"Cinta ?" tanya Subin terkejut. Berpuluh-puluh lekukan menghiasi keningnya sedangkan mulutnya tidak bisa berhenti menganga.
"Iya, cinta, memang kenapa ?" jawab Mr.Kim sambil terus menyoret-nyoret sesuatu di halaman bukunya.
Mr.Kim adalah dosen pembimbing akademiknya. Dia sudah terkenal angker
di antara para mahasiswa se-universitas. Kalau nilai mahasiswanya turun
sedikit saja, Dia akan memanggilnya dan kemudian menjejalnya dengan
kuliah filsafatnya yang antah berantah.
"Mr.Kim, bisakah saya mendapat genre lain ? seperti Thriller?
Fantasi? Komedi? kenapa harus tentang cinta ?" Subin mulai terlihat
putus asa karena pilihan Mr.Kim yang dianggapnya absurd itu.
Setiap tahunnya seluruh mahasiswa seni harus membuat suatu karya yang
nantinya akan dipentaskan dalam sebuah panggung seni yang sangat
meriah. Karena Subin mengambil sub-study kepenulisan naskah maka dia mendapat jatah membuat naskah drama yang akan dimainkan oleh mahasiswa lain yang mengambil sub-study akting, sesimpel itu saja. Tapi baginya ini adalah pertarungan hidup mati.
"Tidak bisa !" Mr. Kim masih asik menggores-goreskan pena antiknya ke lembaran bukunya.
Hari ini dia tetap terlihat modis dengan baju hangatnya yang katanya
dia beli di Eropa. Usianya mungkin sudah melebihi setengah abad, tetapi
selera fashionnya tidak kalah dengan mahasiswanya. Bahkan pernah ada
mahasiswa yang dia komentari habis-habisan hanya gara-gara dia memakai
kaus v-neck dengan dobelan kaus v-neck juga. Katanya sama sekali tidak
keren. Entahlah.
"Kenapa harus cinta ?" tanyanya berulang-ulang heran. Dia harus tahu
mengapa Mr.Kim memilihkan genre yang menurutnya lebih mengerikan
ketimbang bertemu langsung dengan alien.
"Nilai kamu belakangan ini sangat turun ! Kau tahu kan ? Lagian genre
romance bukankah paling mudah ? Kau bisa menaikkan nilaimu !" jelas Mr.
Kim dengan intonasi yang semakin naik.
"Tapi, bukankah yang membuat nilaiku turun karena genre itu? Nilaiku
justru bagus di genre lainnya. Tolong Mr.Kim." Subin mengusap-usapkan
telapak tangannya di depan wajah, memohon pada Mr.Kim untuk mengubah
keputusannya.
"Bagus kalau begitu ! Berarti kau bisa mengembangkan kemampuanmu di
genre romance. Kalau kau mengambil genre lain, kau bagaikan burung dalam
sangkar." ujarnya sambil memutar kursi duduknya kembali menghadap ke
meja.
"Sudahlah. terima saja dan lakukan yang terbaik. Aku yakin kau bisa
melakukannya." kata-kata terakhir Mr.Kim ini entah kenapa terdengar ada
benarnya juga. Sepertinya keputusannya sudah bulat. Subin benar-benar
tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali menerimanya.
"Baiklah, saya pamit Mr.Kim." Subin menundukkan kepalanya lalu bergegas pergi keluar dari ruang dosen.
~~~
"AAAAAKKK ! Benar-benar gila !" teriakan Subin menembus hiruk pikuk kantin fakultas siang ini. Sayangnya volume
suaranya masih kalah dengan kebisingan yang semakin menjadi-jadi.
Kepalanya terasa sangat pening memikirkan obrolannya dengan Mr. Kim tadi
pagi, ditambah kebisingan di tempat itu membuat kepalanya seakan
mendidih.
"Hahahahahahaaa~" Jungmin tertawa terbahak-bahak setelah mendengar
cerita Subin yang kebagian genre romance di panggung seni tahun ini.
"Baru saja dia bilang nilaku turun, aku harus menaikkan nilaiku. Tapi
saat aku mengatakan nilaiku jatuh karena genre romance justru dia
bilang aku harus mengembangkan bakatku, seperti burung dalam sangkar
katanya. Dia sebenarnya ingin menolongku atau malah menjatuhkanku sih ?
benar-benar tidak konsisten" gerutu Subin sambil mengacak-acak
rambutnya, frustasi. Badannya lengser turun dari posisi duduk awalnya.
"Kau bahkan belum pernah berkencan, bagaimana caranya kau membuat
naskah dramanya ? Ah, kau bisa mengkhayal ! Mengkhayal sedang berciuman
dengan seorang pria seperti ini ?" Jungmin memonyong-monyongkan bibirnya
membayangkan Subin akan melakukan hal yang sama.
