A Tale of First Love [IND] Chapter 2

"Cinta ?" tanya Subin terkejut. Berpuluh-puluh lekukan menghiasi keningnya sedangkan mulutnya tidak bisa berhenti menganga.

"Iya, cinta, memang kenapa ?" jawab Mr.Kim sambil terus menyoret-nyoret sesuatu di halaman bukunya.

Mr.Kim adalah dosen pembimbing akademiknya. Dia sudah terkenal angker di antara para mahasiswa se-universitas. Kalau nilai mahasiswanya turun sedikit saja, Dia akan memanggilnya dan kemudian menjejalnya dengan kuliah filsafatnya yang antah berantah.

"Mr.Kim, bisakah saya mendapat genre lain ? seperti Thriller? Fantasi? Komedi? kenapa harus tentang cinta ?" Subin mulai terlihat putus asa karena pilihan Mr.Kim yang dianggapnya absurd itu.
Setiap tahunnya seluruh mahasiswa seni harus membuat suatu karya yang nantinya akan dipentaskan dalam sebuah panggung seni yang sangat meriah. Karena Subin mengambil sub-study kepenulisan naskah maka dia mendapat jatah membuat naskah drama yang akan dimainkan oleh mahasiswa lain yang mengambil sub-study akting, sesimpel itu saja. Tapi baginya ini adalah pertarungan hidup mati.

"Tidak bisa !" Mr. Kim masih asik menggores-goreskan pena antiknya ke lembaran bukunya.

Hari ini dia tetap terlihat modis dengan baju hangatnya yang katanya dia beli di Eropa. Usianya mungkin sudah melebihi setengah abad, tetapi selera fashionnya tidak kalah dengan mahasiswanya. Bahkan pernah ada mahasiswa yang dia komentari habis-habisan hanya gara-gara dia memakai kaus v-neck dengan dobelan kaus v-neck juga. Katanya sama sekali tidak keren. Entahlah.

"Kenapa harus cinta ?" tanyanya berulang-ulang heran. Dia harus tahu mengapa Mr.Kim memilihkan genre yang menurutnya lebih mengerikan ketimbang bertemu langsung dengan alien.

"Nilai kamu belakangan ini sangat turun ! Kau tahu kan ? Lagian genre romance bukankah paling mudah ? Kau bisa menaikkan nilaimu !" jelas Mr. Kim dengan intonasi yang semakin naik.

"Tapi, bukankah yang membuat nilaiku turun karena genre itu? Nilaiku justru bagus di genre lainnya. Tolong Mr.Kim." Subin mengusap-usapkan telapak tangannya di depan wajah, memohon pada Mr.Kim untuk mengubah keputusannya.

"Bagus kalau begitu ! Berarti kau bisa mengembangkan kemampuanmu di genre romance. Kalau kau mengambil genre lain, kau bagaikan burung dalam sangkar." ujarnya sambil memutar kursi duduknya kembali menghadap ke meja.

"Sudahlah. terima saja dan lakukan yang terbaik. Aku yakin kau bisa melakukannya." kata-kata terakhir Mr.Kim ini entah kenapa terdengar ada benarnya juga. Sepertinya keputusannya sudah bulat. Subin benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali menerimanya.

"Baiklah, saya pamit Mr.Kim." Subin menundukkan kepalanya lalu bergegas pergi keluar dari ruang dosen.

~~~

"AAAAAKKK ! Benar-benar gila !" teriakan Subin menembus hiruk pikuk kantin fakultas siang ini. Sayangnya volume suaranya masih kalah dengan kebisingan yang semakin menjadi-jadi. Kepalanya terasa sangat pening memikirkan obrolannya dengan Mr. Kim tadi pagi, ditambah kebisingan di tempat itu membuat kepalanya seakan mendidih.

"Hahahahahahaaa~" Jungmin tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Subin yang kebagian genre romance di panggung seni tahun ini.

"Baru saja dia bilang nilaku turun, aku harus menaikkan nilaiku. Tapi saat aku mengatakan nilaiku jatuh karena genre romance justru dia bilang aku harus mengembangkan bakatku, seperti burung dalam sangkar katanya. Dia sebenarnya ingin menolongku atau malah menjatuhkanku sih ? benar-benar tidak konsisten" gerutu Subin sambil mengacak-acak rambutnya, frustasi. Badannya lengser turun dari posisi duduk awalnya.

