lloviendo [Chapter 2]



Welcome to Madrid, Spanyol...
Akhirnya setelah perjalanan hampir 18 jam dari Indonesia, Viena menginjakkan kakinya di Adolfo Suárez Barajaz Madrid International Airport. Seluruh badannya terasa pegal akibat duduk terlalu lama selama di pesawat. Sekarang ia benar-benar butuh rebahan sebelum tubuhnya remuk. Syukurlah ia sudah sampai dengan selamat walau tadi sebelum berangkat ia khawatir setengah mati. Ini pengalaman pertamanya naik pesawat. Bagaimana kalau terjadi turbulensi atau bahkan hal yang lebih mengerikan?
Ia meregangkan tangannya ke atas lalu mendesah puas. “SPANYOOOOL!!!”
Orang-orang yang berlalu-lalang melewatinya, diam-diam mengamati dengan tatapan aneh dan curiga. Biarlah, toh orang-orang itu tidak akan mengerti ucapannya. Ia ingat ia harus menelepon Papa segera. Tangannya seketika merogoh saku celana dan menarik paksa ponselnya keluar dari tempat sempit itu. Setelah menekan beberapa tombol disana, ia mendengar serentetan nada sambung tanpa henti. Tumben, Papa tidak langsung menjawab. Biasanya Papa langsung menjawab di nada sambung kedua.
“Halo.. oh Papa. Kenapa telat sekali menjawabnya? Aku sudah sampai.. oh.. Abuela sakit? Lalu?.. oh ya aku mengerti.. aku harus kemana?.. oke.. ya Papa, tidak masalah. Yasudah aku tutup telponnya. Bye.”
Ia berkacak pinggang lalu bergumam. “Oke.. Karena Papa harus menjenguk Abuela, itu artinya aku harus di Spanyol sendirian selama dua hari ke depan. Setidaknya aku masih punya tempat tinggal. Masalah yang lain kuatur setelahnya.” Senyum masam mengembang di bibirnya. Keadaan ini memang sangat..tidak baik. Tapi mau bagaimana lagi?
Ia menekuk lengan bajunya sampai ke siku lalu mengenakan topi warna abu-abu yang sedari tadi menggantung di tasnya. “SEMANGAT !” katanya pada dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan di depan wajah. Kakinya mantap melangkah ke luar dari bandara.
 ***
“Miss. Anda yakin ini tempatnya?” tanya supir taksi dengan suara parau. Pria berjanggut putih itu menatap cemas ke arah luar melalui jendela. Untunglah Viena mendapatkan jasa taksi yang supirnya fasih berbahasa Inggris. Jadi, ia tidak perlu menggunakan bahasa tubuh untuk menerangkan segala sesuatu.
“Bukankah ini tempat yang kusebutkan tadi, sir ?”
Supir itu mengangguk pasrah. “Kau sepertinya orang baik.”
“Huh?” Viena mengernyit tidak mengerti. Kenapa juga ia berkata seperti itu?
“Tidak apa-apa.” Jawabnya singkat.
Viena memandang ke luar jendela sekali lagi. Sampai Papa kembali, ia diminta tinggal di hotel tempat Papa bekerja. Supaya setidaknya ia terurus dengan baik oleh pelayanan dari hotel. Banyak staff hotel yang mengenal baik Papa sehingga Papa tidak akan mengkhawatirkan keadaannya selama pergi.
Tidak ada masalah dengan hotel itu. Bangunan besar dan indah itu tampak sangat terawat, baginya tidak ada yang perlu dicemaskan.
Ia tiba-tiba ingin menarik kata-katanya kembali saat teringat dengan bangunan-bangunan yang dilewatinya sejak memasuki kawasan ini. Sepertinya banyak sekali bar di sekitar hotel. Jangan sampai ia bertemu dengan pria-pria tua yang sedang mabuk. Jangan sekali pun! Viena mengatupkan kelopak matanya erat sebelum bayangan menakutkan hasil imajinasinya terlihat jelas. Ia hanya perlu diam di kamar selama dua hari dan ia tidak perlu khawatir bertemu dengan pria tua tukang mabuk.
“Hati-hatilah.” saran supir taksi setelah menerima uang dari Viena.
“Kumohon, jangan membuatku tambah cemas.” pinta Viena dalam hati.
