Like a star [Chapter 1]



15 Juni 2013
Junho menatap lurus ke arah bayangannya di dalam cermin. Wajahnya yang sangat kusam beberapa menit yang lalu, sudah berpoles sedikit make up yang membuat penampilannya kembali terlihat segar. Walaupun begitu tubuhnya tidak bisa berbohong. Dia bahkan menguap berkali-kali selama make-up.
Lee-Junho, artis ngetop sepenjuru Korea Selatan. Tidak ada orang yang tidak mengenalnya dan beberapa anggota lain grup 2PM. Grup yang terkenal dengan anggota-anggotanya yang super manly, tampan, dan tentu saja pujaan semua wanita, termasuk juga Junho. Berpostur tubuh tinggi dan atletis, wajah yang tampan dengan berhiaskan eye smilenya, membuat banyak tawaran film, drama, sampai iklan datang menghampirinya.
 “Junho, segera bersiap-siap ! Sebentar lagi kita take.” kata Sutradara Shin sambil menunjuk-nunjuk jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Junho menganggukan kepalanya tanda mengerti ke arah pria paruh baya bertopi merah di seberang.
Hari ini Junho sedang sibuk menyelesaikan musik video single solo karirnya. Saking sibuknya semalam dia hanya –benar-benar- tertidur selama dua jam. Untunglah make up bisa menutupi bayangan hitam di bawah matanya. Dia sama sekali tidak berniat meninggalkan grupnya dengan aktivitas solo karirnya ini. Dia hanya sedang ingin lebih menunjukkan bakatnya. Banyak orang yang menganggapnya mirip dengan bintang nge-top ‘Rain’. Dia ingin orang-orang mengenal dirinya sebagai Lee Junho bukan seseorang yang mirip Rain. Selama ini dia juga merasa dirinya kurang percaya diri dibanding anggota 2PM yang lain. Maka dari itu inilah kesempatannya untuk menunjukkan bakat-bakat dirinya.
“Sudah selesai Junho.” kata wanita berumuran 30 tahunan dengan rambut ikal yang bertugas merias Junho. “Terimakasih Yoon-sshi.” Junho meninggalkan meja riasnya kemudian bergegas menghampiri Sutradara Shin.
“Oh, kau sudah selesai ?” ucap Sutradara Shin setelah menyadari Junho sudah berada di sampingnya. “Kalau begitu kita lanjut lagi syutingnya.” lanjut Sutradara Shin cepat.
5 jam kemudian.
“Oke cut ! sampai disini kerja kita. Terimakasih atas kerja keras semuanya.” Kata-kata Sutradara Shin barusan menandai agenda syuting panjang – dan melelahkan – akhirnya selesai. Tetapi agenda panjang selanjutnya harus siap dihadapi Junho. Promo dan Tour di Jepang.  Junho akan melewati 1 tahun ini dengan kesibukan oleh pekerjaannya. Mungkin juga dengan kesepian dan kebosanan. Selama promo dan tour dia akan dikelilingi oleh beribu-ribu fansnya, itu bukan berarti dia bisa melepaskan dirinya dari kesepian dan kebosanan. Satu tahun tanpa bermain dan bersenang-senang, Junho harus menghadapi satu tahun itu demi karirnya.
“Hey, Junho !!!!” Seseorang menepuk keras pundak Junho dari balik tubuhnya. “Taecyeon ! Kenapa kau ada di sini ?” tanya Junho segera setelah mengenali pria berpostur tubuh sempurna di sebelahnya.
“Kenapa ? Aku kesini untuk menyemangati proyek solo karirmu,  kau ini bagaimana ?” kata Taecyeon dengan nada menggoda. “Oh ya ? Tapi syutingku hari ini sudah selesai. Kau telat.”
Junho mulai berjalan menuju ruang ganti. Taecyeon mengikutinya dari belakang. “Maaf, Bro ! Tadi aku harus menyelesaikan masalah bisnis dulu. Oke sebagai permintaan maafnya aku traktir kau makan di restoran enak dekat sini, bagaimana ?”
Junho menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Taecyeon. “Deal !”
“Oh bagaimana proyek solo karirmu kali ini ?” tanya Taecyeon tidak lama setelah pesanan makanan sampai di meja mereka.