"Kau bahkan belum pernah berkencan, bagaimana caranya kau membuat naskah dramanya ? Ah, kau bisa mengkhayal ! Mengkhayal sedang berciuman dengan seorang pria seperti ini ?" Jungmin memonyong-monyongkan bibirnya membayangkan Subin akan melakukan hal yang sama.

"Ya!" Subin mendorong paksa wajah Jungmin yang mulai mendekatinya. Tanpa disengaja tangannya menyentuh bibir Jungmin yang monyong saat mendorongnya tadi. "Iuuhhh.." desis Subin jijik sambil mengelap telapak tangannya ke bagian samping kemeja denim yang digunakan Jungmin.

Jungmin tidak bisa menahan tawanya saat melihat nasib sial yang terus saja menimpa sahabatnya itu. Seketika Jungmin menghentikan tawanya dan terdiam dengan raut muka serius. "Jungmin-a ? Kenapa ?" tanya Subin khawatir. "Tidak apa-apa, aku hanya terpikir mungkin karena kau terlalu dekat denganku sejak kecil dan juga dengan Jongyeol jadi kau tidak bisa berkencan. Aku.." Subin memotong kalimat Jungmin, dia tidak ingin mendengar hal seperti itu lagi darinya. "Jungmin-a! Mana mungkin ! Jangan pernah berpikir seperti itu lagi ! Kau dan Jongyeol adalah sahabat baikku, yang sudah menjagaku selama ini. Aku hanya belum menemukan pria yang pantas berkencan denganku." Jungmin mengangguk setuju sambil mencoba mengembalikan mood baiknya.

"Makanya … carilah pacar ! Di usiamu sekarang ini, orang-orang tidak akan mempercayai kalau kau sama sekali belum pernah berkencan. Yang ada mereka mengira kau lesbian. Jadi aku dan Jongyeol tidak merasa lebih bersalah padamu." lanjut Jungmin sambil menyeruput Ice Mochachino yang belum lama tersaji di depannya.

Subin mencibir kesal. “Aku pernah menyukai pria! Dan itu bukan kesalahanmu sama sekali”

"Aku tidak sedang membicarakan tentang menyukai seorang pria. Kalau itu sering sekali kau melakukannya. Tapi itu hanya perkataanmu saja !"

Jungmin terbayang kejadian beberapa bulan yang lalu. Subin berkunjung ke rumahnya, katanya dia ingin mengatakan hal yang sangat penting, hal yang sangat menyangkut hidup dan matinya. Saat dia tibai di rumahnya, dia dengan semangat dan berbinar-binar mengatakan “Aku menyukai Jihoon-seonbaenim.” Kalau ditanyai apa yang dia suka darinya, dia menjawab “Kata Hyejin, Jihoon-seonbaenim sangat romantis dan setia.” Hyejin ? Hyejin teman satu kelas Subin yang selalu saja mengejar setiap senior keren yang ditemuinya. Hyejin sepertinya mempunyai jiwa fangirl yang sangat kuat. “Bagaimana bisa Subin mempercayai perkataan gadis seperti itu?” pikir Jungmin keras. Kejadian ini tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali. Jungmin mulai cemas dengan keadaan sahabat gadisnya itu.

"huh.." Jungmin menghembuskan napas panjang dengan tatapan mata kosong.

"hey ? Jungmin-a ? Kau kenapa ?" Suara Subin membuyarkan lamunan Jungmin.

"oh, tidak apa-apa." jawabnya sedikit tersentak kaget.

"Ah itu Jongyeol !" Subin menunjuk ke arah Jongyeol yang sedang mengantri di sebuah counter makanan. Jungmin langsung menghambur ke arah Pria tinggi itu. Mereka bukan gay atau semacamnya, tapi Subin sangat suka memanggil mereka dengan sebutan couple.

Jungmin berdiri di samping Jongyeol, tapi sepertinya Jongyeol belum menyadarinya. Dia terus saja mengobrol dengan Dio, teman satu kelas mereka. Sangat terlihat jelas sekarang Jungmin mulai kesal karena merasa tidak dihiraukan oleh Jongyeol.