Viena membalikan tubuhnya dan mengamati dengan hati-hati bangunan besar di hadapannya. Beberapa pria terlihat keluar dari hotel. Mereka menggunakan pakaian serba hitam. Dua orang di bagian paling belakang menggunakan tuxedo hitam dan kacamata hitam. Mereka terlihat seperti pengawal. Lalu ada satu pria yang juga mengenakan tuxedo hitam sedang menenteng dokumen di salah satu tangannya. Beberapa kali ia terlihat menoleh ke samping lalu seperti membisikkan sesuatu, mirip seorang sekertaris atau mungkin asisten. Dan yang satu lagi, pria tua dengan janggut putih panjang. Ia menggunakan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu merah. Kepalanya ditutupi topi besar yang juga berwarna hitam. Tangannya memegang tongkat yang kadang-kadang digunakan untuk membantunya berjalan atau menunjuk ke suatu arah untuk... memerintah ? Pria tua itu mengarahkan tongkatnya ke pintu mobil limosin hitamnya yang terlihat berkilau. Lalu segera saja dua pengawal yang ada di belakangnya langsung menghambur ke arah mobil dan membukakan pintu untuknya.
Viena terperangah untuk beberapa saat. Matanya mengerjap tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Pemandangan itu tidak hanya sekali tetapi berkali-kali. Dan semuanya sama persis. Pengawal, sekertaris, bos dan mobil limosin. Baginya mereka seperti sekumpulan mafia yang baru saja selesai dari sebuah pertemuan gelap, seperti di dalam film yang pernah ia tonton.
Pandangan Viena kini tersita pada sebuah papan kecil di depannya. Sepertinya penunjuk arah parkir. Tepat di bagian bawah papan tertulis “Iliabeny Hotel”. Sama seperti yang dituliskan Papanya lewat email. Tapi hatinya masih belum tenang. Entah kenapa ia sangat yakin hotel di depannya itu bukan hotel yang ia maksud. Sekilas ia melihat serentetan huruf kapital tertulis indah di pintu masuk hotel yang terbuat dari kaca ukuran jumbo. ILIABENY HOTEL.
“Ilia – beny .” ejanya lirih tak terlalu yakin. Segera ia memeriksa isi email yang dikirimkan Papa tadi pagi. “Bagaimana cara membaca yang satu ini? Iliabeny juga kan? atau... ” Ucapannya terhenti setelah otaknya mulai menangkap sesuatu yang aneh dari kedua tulisan itu. “Jangan-jangan yang dimaksud Papa LLIABENY HOTEL ! bukan ILIABENY HOTEL !” teriaknya kesal. Setelah perjalanan jauh yang membuat seluruh badannya terasa hampir remuk, lalu Papa mendadak harus pergi dan menyuruhnya menginap di hotel sementara waktu, kemudian ia pergi ke hotel – yang dipenuhi orang-orang aneh dan menakutkan – yang salah hanya karena ia keliru melihat satu huruf. Kedongkolannya benar-benar sudah membuncah sampai ke ubun-ubunnya. Rasanya ingin sekali ia berteriak sekuat mungkin menggunakan tenaga terakhir yang ia punya. Tapi rasanya itu juga tidak mungkin mengingat tenaganya yang benar-benar hampir habis. Ia lebih baik menggunakannya untuk mencari taksi lalu pergi dari tempat mengerikan itu.
***
Kenapa banyak sekali bar di sini ?
Viena memandang sekitarnya sambil bergidik ngeri. Matanya dapat melihat dengan jelas puluhan bar berbaris rapi di sepanjang jalanan. Mungkin karena masih siang sehingga tidak terlihat pengunjung di bar-bar itu. Jalanannya pun sangat lengang. Hanya beberapa mobil limosin yang terlihat lalu lalang. Itu pun sudah 15 menit yang lalu. Ia kini bisa melihat jalan lurus dengan tanah kering yang terasa sangat panas karena terpapar sinar matahari.
Ia menarik kopernya dengan lebih kuat sambil mempercepat langkahnya. Ia harus  mendapatkan taksi dan pergi dari tempat ini segera.
“Kenapa tidak ada taksi yang lewat daerah sini ?” gerutu Viena sambil beberapa kali menoleh. Siapa tahu ada taksi dari arah belakangnya.
Begitu ia menoleh kembali, langkahnya seketika terhenti. Keringat dingin mulai mengucur deras. Tubuhnya membeku dan agak gemetar. Pandangannya tak lepas dari sekumpulan pria paruh baya dengan tampilan yang agak berantakan berdiri di depannya.
Mereka memasang senyuman yang jelas-jelas membuat Viena justru ketakutan setengah mati. Apa mereka sedang mabuk ? Oh, God.