“Aku berharap ini akan sukses. Lagu-lagunya sendiri aku sangat menyukainya. Semoga saja banyak yang menyukainya.”
Taecyeon berhenti menggerak-gerakan sumpitnya dan memfokuskan tatapannya pada Junho yang sibuk memasukan makanan ke mulutnya. “Mini album ini akan dipasarkan di Jepang, benar kan ?” Junho menengangguk mengiyakan.  “Waah, kau pasti akan sangat sibuk. Waktu kita bersantai juga akan berkurang. Apa kau tidak masalah dengan itu?”
Junho beberapa saat bergeming setelah mendengar ucapan Taecyeon. “Aku baik-baik saja. Aku yakin bisa mengatasi itu semua. Lagian aku juga akan bersenang-senang bersama fans-fansku, lalu apalagi yang ku khawatirkan ?”
“Tapi Junho, setiap orang pasti ingin memiliki waktu privasi. Mungkin setahun kedepan kau tidak memiliki banyak yang seperti itu. Kau tidak kesepian atau kebosanan?”
“Semoga tidak.” Jawab Junho singkat lalu kembali melahap makanan di hadapannya.
“Oh hey, di mini albummu tidak salah single utamanya menceritakan seseorang yang jatuh cinta kan ? kau tidak berpikir kau akan segera jatuh cinta?” goda Taecyeon.
“Eisssh, kau ini bisanya menggoda dan mengusikku saja !” kata Junho sambil berpura-pura kesal. Kemudian mengarahkan sumpitnya menuju mangkuk milik Taecyeon dan mengambil daging di atasnya. “hey, itu daging milikku kenapa kau mengambilnya ?” Junho mati-matian menahan tawa tapi gagal karena melihat ekspresi Taecyeon “itu balasan bagi orang yang berani mengusikku dan menggodaku. hahaha”
“atau jangan-jangan kau sedang jatuh cinta ya ? Lagu itu kau yang tulis sendiri.” Junho menepuk keras pelipis Taecyeon  “Akk.”
“Aku tidak sedang jatuh cinta. Puas kau sekarang ?” Taecyeon membalas ucapan Junho dengan cekikan. “Kau tidak percaya ? Aku menulis itu sambil membayangkan aku sedang memiliki kekasih.”
“Oh..” Taecyeon mengangguk-angguk kepalanya pelan “Sepertinya temanku satu ini sedang  membutuhkan seorang kekasih. Mungkin saja sebentar lagi kau akan menemukan kekasih.”
“Terserah kau saja, Taec”
14 Juni 2013
“hyeonsoo, tolonglaah ...”
Hyeonsoo mendengar seribu kali lebih kata-kata itu sepanjang hari ini. Sampai-sampai telinganya hampir pecah saking bosan mendengarnya. Hyeonsoo menatap sinis wanita yang duduk dihadapannya. Wanita itu memasang wajah memelas dan memohon agar Hyeonsoo iba dan akhirnya mau membantunya.
“Jinseo, sudahlah. Aku sangat lelah mendengarmu memohon sepanjang hari. Aku harus kembali bekerja”
Jinseo teman Hyeonsoo sejak kuliah. Jinseo selalu saja meminta Hyeonsoo mengirimkan barang-barang aneh untuk idolanya. Beberapa tahun yang lalu ketika dia sangat mengidolakan Rain, dia meminta Hyeonsoo untuk mengirimkannya satu paket makanan dengan pernak-pernik simbol hati di seluruh sisi kotak makanannya. Tentu saja Hyeonsoo menolak. Lalu satu tahun yang lalu, dia meminta Hyeonsoo mengantarkan boneka beruang dengan rajutan namanya di bagian perut boneka itu kepada Yoochun JYJ. Hyeonsoo juga menolak tegas saat itu, menurutnya itu sangat memalukan. Intinya, semua permintaan Jinseo selalu ditolak Hyeonsoo. Jinseo selalu saja beralasan tidak bisa mengantarkannya sendiri. Harus mengantar ibu belanjalah, ada janji dengan teman lesnya lah. Hyeonsoo tau sekali Jinseo tidak berani mengantarkannya sendiri. Dia orang yang pemalu.