"Kenapa ?" Subin menggoda Jungmin yang sudah kembali duduk di bangkunya. Jungmin hanya terdiam, memangku dagunya dengan kedua tangan sambil mencibir.

"Jongyeol tidak menghiraukanku.." baru saja dia menyelesaikan kalimatnya, Dia kembali beranjak dan mendekati Jongyeol sekali lagi. Jongyeol hanya bertingkah seperti "oh, ada kau" ke Jungmin. Jungmin tambah kesal dan berjalan kembali ke bangkunya. Baru beberapa langkah berjalan, Jungmin kembali berbalik, kemudian menendang pantat Jongyeol keras. "Awww!" jerit Jongyeol kesakitan.Jungmin berjalan kembali sambil tertawa geli.

~~

"Cinta ? Cerita apa yang bisa kutulis tentang cinta ???" pikir Subin keras sambil terus memandangi dokumen kosong di laptopnya. Jarinya sudah menyentuh keyboard tapi belum sepatah katapun tertulis di sana.
"Kau adalah dewi yang turun dari khayangan, aku sangat mencintaimu." Pointer yang tadi hanya berkedip-kedip akhirnya berjalan maju saat jari-jari Subin mulai menekan tombol-tombol di keyboardnya bergantian.

"Ahhh menjijikan !!!!" Teriaknya sambil menghapus kembali kata-kata yang baru saja diketiknya.

"Aku butuh sesuatu yang elegant, tapi cinta itu memang menjijikan !” gerutunya tak henti-henti. Tanpa dia sadari, beberapa pasang mata sudah meliriknya dengan tatapan sinis, memperingatkannya kalau dia sedang berada di perpustakaan bukan di hutan. Subin hanya tersenyum singkat lalu kembali menatap serius ke layar dokumen yang berwarna putih bersih.

"Idee… idee. idee, aku butuh ide sekarang …" Bibir Subin komat-kamit seperti sedang membaca mantra sakti agar dia bisa segera menemukan ide cemerlang dan menyelesaikan naskah secepatnya.

"Ahh, kau ini berisik sekali ! Bisakah kau diam ? Kau mengganggu tidurku." Kesal seorang pria yang sedari tadi duduk di seberang tempat duduknya. Pria itu sudah tertidur pulas sejak Subin datang. Dia menggunakan buku sebagai bantalan yang dapat menahan berat kepalanya. Tapi kini pria itu terbangun karena suara Subin memenuhi lorong gelap di dalam telinganya, membuat kebisingan yang lama-lama semakin mengganggunya.

"Ini perpustakaan, kau tidak boleh berisik seperti itu." lanjutnya sambil menunjuk-nujukkan jarinya ke arah Subin yang menatapnya dengan tatapan tidak peduli.

"Ini memang perpustakaan, tapi kau malah enak-enakan tidur di sini. Ini bukan kamar asrama." tutur Subin santai, seolah kejadian tadi bukan salahnya sepenuhnya.
Subin kembali menatap ke layar laptopnya. Dia sadar pria itu sedang memasang muka kesal karena kelakuannya. Tapi dia tidak peduli. Sekilas matanya tertuju pada judul buku yang tadi digunakan pria itu untuk bantalan.

"Sebentar.." Subin menarik paksa buku yang sebentar lagi akan kembali menjadi tempat pendaratan kepala pria itu.

"Apa-apan ini?" teriak pria itu kesal.

"Eissh kau ini berisik sekali."

A Tale of First Love.

Subin membaca perlahan tulisan besar yang tercetak di cover buku itu.

"Waah, sepertinya bisa dijadikan referensi bagus." pikir Subin sambil tersenyum puas.

"Aku pinjam buku ini!" Pinta Subin tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Dia langsung mengemasi barang-barangnya dan beranjak pergi keluar dari ruang perpustakaan yang mulai ditinggalkan pengunjungnya.
Pria itu hanya menatapnya heran dan kembali tersadar kalau Subin serius mengambil buku itu darinya. Lalu berlari mengekor di belakangnya.

"hey!" Langkah Subin terhenti mendengar seseorang memanggilnya dari belakang. Pria tadi berhenti berlari dan mulai menata napasnya mencoba untuk berbicara.