Salah satu pria yang mengenakan jaket kulit lusuh mulai melangkah mendekati Viena. Ia mengamati Viena teliti tanpa melepaskan seringainya. Ia berdeham pelan. “Kenapa buru-buru begitu ?” Ia mengulurkan tangannya hendak merangkul pundak wanita yang berdiri kaku di depannya namun wanita itu segera mundur dengan ketakutan.
Untunglah kaki Viena masih dapat digerakkan walau dengan susah payah. Hampir saja pria itu menyentuhnya. Sekarang ia harus segera mencari jalan untuk kabur dari kumpulan pria menakutkan di depannya.
Pada saat yang sama, seorang pria keluar dari mobil hitam yang sejak tadi terparkir di depan sebuah bar, yang tidak jauh dari tempat Viena berdiri. Tangannya masih menempelkan ponsel di telinga. “Aku tidak mau, sudah berapa kali ku bilang.” Viena sontak menoleh mendengar seseorang berbicara dengan bahasa yang ia mengerti, di tempat yang se-asing ini. Viena menyipitkan matanya agar dapat mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari pria itu. Ia tidak terlihat seperti tiga pria di depannya. Tampilannya benar-benar stylish dan rapi. Ia juga jauh lebih muda di banding pria-pria mengerikan itu. Jadi, tidak mungkin pria muda itu salah satu dari komplotan mereka.
Pria mabuk itu kembali mencoba mendekati Viena. “Kau sendirian ? Bagaimana menemaniku saja ? Aku sama sekali tidak keberatan.”
Viena memang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dikatakan pria itu. Tapi dari wajahnya, ia yakin pria itu berencana buruk terhadapnya. Ia benar-benar harus segera kabur. Tapi bagaimana caranya ? Mereka pasti akan mengejar jika ia lari.
Tidak ada cara lain.
Tanpa berpikir panjang ia berlari ke arah pria yang berdiri tidak jauh darinya lalu merangkul lengannya. Pria itu sempat terperanjat namun tidak mendorong Viena untuk menjauh.
“Kumohon.. Tolong aku..”
 ***
Al mematikan mesin mobilnya lalu mengangkat ponselnya dengan kesal. Kenapa mereka terus menghubunginya ? Sudah puluhan kali orang itu meneleponnya hari ini. Telinganya serasa akan meledak jika mendengarkan suara ponselnya sekali lagi.
“Ada apa lagi ?” tanya Al sambil bersungut.
Ia membuka pintu mobilnya lalu melompat keluar. “Aku tidak mau, sudah berapa kali ku bilang.” Bisakah manajer hotel itu tidak terus-terus memaksanya melakukan semua hal ? Ia bahkan bukan orang tuanya. Tapi setiap kali ia membantah permintaannya, manajer hotel itu akan mengadukannya kepada Papanya. Sungguh... Kalau saja ia bukan pegawai kesayangan Papanya, ia sudah pasti akan memecatnya dari hotel.
Ia mendesah pelan, menyerah pada bujukan manajer hotel untuk menghadiri acara besar nanti malam di hotel. “Yasudah, aku akan datang. Tapi hanya kali ini.” Ia menutup ponselnya lalu melemparkannya ke kursi kemudi. Badannya ia sandarkan pada sisi mobil hitam berkilapnya sambil menunduk.
Huh... Malam nanti ia harus menghadiri pesta besar di hotel. Itu artinya ia harus menyambut tamu-tamu penting Papanya sebagai pewaris hotel. Ia membenci kenyataan bahwa ia harus mewarisi hotel itu. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mengambil alih hotel Papanya.
Ia baru akan meraih pegangan di pintu mobil sebelum seseorang meraih lengannya. Ia tersentak dan segera menoleh. Seorang wanita merangkulnya kuat. Siapa wanita ini ? Kenapa tiba-tiba merangkulnya ? Apa maunya ?
Rasa kesal yang beberapa saat menyelimuti dirinya langsung padam saat melihat wajah wanita itu yang ketakutan. Bagaimanapun ia tidak tega memarahi atau mendorong wanita itu menjauh.
Tiga pria dengan tampilan berantakan memandangi keduanya dengan tatapan sinis. Al mengangguk pelan dan mulai mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Ternyata pria-pria itu yang membuat wanita ini ketakutan. Mereka tidak terlihat asing bagi Al. Kalau tidak salah mereka adalah pekerja di salah satu bar dekat sini.
