The Fate [One person who loves raindrop]


Titik-titik air meluncur deras dan meninggalkan beberapa genangan dalam. Tanah cokelat sudah bergantikan dengan lumpur yang siap menggelincirkan siapa saja yang melintasinya. Tapi Ia tidak mungkin tetap tinggal di sana, menunggu sampai hujan berhenti. Ia menoleh dan matanya memperhatikan jam yang tergantung di dalam toko kecil itu. Ia benar-benar harus segera pergi.
Ia menaruh tas cokelatnya di atas kepala lalu mulai melangkahkan kakinya memasuki genangan air. Kakinya berlari dengan setengah berjinjit, mencoba menyelamatkan sepatunya walau usahanya mungkin akan sia-sia. Kakinya terhenti saat matanya menangkap keberadaan dua anak sedang menunggu di halaman rumah. Meringkuk berdampingan dengan anjingnya yang hanya menoleh tanpa tahu apapun. Salah satu anak itu terlihat lebih besar. Kemungkinan mereka adalah kakak beradik. Mereka memandangi hujan tanpa banyak bicara. Sang adik menoleh polos bertanya pada kakaknya “kapan ayah dan ibu pulang ? Apa mereka baik-baik saja?”. Sang kakak hanya berdeham meyakinkan. Tidak ada pertanyaan lain dari sang adik, ia menutup matanya yang seakan sedang menikmati keadaan di sekelilingnya.
Bagaimana ... ? Bagaimana ia bisa mendengar percakapan mereka ? Jarak mereka memang tidak terlalu jauh, tapi juga tidak mungkin suara mereka akan terdengar dari tempatnya berdiri, apalagi suara hujan itu pasti mengganggu.
Rasa dingin mulai menjalari tubuhnya. Ia melihat dirinya sudah basah kuyup, rambutnya, baju hangatnya, bahkan sampai sepatunya, seluruhnya basah. Sudah berapa lama ia berdiri di sini ?
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangan padanya yang masih sibuk mengamati bajunya yang benar-benar tidak bisa tertolong. Ia mengangkat kepalanya, seorang pria berdiri di hadapannya, dengan sebuah payung hitam besar. Matanya tajam tetapi juga muram... walaupun pertama kali ia melihat mata itu, ia yakin pria di depannya itu... mungkin orang yang tulus. Siapa dia ?
Pria itu tersenyum padanya, bibirnya membentuk garis lengkung sempurna. “Cepatlah, kau sudah basah kuyup.”
Ia meraih tangan pria itu, walau ia sama sekali belum mengerti apa mau pria itu. Tangan itu terasa hangat... sangat. Serasa kebekuan yang dirasakannya beberapa saat lalu, menghilang dalam sekejap. Tubuhnya tertarik masuk dalam rengkuhan payung hitamnya. Lalu mereka berjalan mendekati tempat dimana dua anak tadi berada. Pria tadi menyelimutinya dengan handuk besar yang hangat, entah dari mana ia mendapatkannya. Ia bisa melihat dua anak tadi masih dalam posisi yang sama tidak jauh dari mereka. Tapi sepertinya keberadaan mereka sama sekali tidak mengganggu dua anak itu. Mereka tetap bergeming seperti menikmati keadaan.
“Kau tahu siapa mereka?”  tanyanya pada pria di sampingnya
Pria itu hanya berdeham seperti yang dilakukan sang kakak pada adiknya.
“Kau tinggal di sekitar sini ?”
Pria itu berdeham sekali lagi.
“Lalu kau tahu apa yang sedang dua anak dan satu anjing itu lakukan di luar ?”
Pria itu tersenyum, “Mereka sedang menunggu orang tua mereka pulang bekerja. Dan juga.. menikmati hujan.”
“Menikmati hujan ?”
Kali ini pria itu tidak bersuara, tapi ia masih bisa melihat senyum masih terulas di wajahnya dengan mata tertutup. Seperti ketika orang sedang menikmati sebuah lagu.
Dengan posisi yang masih belum berubah, pria itu mulai menggumam, seperti dalam tidurnya. “Aku suka hujan. Aku suka mendengar bunyi hujan yang jatuh...sejak kecil. Karena itu aku selalu menantikan hujan.”
“Huh?” desahnya tidak mengerti. Ia kemudian kembali memperhatikan dua anak di sana, dan kemudian mulai terfokus pada sang adik. Ekspresinya... Ia memutar kepalanya dan memperhatikan pria di sebelahnya. Ekspresi wajah mereka sama, hampir sama persis. Sebenarnya siapa pria itu ? Apa hubungannya dengan dua anak itu ?
“sebenarnya kau siapa?” tanyanya penasaran sekaligus curiga. Ia melihat pria itu membuka matanya lalu menatapnya dengan serius. Seketika ia bisa merasakan darahnya mengalir lebih cepat. Pria itu kembali tersenyum tanpa ada satu katapun keluar dari mulutnya selain “sampai berjumpa kembali”.