"Kenapa ? Aku hanya meminjamnya, jangan khawatir aku akan mengembalikannya. Aku tidak akan mencurinya darimu." jelas Subin santai.

"Tidak boleh !" tolak pria itu yang sudah berhasil menata napasnya. Dia mulai melangkahkan kakinya mendekati Subin yang berdiri tidak jauh darinya.

"Kau tidak mempercayaiku ? Kau butuh sesuatu seperti.. kartu mahasiswa?" Subin mulai merogoh-rogoh isi tasnya mencari keberadaan dompet cokelat miliknya.

"Aku tidak perlu barang seperti itu !" tambah pria itu.

"Lalu ? Aku sangat membutuhkannya… Aku akan membayar biaya sewanya… atau kalau kau butuh sesuatu aku pasti akan membantumu, jika kau meminjamkannya." pinta Subin sambil memeluk erat buku yang tidak terlalu tebal itu.

"Aku bilang tidak bisa." kata pria itu sambil mengambil paksa buku dari pelukan Subin.

"Heyy.." Subin terus menatap buku itu seperti seorang anak kecil yang mainannya direbut oleh temannya dan bersiap merengek meminta mainannya segera dikembalikan.

"Aku juga membutuhkan buku ini ." ujar pria itu singkat tanpa menghiraukan raut memelas yang ditunjukkan Subin.

"Tolong akuu.. Kau bisa membunuhku jika kau tidak meminjamkannya." Subin kembali merengek di hadapan pria itu.

Pria itu hanya melirik dengan tatapan tajam  ke arah Subin lalu segera melangkah pergi meninggalkan Subin yang sebentar lagi mungkin akan merengek lebih hebat lagi.

"Dasar pelit !" teriak Subin sambil terus menatap punggung pria itu yang semakin menjauh

A Tale of First Love [IND] Chapter 1



"selesaaii.. wah.. kau cantik sekali.." Jungmin berdecak kagum sambil terus memandangi wanita yang berdiri dihadapannya. Sahabat masa kecilnya. Subin.

”Hey, kau sudah terkenal sekarang. Masa memakai eyeliner saja masih tidak bisa ?” lanjutnya heran sambil terus mengusap-usapkan telunjuk ke kelopak mata Subin. Merapikan bagian-bagian yang terlihat agak berantakan.

"Aku bisa memakai make-up." jawabnya kesal. "Cuma selain eyeliner , entah kenapa tanganku selalu gemetar saat akan mengoleskannya.” Tangan Subin meniru orang yang sedang menggunakan eyeliner.
Subin meraih sebuah cermin di tangan Jungmin. Memandangi terus lengkungan indah di sudut-sudut matanya.yang berakhir dengan garis tipis panjang. Sangat keren. Ini berkat kemahiran sahabatnya itu.

"Untungnya aku mempunyai sahabat sepertimu." canda Subin. Senyumnya mengembang sumringah dan kedua alis matanya terangkat naik.

"HEY ! Aku seorang artis ! Aku tidak bisa membantumu setiap waktu sekarang." Mulut Jungmin mulai mencibir. Dia kesal. Tapi juga khawatir.

"Benar juga !" Kata Subin mengiyakan ucapan Jungmin. "Mungkin aku bisa mempekerjakan seorang tata rias, bagaimana menurutmu ?"

"Bukan itu maksudku .. Kau ini seorang wanita. Wanita harus selalu tampil cantik, kan ?"

"Benarkah ?" Pertanyaan retorik segera keluar dari mulut Subin. Dia tidak ingin mendengar ucapan Jungmin selanjutnya. Tangannya meraih tas di atas meja samping. Merogoh isinya dan mengambil sebuah handphone di dalamnya.

"Jungmin-a ! Bukankah kau dan grupmu tampil juga di acara ini ?" Pertanyaannya memang ditujukan kepada Jungmin, tetapi matanya tetap terpaku pada layar handphonenya. Jari-jarinya menggeser layar handphone ke atas dan ke bawah. Entah apa yang dia liat. Dia hanya berusaha tidak menatap Jungmin untuk saat ini.