“Hey..” sapanya pada komplotan itu sambil tersenyum menyeringai. Tanpa perlawanan pria-pria itu melangkah pergi dengan wajah kesal. Sudah tentu mereka bisa mengenalinya sebagai putra Papanya – yang terkenal sebagai salah satu pemegang kendali di wilayah ini –. Itu sebabnya mereka tidak berani berurusan dengannya.
“Mereka sudah pergi. Sekarang lepaskan aku.” kata Al dingin.
***
Viena perlahan melepaskan lengannya dan menjauhi pria itu. Pria yang awalnya nampak baik karena bersedia membantunya tetapi ternyata aslinya sangat dingin.
“Terima kasih.” gumamnya lirih.
Pria itu beranjak pergi namun ia kembali menarik lengannya. Bukankah pria itu orang Indonesia ? Ia tidak boleh melewatkan kesempatan bagus ini. Mungkin saja pria itu bisa membantunya lagi walau kemungkinannya sangat kecil setelah ia tahu pria itu ternyata sangat dingin dan tidak terlalu ramah.
“Bukankah kau orang Indonesia ? Tadi aku mendengarmu berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Wajahmu juga terlihat seperti orang Indonesia walau mungkin kau punya keturunan Eropa.”
Pria itu menoleh dengan tatapan sinis. “Apa maumu ?”
“Tolonglah aku... aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku tersesat jadi bisa tolong kau beri aku tumpangan atau setidaknya membantuku mencari taksi ? Aku tidak melihat taksi melintas sejak tadi. Jadi...”
“Kau hanya perlu mengikuti jalan itu.” Kata pria itu sambil menudingkan jarinya lalu melengos pergi tanpa menunggu jawaban apapun dari Viena.
“Oh terimakasih... eh!” Tiba-tiba tangannya terasa ditarik dengan keras sehingga membuatnya terasa sangat sakit.
“Kenapa kau mengikutiku lagi ? Bukankah aku sudah menunjukkan jalannya ? Kau harus segera pergi dari sini.” tanya Pria itu sedikit kesal.
Viena mendengus kesal. Apa pria itu pikir ia ingin terus mengikutinya kalau tidak karena gelangnya tersangkut pada jam tangan pria itu ?
Viena mengangkat tangan kanannya yang juga membuat tangan kiri pria itu ikut terangkat. “Lihat ? Aku tidak ingin mengikutimu kalau bukan karena ini.”
 “Lepaskan gelangmu !”
Viena tergelak. “Tidak bisa ! Gelang ini sudah aku kaitkan dengan kencang, jadi hanya bisa dibuka dengan tang atau alat sejenisnya.”
“Kenapa kau melakukan itu ? menyusahkan sekali.”
“Ini gelang pemberian Papa ku jadi aku tidak ingin gelang ini terlepas sebentarpun. Kenapa tidak kau saja yang melepaskan jam tanganmu ?”
“Aku tidak mau. Lagian kalau aku yang melepaskan jam tanganku tidak ada jaminan akan terlepas begitu saja. Gelangmu yang mengait di jam tanganku. Jadi kau yang lepaskan.”
Viena benar-benar tidak habis pikir dengan pria yang dihadapinya sekarang. Bagaimana bisa ada pria se-keras kepala itu ? Ia tidak bisa berdebat terus dengan pria itu, ia harus segera pulang, segera.
Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi mendekat. Sepertinya tidak hanya satu mobil polisi, mungkin belasan ? Suaranya yang menderu keras sontak membuat tempat itu dirundung kekalutan. Puluhan orang berlarian keluar dari bar-bar seperti sedang menyelamatkan diri. Tadi ia pikir tidak ada orang dalam bar-bar itu tapi ternyata dugaannya salah. Syukurlah ia baru menyadarinya dan juga tidak banyak pria lagi yang menganggunya. Tapi kenapa mereka berlarian? Apa mungkin polisi-polisi itu seperti Satpol PP di Indonesia ?
“Hey !” suara pria di depannya seketika membuyarkan lamunannya. “Kalau kau tetap di sini kau tidak akan selamat.”
Tidak selamat ? Apa maksudnya ? Kenapa ia harus ikut lari ? Ia bukan kriminal seperti orang-orang dalam bar itu. Belum sempat Viena mengelak bahkan bertanya, pria tadi menggenggam tangannya dan menariknya pergi sebelum belasan polisi turun dari mobil dan mengejar semua orang.