Hyeonsoo sendiri tidak mau mengantarkan barang-barang itu bukan karena malu, tetapi karena dia sangat tidak tahan berada sekitar fans yang selalu menjerit histeris saat melihat sosok idolanya. Terlalu berisik baginya.
“Hyeonsoo, tolonglaah...” pinta Jinseo sekali lagi. “Tidak mau.” jawab Hyeonsoo cepat. “Ayolah Jinseo... aku sudah susah payah merajut syal merah untuk Junho Oppa.” Jinseo membuka kotak cokelat dan mengambil sesuatu di dalamnya. “Kenapa ada dua syal ?”
“Ini satu untuk Junho Oppa karena dia sedang mempersiapkan solo karirnya. Yang satu lagi...” Jinseo menghentikan kalimatnya dan tersenyum tersipu malu. “ini untuk Jaehoon Oppa yang sedang mempersiapkan pertandingannya.”
Hyeonsoo membelalakan matanya tidak percaya.“Siapa?? Jaehoon ? Pria yang sering kau ceritakan belakangan ini ? Kau yakin ?” Jinseo mengeluarkan satu kotak lagi dari dalam tasnya dan mulai memasukkan kedua syal di masing-masing kotak. Lalu mengikatnya dengan pita warna merah hati. “Iya, Aku ingin mengatakan perasaanku langsung ke Jaehoon Oppa. Aku tidak mau terus-terusan menjadi wanita yang pemalu. Makanya aku meminta bantuanmu mengirimkan yang satu untuk Junho Oppa. Mereka sama-sama berartinya untukku.” Jinseo memberikan salah satu kotak kepada Hyeonsoo yang masih bergeming mendengar pernyataan Jinseo barusan. “Jadi kalau aku tidak mendapatkan satu aku berharap mendapatkan yang lainnya.” canda Jinseo. “Dasar gadis licik.” gumam Hyeonsoo lirih. Jinseo yang mendengarnya hanya tertawa cekikian. “Besok kau tidak kerja kan ? Bisakah kau mengantarkannya pukul 9 ? Tempatnya akan aku beritahukan nanti kepadamu lewat sms.”
Hyeonsoo memandang kotak cokelat dengan hiasan pita merah di genggamannya. Dia melihat sepucuk surat terselip di atas kotak itu. “Oh ada suratnya juga ? Dia pasti menulisnya dengan baik. Anak itu itu pandai menulis kata-kata romantis.” ujar Hyeonsoo lirih. Tapi entah kenapa ketika melihat kotak itu timbul perasaan aneh di hati Hyeonsoo. “Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk.” gumam Hyeonsoo dalam hati. “Tapi Jinseo, aku belum bilang kan aku akan mengantarkan ini ?” Tanpa disadari Hyeonsoo, Jinseo sudah berada di ambang pintu kafe. Jinseo sudah tentu tidak bisa mendengarnya. Lalu bagaimana ini ?
Hyeonsoo menyusuri jalan sempit menuju rumahnya. Mungkin sekarang ini sekitar pukul 7 malam. Seharusnya dia selesai bekerja pukul 6 tapi karena harus mengurus suatu hal jadi dia terlambat pulang. Selama perjalanan pulang, dia tidak menemui banyak orang yang melintas. Mungkin orang-orang sedang menghabiskan waktu di taman pusat kota. Tetapi tiba-tiba matanya menangkap bayangan Jinseo dari balik kaca sebuah kafe. Jinseo bersama dengan seorang pria yang tidak terlalu dikenali oleh Hyeonsoo. Apakah orang itu Jaehoon ?
Beberapa menit kemudian pria itu berjalan keluar dari kafe dan meninggalkan Jinseo di belakang. Hyeonsoo bisa melihat kesedihan di raut wajah Jinseo saat itu. “apa ini artinya dia ... oh kasihan sekali Jinseo. Pasti sangat sedih apalagi dia benar-benar berusaha keras untuk menyatakan perasaannya..” gumam Hyeonsoo dalam hati. Hyeonsoo kembali memandangi kotak cokelat dipelukannya yang tadinya akan dikembalikan kepada Jinseo. “Mungkin kali ini aku harus membantunya. Kalau yang satu tidak dapat mungkin bisa dapat yang lain untuknya.”