Jungmin hanya berdehem sambil terus melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya sangat mudah ditebak. Sejak kecil, Subin selalu mengalihkan pandangannya dan tidak berani memandangnya bahkan hanya untuk sepersekian detik jika sedang menyembunyikan sesuatu darinya,

"Dia juga." lanjutnya.

"Siapa ?" Subin menjawab singkat. Tetap tidak menatap Jungmin yang  sudah menyondongkan wajah tepat disampingnya. "Joowon Hyung dan Jinho." kata Jungmin agak berbisik. Nada bicaranya berubah.
Subin hanya terdiam membisu. Seketika jantungnya berhenti berdetak ketika mendengar nama yang baginya sangat angker. Nama yang ingin dia lupakan sejak bertahun-tahun lalu. Nama yang pernah membuatnya tidak berhenti berharap pada sebuah batang lapuk. Sungguh sangat bodoh.

Subin tambah menyibukkan dirinya dengan handphone yang masih ada di genggamannya. Seakan kesibukannya itu kini benar-benar tidak bisa mendapat gangguan dari siapapun. Dia mendengar jelas nama yang diucapkan Jungmin. Tapi dia tidak peduli lagi.

"Jungmin-a! dimana Jongyeol ? Aku tidak melihat dia bersamamu dari tadi ?" Subin mulai mengalihkan pembicaran. Jungmin menyadari sahabatnya yang merasa tidak nyaman dengan pembicaraan barusan, memilih untuk ikut tidak membahasnya lagi.

"Jongyeol ? Dia sedang bersama Dio dan Kai !"

"Memangnya kenapa ? Kenapa wajahmu jadi  jutek begitu ? Kau cemburu ?" canda Subin sambil mulai tertawa geli.

Jungmin kemudian tersenyum cerah. Dia lega sahabatnya sudah bisa tersenyum lagi. Harapannya selama ini hanyalah, “Semoga Subin bisa hidup dengan bahagia. Tidak masalah dengan siapa”

❅❅❅

Sorak sorai seluruh penonton dan tamu yang hadir membuncah dan mengantarkan langkah Subin menuju puncak panggung yang dihiasi dengan tebaran lampu laser. Langkahnya agak berat, bukan karena dia tidak menginginkannya. Tetapi dia cukup terkejut mendengar namanya dipanggil beberapa menit yang lalu. Dia benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi padanya.

Dia membalikkan badan, dan kini jutaan pasang mata sedang menatap kagum pada dirinya. Badannya dia condongkan ke depan, mendekat ke arah microphone.

Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Terimakasih untuk semuanya..” Begitulah dia memberanikan diri memulai sambutan.

Dadanya kini terasa sakit. Dia susah bernafas. Bukan karena penyakit atau bajunya yang nge-pas badan.
Dia benar-benar bahagia saat ini. Berdiri di hadapan banyak orang yang telah mengapresiasi karya-karyanya.

"Terimakasih untuk penghargaan yang luar biasa ini dan untuk seluruh orang yang telah membantu saya selama ini. Saya berjanji akan lebih berusaha keras dan menghasilkan karya terbaik lainnya." Dia mengakhiri ucapannya dengan sedikit menundukkan kepala. Sorak sorai tepuk tangan kembali memenuhi seluruh isi ruangan. Terdengar beberapa teriakan histeris memanggil-manggil namanya.

Salah satu MC acara memegang pundaknya dan mendorongnya berdiri sedikit lebih maju. “Waaa!!!…Kau hebat sekali… Direktor pendatang baru terbaik dan direktor terbaik 2014 !”

"Di umurnya yang masih sangat muda ini, dia sudah berkarya dan mampu membanggakan kita semua. Filmnya pun tadi mendapat penghargaan Film terbaik 2014. Waaah… " Puji MC yang lainnya sambil beberapa kali menoleh ke arah kami yang berdiri di sampingnya.

"Ah, Terimakasiih.." jawab Subin dengan agak tersipu malu.

"Inilah akhir dari acara kita pada malam hari ini National Movie Award 2014." MC pria berkaca mata yang tadi mendorongnya maju mulai memberikan aba-aba penutupan acara. Semua artis pengisi acara dan pemenang penghargaan mulai memenuhi ruang panggung yang sangat luas. Subin berjalan mundur dan berdiri di samping artis lainnya

"Ya. Terimakasih yang telah menyaksikan acara ini. Dan semoga untuk kedepannya akan ada banyak film berkualitas lagi yang bersaing pada ajang ini." lanjut si MC wanita.