"Ya!" Subin mendorong paksa wajah Jungmin yang mulai mendekatinya. Tanpa disengaja tangannya menyentuh bibir Jungmin yang
monyong saat mendorongnya tadi. "Iuuhhh.." desis Subin jijik sambil mengelap telapak tangannya ke bagian samping kemeja denim yang
digunakan Jungmin.
Jungmin tidak bisa menahan tawanya saat melihat nasib sial yang terus saja menimpa sahabatnya itu. Seketika Jungmin menghentikan tawanya dan terdiam dengan raut muka serius. "Jungmin-a ? Kenapa ?" tanya Subin khawatir. "Tidak apa-apa, aku hanya terpikir mungkin karena kau terlalu dekat denganku sejak kecil dan juga dengan Jongyeol jadi kau tidak bisa berkencan. Aku.." Subin memotong kalimat Jungmin, dia tidak ingin mendengar hal seperti itu lagi darinya. "Jungmin-a! Mana mungkin ! Jangan pernah berpikir seperti itu lagi ! Kau dan Jongyeol adalah sahabat baikku, yang sudah menjagaku selama ini. Aku hanya belum menemukan pria yang pantas berkencan denganku." Jungmin mengangguk setuju sambil mencoba mengembalikan mood baiknya.
"Makanya … carilah pacar ! Di usiamu sekarang ini, orang-orang tidak
akan mempercayai kalau kau sama sekali belum pernah berkencan. Yang ada
mereka mengira kau lesbian. Jadi aku dan Jongyeol tidak merasa lebih bersalah padamu." lanjut Jungmin sambil menyeruput Ice Mochachino yang belum lama tersaji di depannya.
Subin mencibir kesal. “Aku pernah menyukai pria! Dan itu bukan kesalahanmu sama sekali”
"Aku tidak sedang membicarakan tentang menyukai seorang pria. Kalau
itu sering sekali kau melakukannya. Tapi itu hanya perkataanmu saja !"
Jungmin terbayang kejadian beberapa bulan yang lalu. Subin berkunjung
ke rumahnya, katanya dia ingin mengatakan hal yang sangat penting, hal
yang sangat menyangkut hidup dan matinya. Saat dia tibai di rumahnya,
dia dengan semangat dan berbinar-binar mengatakan “Aku menyukai
Jihoon-seonbaenim.” Kalau ditanyai apa yang dia suka darinya, dia
menjawab “Kata Hyejin, Jihoon-seonbaenim sangat romantis dan setia.”
Hyejin ? Hyejin teman satu kelas Subin yang selalu saja mengejar setiap
senior keren yang ditemuinya. Hyejin sepertinya mempunyai jiwa fangirl
yang sangat kuat. “Bagaimana bisa Subin mempercayai perkataan gadis
seperti itu?” pikir Jungmin keras. Kejadian ini tidak hanya satu kali,
tapi berkali-kali. Jungmin mulai cemas dengan keadaan sahabat gadisnya
itu.
"huh.." Jungmin menghembuskan napas panjang dengan tatapan mata kosong.
"hey ? Jungmin-a ? Kau kenapa ?" Suara Subin membuyarkan lamunan Jungmin.
"oh, tidak apa-apa." jawabnya sedikit tersentak kaget.
"Ah itu Jongyeol !" Subin menunjuk ke arah Jongyeol yang sedang
mengantri di sebuah counter makanan. Jungmin langsung menghambur ke arah
Pria tinggi itu. Mereka bukan gay atau semacamnya, tapi Subin sangat
suka memanggil mereka dengan sebutan couple.
Jungmin berdiri di samping Jongyeol, tapi sepertinya Jongyeol belum
menyadarinya. Dia terus saja mengobrol dengan Dio, teman satu kelas
mereka. Sangat terlihat jelas sekarang Jungmin mulai kesal karena merasa
tidak dihiraukan oleh Jongyeol.
"Kenapa ?" Subin menggoda Jungmin yang sudah kembali duduk di
bangkunya. Jungmin hanya terdiam, memangku dagunya dengan kedua tangan
sambil mencibir.
"Jongyeol tidak menghiraukanku.." baru saja dia menyelesaikan
kalimatnya, Dia kembali beranjak dan mendekati Jongyeol sekali lagi.
Jongyeol hanya bertingkah seperti "oh, ada kau" ke Jungmin. Jungmin
tambah kesal dan berjalan kembali ke bangkunya. Baru beberapa langkah
berjalan, Jungmin kembali berbalik, kemudian menendang pantat Jongyeol
keras. "Awww!" jerit Jongyeol kesakitan.Jungmin berjalan kembali sambil
tertawa geli.
~~
"Cinta ? Cerita apa yang bisa kutulis tentang cinta ???" pikir Subin
keras sambil terus memandangi dokumen kosong di laptopnya. Jarinya sudah
menyentuh keyboard tapi belum sepatah katapun tertulis di sana.
"Kau adalah dewi yang turun dari khayangan, aku sangat mencintaimu."