15 Juni 2013
Keesokan harinya seperti perintah Junseo, pukul 9 Hyeonsoo bergegas menuju lokasi syuting musik video Junho. Dengan menggunakan bis, dia bisa sampai ke lokasi dalam lima belas menit. Seperti perkiraan sebelumnya, puluhan fans berjejal memenuhi pintu masuk lokasi. Dan tentunya dengan teriakan-teriakan histeris yang paling anti didengar Hyeonsoo. Beberapa kali Hyeonsoo menghela nafas panjang dan menghembuskannya keras berharap fans-fans itu mendengar dan berhenti membuat kericuhan.
Junho sedang syuting di dalam sebuah rumah. Mungkin konsep musik videonya kali ini tentang cinta yang romantis. Rumah yang digunakan untuk tempat lokasi syutingnya terlihat sangat cocok untuk sesuatu yang berbau romantis. Semua wanita pasti akan setuju kalau tempat itu rumah itu didesain sehingga terlihat romantis untuk pasangan.
Sudah 15 menit Hyeonsoo menunggu –bersama teriakan fans yang membuat kepalanya agak pening- tetapi Junho belum kunjung keluar dari lokasi. Hyeonsoo sudah beberapa kali berjinjit dan mengintip ke dalam, memang sepertinya syuting belum selesai.
1 jam kemudian. “hey, aku dengar syutingnya sudah selesai.  Sebentar lagi pasti Junho keluar.” Ucap salah seorang fans yang kontan membuat fans-fans lain yang mendengarnya kembali berteriak heboh. Padahal baru beberapa menit Hyeonsoo berhasil mengistirahatkan pendengarannya.
Kemudian seseorang keluar dari lokasi syuting dengan topi dan jaket tebal. Fans langsung membuat kerumunan disekitar orang itu. “Junhoo...Junhoo...Junhoo..” Semua fans langsung percaya orang itu adalah Junho walau wajah yang terlihat sangat tidak jelas karena tertutup kacamata, topi, dan jaket tebalnya.
Hyeonsoo terjepit diantara fans-fans yang berdesak-desakan ingin memberikan hadiah kepada Junho, atau sekadar melihat dan menyapanya. Orang itu menerima bingkisan-bingkisan hadiah dari beberapa fans. Hyeonsoo berkali-kali berusaha mengulurkan hadiahnya tapi justru terkena dorongan dan pukulan. Hyeonsoo belum sempat memberikan bingkisan milik Jinseo saat orang itu sudah masuk ke dalam mobil lalu segera menghilang dari pandangan.
“Hadiah milik Jinseo bagaimana ???” Hyeonsoo terkulai lemas ke lantai sambil melemparkan ekspresi wajah sebal, putus asa, kecewa, dan minta dikasihani. Beberapa fans didekat Hyeonsoo melihatnya dengan tatapan ngeri sekaligus bergidik lalu pergi menjauhinya.
10 menit Hyeonsoo belum juga bangkit dari posisinya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat sekelilingnya yang sudah sangat sepi. Lalu dia bangkit dan membetulkan letak tas punggungnya. “bagaimana ini ?” gerutunya sambil melihat bingkisan di tangannya. Tanpa sengaja tatapan matanya terhenti pada salah satu pergelangan tangannya.  “Dimana gelangku ?????” Hyeonsoo langsung menyisir setiap penjuru arah. “Pasti tadi terjatuh saat aku berdesakan dengan fans-fans gila tadi.” Di sebelah pot bunga terlihat barang yang menyita perhatiannya, barang itu berkelip-kelip. “Oh disitu rupanya.” Hyeonsoo memungut gelangnya dan melihat pengaitnya rusak sehingga dia tidak mungkin memakainya sekarang. Dia membuka sedikit bingkisan milik Jinseo dan memasukan gelangnya ke dalam. “sepertinya sudah tidak ada gunanya aku disini. Sebaiknya aku pulang.”  ucap Hyeonsoo sambil melangkah pergi, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya menangkap dua sosok pria berjalan menjauhi lokasi syuting yang sudah sepi.
Salah satu pria berhenti dan memperhatikan tingkah Hyeonsoo yang celingukan heran sambil menunjuk dirinya dan menujuk ke suatu arah.