"Saya Yoo Jaesuk" "Dan saya Lee Daehee"

"Sampai jumpa di National Movie Award 2015. Inilah penampilan terakhir - Romance dengan Just You !"

"Siapa ?????? Romance ???" Subin tersentak kaget saat dia mengetahui dia berada satu panggung dengan grup yang populer seantero negeri-Romance. Matanya sibuk menebar pandang ke segala arah mencoba mencari kehadiran seseorang. Terlalu banyak orang, dia tidak bisa melihat secara leluasa.

"Apa yang aku lakukan ???" Katanya menyalahkan diri. Tetapi tetap saja tubuhnya tidak mau menuruti perintah otak. Kakinya mulai berjalan menembus barisan orang di depan. "Dimana dia?? dimana ??"

"Just you, until now is always you ~" Dia mendengar sepenggal lirik yang dia kenal jelas siapa pemilik suara itu. Matanya terus berkeliling.
Langkahnya terhenti saat mendapati orang yang dicarinya sejak tadi sedang berdiri di seberang, di antara kerumunan, sedang menatap ke arahnya. Hatinya kembali sakit, mengingat pria itu di lembaran masa lalunya. Mengingatkan tentang rasa sakitnya cinta pertama.

"Subin !" Panggil seorang pria yang tiba-tiba muncul dan berdiri dihadapannya, menutupi pandangannya. Pria yang menggunakan kostum mirip seperti yang digunakan Jungmin itu, menyapanya dengan senyum manis dihiasi lesung pipi yang dalam.

"Oh, Jinho-a !" Subin mencoba menyapa pria itu, tetapi dia justru mencuri pandang ke seberang, memandang ke arah pria itu lagi. "huh".

"Kenapa ? kau tidak senang bertemu denganku ?" Jinho merasa Subin tidak terlihat senang bertemu dengannya. Sungguh membuatnya khawatir. Khawatir dia membencinya.

"Tidak !" Senyum mulai mengembang di wajah Subin.
Jinho mendekat pada Subin lalu mendekap erat tubuhnya. “Subin, aku benar-benar merindukanmu.” Ucapannya terdengar sangat tulus.

"Aku juga." Jawabn Subin singkat sambil terus memandang ke arah seberang dari balik bahu Jinho. "Dasar Jahat !" umpatnya dalam hati saat melihat pria tadi asik bercanda dengan seorang wanita.

❅❅❅
Dap.. dap.. dap . suara hentakan sepatu Jungmin yang beradu keras  dengan lantai ruang make-up menimbulkan suara berisik.  Subin mengerutkan kening, terheran-heran melihat tingkah sahabatnya yang masih saja kekanak-kanakan setelah tidak bertemu dalam waktu yang lama.

"Subin.. Subin.. !!" jerit Jungmin sambil memeluk erat tubuh Subin.

"Jungmin-a ! Bisa kau lepaskan aku ? aku tidak bisa bernafas !" tangan Subin mencoba melepaskan diri dari pelukan Jungmin, yang menurutnya terasa seperti lilitan ular.

"Oh, maaf." Jungmin melepaskan tangannya. Matanya yang berbinar terus menatap lurus ke arah Subin. "Kau sungguh luar biasa !"

"Terimakasih Jungmin-a." Senyum simpul menghiasi wajah Subin. Dia benar-benar sangat bahagia sekarang. Tapi kebahagiaan itu pudar ketika dia mengingat sesuatu yang menganggu pikirannya sejak tadi.

"Kenapa ?" Tanya Jungmin khawatir melihat perubahan raut wajah sahabatnya yang drastis

"itu..waktunya telah tiba, bagaimana ini ?"

"Subin !" Teriak Jongyeol sambil berlari mendekat ke arah Jungmin dan Subin yang masih berdiri berhadapan, dengan raut wajah yang sangat serius.

"10 tahun lalu.. menurutmu, apakah orang itu masih mengingatnya ?" Subin melanjutkan kalimatnya tanpa menyadari kehadiran Jongyeol di sampingnya.

"Kau masih saja mengingatnya ?" saut Jongyeol, syok.

