalu segera
melepaskannya dengan canggung. “Pantas saja.” pikir Al.
Ia hanya menggenggam tangannya. Kenapa
harus gugup begitu ? Oh benar, ia bukan wanita Spanyol. Budaya barat dan timur
sudah pasti berbeda.
Al tidak terlalu tahu mengenai kehidupan
di Indonesia. Walau ia keturunan Indonesia, tapi ia jarang mengunjungi negara
itu. Seluruh keluarga besarnya sudah lama menetap di Spanyol. Ia menggunakan
bahasa Indonesia hanya pada keluarga besarnya dan manajer hotel itu. Pak Sam –
manajer hotel – adalah orang Indonesia yang bekerja pada Papanya dan akhirnya
diangkat menjadi manajer hotel.
“Namaku
Al. Al Kohler.”
Al mengernyit. Wanita itu tertegun
setelah mendengar namanya. “Boleh aku pinjam ponselmu, señorita?”
“Tidak usah memanggilku señorita.
Namaku Loviena. Panggil saja Viena.” jawab Viena sambil merogoh sakunya.
“Oh Tuhan !! Koperku !! Koperku pasti
tertinggal di sana.” teriak Viena setelah sadar kopernya tidak ada di sekelilingnya.
“bagaimana ini ?”
Al mengadahkan tangannya. “Tenang saja,
kau hanya perlu meminjamkan ponselmu padaku.”
“Bagaimana kalau koperku disita
polisi-polisi itu ?” Viena tidak bisa membayangkan ia harus berurusan dengan
polisi di negara yang sama sekali belum pernah ia datangi. Ini benar-benar
mimpi buruk.
“Tentu saja. Mobilku juga. Sekarang
bisakah kau serahkan ponselmu ?”
Mobilnya disita dan ia tidak khawatir
sedikitpun ? bagaimana bisa ? Apa ia sudah gila ? Viena mengacak rambutnya
frustasi. “Mobilmu disita dan kau masih bisa setenang itu ? Lalu bagaimana
dengan koperku ? Pakaian dan perlengkapanku ada di sana semua.”
“Bisakah kau tidak sepanik itu ? Sudah
kubilang pinjamkan saja ponselmu. Aku akan membantumu menemukan kopermu tanpa
berurusan dengan polisi. Mobilku juga. Kau sudah bisa tenang sekarang ?” Nada
bicara Al terdengar meninggi kali ini. Wanita itu benar-benar sudah membuat Al
kesal.
Dalam satu sentakan, Al mengambil paksa
ponsel dalam genggaman Viena lalu memencet beberapa tombol di sana. Ia tidak
peduli bagaimana Viena akan menganggapnya setelah ini.
“Halo.. aku tidak apa-apa.. bisakah kau
urus mobilku ? tadi aku tidak sempat menyelamatkannya... oh ya koper milik
temanku juga sepertinya ikut dibawa mereka, bisa kau mengurusnya juga ?.. ohh..
aku ada di dekat casino milik Papa.. oke.”
Al menutup ponsel itu lalu
mengembalikannya pada Viena. Keadaan wanita itu sudah semakin buruk sekarang.
Ia harus mencari tempat istirahat segera. Kalau menunggu manajer hotel atau
orang suruhannya datang, pasti akan memakan waktu yang lama. Sebaiknya mereka
menunggu di casino milik Papa nya.
Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang. Lagian ia juga sering
mampir ke tempat itu, jadi ia sudah mengenal baik pekerja disana. Semoga saja wanita
ini tidak anti dengan casino. “Ayo..
sebaiknya kita pergi.”
***