-Satnite Story-


"Winny .. !!!!" suara melengking panjang seorang gadis di ujung gudang sontak membuatku kaget dan melepaskan bilik besar yang berusaha kuangkat. Panggilan itu terdengar sangat tidak baik di telingaku. Pasti orang itu akan memintaku melakukan hal lain. Aku mendesah pelan sambil melirik bilik besar yang tadi jatuh tergenlincir dari tanganku. Padahal aku belum sempat memindahkan bilik-bilik itu. Totalnya 12 buah, baru 2 yang berhasil kami pindah, dan orang itu sudah memintaku mengerjakan yang lain ?
"Kalau udah selese mindahin bilik cepet bantu dekor ruangan, oke ?"
Sudah kuduga, gumamku dalam hati.
"Ya !" teriakku lantang setengah mengerang. Dua orang, hanya dua perempuan yang ditugaskan di bagian perlengkapan. Bisa dibayangkan betapa beratnya pekerjaan bagian ini untuk perempuan. Aku awalnya mendaftar bagian dekorasi tetapi entah kenapa bisa aku disesatkan di sini oleh Finda, si ketua gila tadi.
"Sabar Win." saran Giena, perempuan lain di bagian perlengkapan. Aku melemparkan senyum masam lalu kembali melanjutkan pekerjaan. Dan di saat itu lah terdengar suara ponsel yang ternyata milik Finda, ia menerobos keluar melewatiku sambil menaruh ponselnya di samping telinga.
"Haloo..."
Aku dan Giena bersama-sama mencoba memindahkan satu bilik keluar. Sedangkan anggota laki-laki mengangkatnya seorang diri dengan kecepatan dua kali lebih dari kami. Ya bagaimana lagi. Aku berusaha tidak menghiraukan keberadaan Finda sampai suaranya yang melengking menerobos masuk gendang telingaku.
"Winny !!!!"
"Apalagi ?" gerutuku lirih
Jari Finda menunjuk ke arah bilik yang masih kami angkat. "Winny turunin biliknya, kamu tolong beli air mineral dua dus. Ini uangnya"
"Kenapa harus aku?" kali ini emosiku sudah tidak bisa tertahan. Orang itu semakin kelewatan. Wajah antagonis Finda sudah cukup menyadarkanku, ini memang tugasku. Aku menghembuskan napas panjang tanda menyerah "Oke." Ini hanya karena aku tidak mau acara ini berantakan, acara ini proyek tahunan mahasiswa sastra asing. Kalau acara ini gagal, kita tidak lulus.

Aku susah payah mengangkat dua dus berisi minuman mineral sambil berjalan menuju kasir. Seseorang berjalan cepat melewatiku dan menyusup masuk ke antrian. Sial. Aku mengintip dari balik kardus sambil mati-matian menjaga keseimbangan. Sekeranjang penuh barang dikeluarkan satu persatu ke meja kasir. Kumohon ! Jangan gunakan mode slow-motiom, erangku dalam hati. Tanganku sudah tidak mampu bertahan dengan dua kardus ini. Aku menjatuhkannya tepat di depanku. Dan orang di depanku masih sibuk mengeluarkan belanjaannya. Seorang laki-laki berperawakan tinggi kurus dengan rambut cokelat yang  tertata rapi, tidak terlalu rapi tapi yang kumaksud sengaja dibuat agak berantakan. Kulitnya putih dan matanya agak sipit, sepertinya bukan orang asli sini. Setelah belanjaannya selesai dihitung, ia mulai merogoh kantung belakang celananya. "wait." katanya pelan sambil menepuk-nepuk kantung lainnya.
"Bagaimana ?" tanya si kasir.
Aku memutar bola mataku. Dasar orang aneh. Sampai berapa lama lagi ia harus membuatku menunggu ?
"Can you please count hers, too ?" katanya ringan. Apa? Orang itu sudah gila ! Aku melototinya sampai mataku terasa hampir keluar, tapi ia justru tersenyum. "I'm with her here."
Ia memang sudah gila ! Aku tersenyum kecut lalu membuang pandanganku sengit. "Excuse me..." Tiba-tiba tangan orang itu merengkuh pundakku.
"Oh come on! I forget bring my wallet, I will pay back you at home"
Mataku terpaku pada jam dinding yang tergantung di pojok toko, yang membuatku teringat pada Finda. kalau tidak cepat kembali orang itu pasti akan mengomel dan bisa menerkamku kapan saja.
"Oke." aku menaruh kardus-kardus itu pada meja kasir. Tanpa bantuan. Bayangkan betapa gilanya aku sekarang, sama seperti orang yang berdiri terdiam di sampingku tanpa punya inisiatif membantu.

***

Aku menjatuhkan kardus-kardus itu tepat di hadapan Finda.
"Be careful, baby, you might spoil the contents."
Aku mendecakan lidah lalu menggumam. "Itu memang niatku."
"Tadi kamu bilang apa?" Finda melanjutkan setelah aku menggeleng pasrah. "Oke, sekarang lanjutin tugasmu ya. Masih ada dua bilik, khusus untukmu, dear."
Aku memasukan kepalan tanganku yang mengeras ke dalam saku jaket. Tidak ada gunanya melawan dan mengeluh. Semakin cepat megerjakannya semakin cepat selesai.
Aku berjalan setengah dongkol ke arah gudang. Dan suara Finda masih terdengar jelas, aku benar-benar ingin menyelamatkan telingaku dari suara orang evil satu itu.
"Oh, Koizumi-san ? Oh welcome. Nice to meet you."

Aku merasakan ponselku berdering dan segera merogohnya. Tanpa nama. Aku menjawab panggilannya dan menempelkannya ke telinga.
"Hay" sapa orang di seberang sana.
"Siapa ini?" tanyaku lemah.
"Exactly, this is a lot easier than I thought." Sudah bisa kupastikan orang itu adalah laki-laki gila tadi. Sangat jelas terdengar dari logat bahasa inggrisnya yang tidak biasa. Aku sempat memberinya nomer telepon agar ia bisa mengembalikan uangku. Kuharap orang itu bukan penguntit atau sebagainya yang bisa melacak menggunakan nomer teleponku. "What do you mean, I don't have time to listen dumb from you."
"I can pay back to you anytime. Because I'm here. Right behind you."
Aku berputar cepat dan melihat seorang laki-laki tinggi di samping Finda melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum.
Oh-God, kesialan apalagi ini.

***