Subin menganggukan kepala, mengiyakan dengan sedikit ragu-ragu.

"Lupakan dia !" wajahnya yang ceria saat tiba tadi sudah musnah. Digantikan dengan wajah serius dan kesal. Seolah ada awan hitam menyelimuti perasaannya. Sebenarnya dia kesini untuk mengucapkan selamat pada sahabatnya. Tapi seketika mengurungkan niatnya itu.

”Ada apa ini ?” Lagi-lagi seseorang sudah berdiri di samping mereka, tanpa disadari.

"Oh, Jinho, Tidak ada apa-apa" Jawab Jongyeol dengan ceria, mencoba menutupi yang sedang mereka bicarakan.

"Hmm.. Subin-a ! Setelah ini kau mau pergi bersamaku ?"

"Baiklah." Subin mengangguk tanda setuju sambil memaksakan tersenyum.

"Kalian berdua bersenang-senanglah, sudah lama sekali aku tidak melihat kalian pergi berdua." Jongyeol menepuk punggung Jinho lalu beranjak pergi. Jungmin juga mengikuti Jongyeol dari belakang.

❅❅❅

"Kau ingin makan sesuatu ?" Tanya Jinho sambil terus berjalan berdampingan dengan Subin.

"Aku sudah kenyang, mungkin lain kali. Aku sudah makan banyak malam ini. Aku tidak mau perutku meletus" canda Subin sambil tertawa kecil. Candanya berhasil menghilangkan rasa canggung di antara mereka.

"Bagaimana rasanya mendapat penghargaan sehebat itu ?" Jinho menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Subin.

"Sangat senaang, bagaimana denganmu sendiri ? Menjadi artis terkenal dan punya banyak fans?"

"Sangat menyenangkan, tapi juga kadang melelahkan."
Jinho kembali melanjutkan langkahnya, jemarinya yang panjang menyelinap di antara ruang kosong jemari milik Subin. Subin merasakan dengan jelas kehangatan yang mulai membalut telapak tangannya. Dia melihat Jinho di sampingnya tersenyum lembut sambil terus menerawang jauh jalanan malam yang sangat hening. Dalam hati, dia memanggil lirih pria itu dan memohon kepadanya untuk melepas genggaman tangannya. Entah apa yang dipikirkan Subin, tapi itu cukup membuat hatinya meraung kesakitan. Dia tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama. Seharusnya pria itu membencinya bukan malah bertingkah seperti ini
Jinho berhasil menjebak senyuman itu di raut wajahnya. Dia kembali merapatkan jemarinya saat Subin dengan perlahan berusaha melepas genggamannya.

"Bisakah seperti ini sedikit lebih lama lagi ?" tanya Jinho yang sukses membuat Subin salah tingkah. Dia tidak ingin Jinho mengiranya menghindar, hanya saja hatinya benar-benar terasa seperti ditumbuk batu besar saat dia menggenggam tangannya sambil tersenyum seperti itu. Subin tahu, pria itu benar-benar tulus.
Langkah Subin dan Jinho tiba-tiba terhenti saat melihat dua orang berjalanan beriringan mendekati mereka. “Kenapa ada dia disini ?” gerutu Subin saat mendapati salah seorang dari mereka adalah pria tadi yang terus dipandanginya saat di atas panggung.

"Joowon hyung!" Panggil Jinho pada pria itu sambil melambaikan tangan.

jangaaaan panggill…!!" pinta Subin dalam hati. Nyatanya dia sudah terlambat. Dia menyadari pandangan Joowon sudah menuju ke arah mereka berdua, lalu mengumpat dalam hati "Matilah aku !

"Oh, Jinho-a ! mau pergi kemana kau ?" tanya teman Joowon yang berjalan bersamanya. Taehyun.

"Oh Subin-a ! Lama tidak bertemu.. Bagaimana kabarmu?" tanyanya setelah mendapati dirinya mengenal wanita yang berdiri di samping Jinho. Bahkan belum sempat memberikan kesempatan pada Jinho untuk menjawab pertanyaan yang diberikannya.

"Sangat baik." jawab Subin singkat. Kepalanya sedikit menunduk, berusaha menghindari tatapan mata Joowon. Dia benar-benar belum siap bertemu dengan Joowon. Tapi Joowon sudah berdiri tepat di depannya. Ini sangat gila !