Pointer yang tadi hanya berkedip-kedip akhirnya berjalan maju saat
jari-jari Subin mulai menekan tombol-tombol di keyboardnya bergantian.
"Ahhh menjijikan !!!!" Teriaknya sambil menghapus kembali kata-kata yang baru saja diketiknya.
"Aku butuh sesuatu yang elegant, tapi cinta itu memang
menjijikan !” gerutunya tak henti-henti. Tanpa dia sadari, beberapa
pasang mata sudah meliriknya dengan tatapan sinis, memperingatkannya
kalau dia sedang berada di perpustakaan bukan di hutan. Subin hanya
tersenyum singkat lalu kembali menatap serius ke layar dokumen yang
berwarna putih bersih.
"Idee… idee. idee, aku butuh ide sekarang …" Bibir Subin komat-kamit
seperti sedang membaca mantra sakti agar dia bisa segera menemukan ide
cemerlang dan menyelesaikan naskah secepatnya.
"Ahh, kau ini berisik sekali ! Bisakah kau diam ? Kau mengganggu
tidurku." Kesal seorang pria yang sedari tadi duduk di seberang tempat
duduknya. Pria itu sudah tertidur pulas sejak Subin datang. Dia
menggunakan buku sebagai bantalan yang dapat menahan berat kepalanya.
Tapi kini pria itu terbangun karena suara Subin memenuhi lorong gelap di
dalam telinganya, membuat kebisingan yang lama-lama semakin
mengganggunya.
"Ini perpustakaan, kau tidak boleh berisik seperti itu." lanjutnya
sambil menunjuk-nujukkan jarinya ke arah Subin yang menatapnya dengan
tatapan tidak peduli.
"Ini memang perpustakaan, tapi kau malah enak-enakan tidur di sini.
Ini bukan kamar asrama." tutur Subin santai, seolah kejadian tadi bukan
salahnya sepenuhnya.
Subin kembali menatap ke layar laptopnya. Dia sadar pria itu sedang
memasang muka kesal karena kelakuannya. Tapi dia tidak peduli. Sekilas
matanya tertuju pada judul buku yang tadi digunakan pria itu untuk
bantalan.
"Sebentar.." Subin menarik paksa buku yang sebentar lagi akan kembali menjadi tempat pendaratan kepala pria itu.
"Apa-apan ini?" teriak pria itu kesal.
"Eissh kau ini berisik sekali."
A Tale of First Love.
Subin membaca perlahan tulisan besar yang tercetak di cover buku itu.
"Waah, sepertinya bisa dijadikan referensi bagus." pikir Subin sambil tersenyum puas.
"Aku pinjam buku ini!" Pinta Subin tanpa menunggu jawaban dari pria
itu. Dia langsung mengemasi barang-barangnya dan beranjak pergi keluar
dari ruang perpustakaan yang mulai ditinggalkan pengunjungnya.
Pria itu hanya menatapnya heran dan kembali tersadar kalau Subin
serius mengambil buku itu darinya. Lalu berlari mengekor di belakangnya.
"hey!" Langkah Subin terhenti mendengar seseorang memanggilnya dari
belakang. Pria tadi berhenti berlari dan mulai menata napasnya mencoba
untuk berbicara.
"Kenapa ? Aku hanya meminjamnya, jangan khawatir aku akan
mengembalikannya. Aku tidak akan mencurinya darimu." jelas Subin santai.
"Tidak boleh !" tolak pria itu yang sudah berhasil menata napasnya.
Dia mulai melangkahkan kakinya mendekati Subin yang berdiri tidak jauh
darinya.
"Kau tidak mempercayaiku ? Kau butuh sesuatu seperti.. kartu
mahasiswa?" Subin mulai merogoh-rogoh isi tasnya mencari keberadaan
dompet cokelat miliknya.
"Aku tidak perlu barang seperti itu !" tambah pria itu.
"Lalu ? Aku sangat membutuhkannya… Aku akan membayar biaya sewanya…
atau kalau kau butuh sesuatu aku pasti akan membantumu, jika kau
meminjamkannya." pinta Subin sambil memeluk erat buku yang tidak terlalu
tebal itu.
"Aku bilang tidak bisa." kata pria itu sambil mengambil paksa buku dari pelukan Subin.
"Heyy.." Subin terus menatap buku itu seperti seorang anak kecil yang
mainannya direbut oleh temannya dan bersiap merengek meminta mainannya
segera dikembalikan.
"Aku juga membutuhkan buku ini ." ujar pria itu singkat tanpa menghiraukan raut memelas yang ditunjukkan Subin.
"Tolong akuu.. Kau bisa membunuhku jika kau tidak meminjamkannya." Subin kembali merengek di hadapan pria itu.
Pria itu hanya melirik dengan tatapan tajam ke arah Subin lalu
segera melangkah pergi meninggalkan Subin yang sebentar lagi mungkin
akan merengek lebih hebat lagi.
"Dasar pelit !" teriak Subin sambil terus menatap punggung pria itu yang semakin menjauh