***
Setelah berlari kurang lebih sepuluh menit akhirnya mereka berhenti di sebuah lorong sempit. Al beberapa kali menoleh ke belakang memastikan sudah tidak ada polisi yang masih mengejar mereka. Syukurlah.. sepertinya usaha melarikan diri mereka sukses. Al menyandarkan tubuhnya di tembok lorong. Napasnya masih terengah-engah. Ia sesekali menoleh ke arah wanita di sampingnya. Wanita itu tampak pucat dan sangat kelelahan. Walau ia benci bertingkah seperti pahlawan di depan wanita, tapi tidak mungkin ia membiarkan wanita itu pingsan di sini. Ia harus melakukan sesuatu. Ia merogoh saku celananya beberapa kali tapi tidak menemukan apa yang dicarinya. Dimana ia meletakan ponselnya tadi ? Oh.. tidak. Ponselnya ada di dalam mobil.
Al kembali menoleh ke arah wanita di sampingnya. Kenapa dengan wanita ini ? Ia tidak berani menoleh ke arahnya. Apa ia gugup ? Al melihat tangannya masih menggenggam tangan wanita itu lalu segera melepaskannya dengan canggung. “Pantas saja.” pikir Al.
Ia hanya menggenggam tangannya. Kenapa harus gugup begitu ? Oh benar, ia bukan wanita Spanyol. Budaya barat dan timur sudah pasti berbeda.
Al tidak terlalu tahu mengenai kehidupan di Indonesia. Walau ia keturunan Indonesia, tapi ia jarang mengunjungi negara itu. Seluruh keluarga besarnya sudah lama menetap di Spanyol. Ia menggunakan bahasa Indonesia hanya pada keluarga besarnya dan manajer hotel itu. Pak Sam – manajer hotel – adalah orang Indonesia yang bekerja pada Papanya dan akhirnya diangkat menjadi manajer hotel.
 “Namaku Al. Al Kohler.”
Al mengernyit. Wanita itu tertegun setelah mendengar namanya. “Boleh aku pinjam ponselmu, señorita?”
“Tidak usah memanggilku señorita. Namaku Loviena. Panggil saja Viena.” jawab Viena sambil merogoh sakunya.
“Oh Tuhan !! Koperku !! Koperku pasti tertinggal di sana.” teriak Viena setelah sadar kopernya tidak ada di sekelilingnya. “bagaimana ini ?”
Al mengadahkan tangannya. “Tenang saja, kau hanya perlu meminjamkan ponselmu padaku.”
“Bagaimana kalau koperku disita polisi-polisi itu ?” Viena tidak bisa membayangkan ia harus berurusan dengan polisi di negara yang sama sekali belum pernah ia datangi. Ini benar-benar mimpi buruk.
“Tentu saja. Mobilku juga. Sekarang bisakah kau serahkan ponselmu ?”
Mobilnya disita dan ia tidak khawatir sedikitpun ? bagaimana bisa ? Apa ia sudah gila ? Viena mengacak rambutnya frustasi. “Mobilmu disita dan kau masih bisa setenang itu ? Lalu bagaimana dengan koperku ? Pakaian dan perlengkapanku ada di sana semua.”
“Bisakah kau tidak sepanik itu ? Sudah kubilang pinjamkan saja ponselmu. Aku akan membantumu menemukan kopermu tanpa berurusan dengan polisi. Mobilku juga. Kau sudah bisa tenang sekarang ?” Nada bicara Al terdengar meninggi kali ini. Wanita itu benar-benar sudah membuat Al kesal.
Dalam satu sentakan, Al mengambil paksa ponsel dalam genggaman Viena lalu memencet beberapa tombol di sana. Ia tidak peduli bagaimana Viena akan menganggapnya setelah ini.
“Halo.. aku tidak apa-apa.. bisakah kau urus mobilku ? tadi aku tidak sempat menyelamatkannya... oh ya koper milik temanku juga sepertinya ikut dibawa mereka, bisa kau mengurusnya juga ?.. ohh.. aku ada di dekat casino milik Papa.. oke.”
Al menutup ponsel itu lalu mengembalikannya pada Viena. Keadaan wanita itu sudah semakin buruk sekarang. Ia harus mencari tempat istirahat segera. Kalau menunggu manajer hotel atau orang suruhannya datang, pasti akan memakan waktu yang lama. Sebaiknya mereka menunggu di casino milik Papa nya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang. Lagian ia juga sering mampir ke tempat itu, jadi ia sudah mengenal baik pekerja disana. Semoga saja wanita ini tidak anti dengan casino. “Ayo.. sebaiknya kita pergi.”
***