"Ah, sebentar ! Darimana kalian saling mengenal ? Kalian berkencan ?" Taehyun kembali membanjiri keduanya dengan pertanyaan-pertanyaan -Subin berdoa dalam hati agar pertanyaan seperti itu tidak meluncur dari mulut Taehyun- saat melihat tangan mereka saling menggenggam. Subin tercekat tidak tahu harus menjawab apa, otaknya berpikir keras mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan gila itu. "Apa yang harus ku katakan ? bagaimana ini?" tanyanya berulang-ulang dalam hati.
"Iya, kami berkencan." jawab Jinho mantap sambil mengangkat genggaman tangan kami ke udara. Berusaha menunjukkannya pada mereka. Kepala Subin mendongak mencoba melihat ke arah wajah Jinho. Dia mencoba mengulang kembali ucapan Jinho dalam benaknya perlahan. Dia jelas-jelas tidak salah dengar, apalagi salah mengartikan.

Apa dia bercanda ?

"Kami bertemu saat belajar di Universitas yang sama." lanjut Jinho membuat ruang diparu-paru Subin menyempit.

"oh, begitu." Taehyun menganggukkan kepalanya perlahan sambil mencerna kata-kata yang baru saja dia dengar.

"Taehyun-a ! Ayo cepat, kita harus cepat pergi." ajak Joowon sambil menarik lengan Taehyun.

"Sampai bertemu lain kali." lanjut Joowon pamit.

Subin tersenyum ke arah dua pria itu yang mulai berjalan melewatinya. Jantungnya berdetak begitu kencang saat mencium wangi parfum yang sangat familiar menghambur ke wajahnya, saat Joowon melewatinya. “tapi bagaimana bisa Joowon melewatinya dengan ekspresi datar seperti itu?” “Apa aku benar-benar telah dilupakannya?” pikirannya kacau, kepalanya seakan mau pecah.

Greeting from the Author

Hello,
this is my first project on writing ~ A Tale of First Love
I'm sorry if there any lacks on my works , but I'll do the best for this first project. Please keep follow and support this project until the end.


I will be very grateful and thankful if you leave comment for correction in the future.
Enjoy the show~ 
 
-Author-

A Tale of First Love [ENG] - Cast and Trait



Cast and trait
  • Jang Subin (수빈) , Movie and Theater student college class 2012. Never dating a man before, “hooked in love story is really tiring, I just want date a man and then marry him”. She just ordinary girl who doing everything on her own way.
  • Lee Joowon (주원), Music Art student college class 2010. He really believe that first love never work and avoid dating someone who never dating before. He is really handsome and has manly-look. he looks like a prince who come out from a manga, so that not surprising if many girls looking at him. Outside, he is really calm and a bit quite, but inside you can found out that He has warm heart and jokes often.
2012 Music Art line
  • Byun Jung-min (정민). Subin’s childhood and best friend. He really closes to Jongyeol, so that Subin called them ‘crazy couple’. Screaming is his hobby, You can’t count how many he screams in a day. He’s very shameless “shy isn’t my style.” He loves babbling. But exactly, he’s a real talented man. You’ll fall in love while you see his eye smile, really cute.
  • Park Jongyeol (종열). Subin’s best friend and also Jung-min’s couple. He is the brightest one in his class, never feel gloomy. He really loves his guitar and wear a hat.  He also likes babbling like Jung-min does. Even a huge hall can filled just with their voice. You can imagine how noise if both of them speak at one time. Indeed, they are the best friend figure, you can tell everything to them comfortably. When you have some troubles, they’ll give you great advices and help you pass it.
  • Zhang Wei (张伟 ) or know well as Jinho (진호), A student transfer from China. A handsome man who has sweet dimples on his cheeks. He really a good person and devote to his grandparents who have grown up him.
  • Minho (민호). Joowon’s favorite junior. He closes to Joowon and hang out together often. Such an enjoyable person.
Other
  • Lee Taehyun (태현). Joowon’s bestfriend. Music Art class 2010.
  • Nancy. Subin’s senior. Movie and Theater class 2010
  • Lim Yujin. Music Art class 2011.