“Junho-ssi ?” tanya Hyeonsoo dengan mata terbelalak lebar. Pria itu tidak menjawab dan hanya menatap Hyeonsoo heran. “Kau benar Junho-ssi kan ? Lalu yang tadi siapa ?” Junho akhirnya mengangguk pelan.
“Dia fansmu ?” tanya Taecyeon pada Junho lirih. “Mungkin.” Junho menjawab dengan nada berbisik.
“Waaaa, akhirnya ! Aku mencarimu dari tadi.” Hyeonsoo berjalan mendekat ke arah Junho dan Taecyeon yang masih bergeming. Kemudian Hyeonsoo mengulurkan hadiah di tangannya ke arah Junho. “Ini untukmu. Selamat berjuang untuk solo karirmu. Semoga sukses.” Setidaknya itulah yang harus dilakukan Hyeonsoo saat menyampaikan bingkisan itu. Jinseo menuliskannya secara lengkap di sms-nya tadi pagi bersama dengan alamat lokasi syuting. Hyeonsoo memaksakan senyumnya –yang sama sekali tidak manis– selama  beberapa detik. Setelah bingkisan itu berpindah tangan ke Junho, Hyeonsoo secepat kilat membalikkan tubuhnya dan menghembuskan napas kuat-kuat. “Melelahkan sekali.” gerutu Hyeonsoo lirih yang ternyata terdengar jelas di telinga Junho dan Taecyeon.
“Kau yakin dia benar-benar fansmu ?” tanya Taecyeon dengan nada curiga. “Entahlah.” Jawab Junho sambil terus memandang Hyeonsoo yang semakin menjauh.
Kling...
Bel yang dipasang di pintu masuk Kafe bergerak saat seseorang wanita – dengan tampilan chicnya – membuka pintu. “Hyeonsoo !!” Wanita itu memanggil Hyeonsoo yang sedang membersihkan konter pemesanan makanan dengan cukup keras. Sore itu sudah tidak banyak pengunjung yang datang. Kedatangan dan teriakan Jinseo cukup membuat Hyeonsoo terkejut dan hampir menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.
“Jinseo ! Kau tidak perlu berteriak seperti itu di tempat sunyi seperti ini !.” sungut Hyeonsoo sambil menaruh kembali gelas yang baru saja dibersihkan dengan lebih hati-hati. “Tempat ini sangat sepi jadi aku ingin membuatnya sedikit ramai. hahaha” Jinseo menjatuhkan dirinya di sebuah kursi dekat counter pemesanan, tasnya dia letakan di meja bulat yang ada di hadapannya. “Hey Hyeonsoo !!! Ceritakan aku tentang kejadian kemarin !”
Hyeonsoo memandang tajam ke arah Jinseo sejenak lalu duduk di kursi depan Jinseo. “Kau ingin tahu ?” Jinseo menganggukan kepalanya cepat.
Hyeonsoo menyondongkan wajahnya mendekati Jinseo. Seolah-olah dirinya akan menceritakan sesuatu yang serius. “Tidak ada yang menarik.” Kata Hyeonsoo lirih lalu menarik tubuhnya menjauh.
“Kau ini !!! Ceritakan apapun padaku...” pinta Jinseo dengan muka memelas. “Tidak ada yang menarik. Dia tidak setampan yang terlihat di televisi. Hal yang paling aku ingat, kemarin aku menyerahkannya langsung.” Jinseo membuang pandangannya sambil bersungut. “Ya iyalah kau menyerahkannya langsung ke Junho. Dia selesai syuting pasti keluar lalu menyapa fans-fansnya. Tentu juga menerima hadiah dari fans-fansnya itu. Kau ini bagaimana ? Hal seperti itu saja tidak menarik.”
“Bukan yang seperti itu maksudku. Aku menyerahkannya hanya berdua saja... eh bukan, bertiga. Satunya lagi kalau tidak salah anggota 2pm yang lain, Taecyeon. Tidak ada fans yang lain.”
“Yang benar ??? bagaimana bisa ?” Hyeonsoo memutar bola matanya lalu mendengus. “Itu karena...” Belum sempat Hyeonsoo menceritakan kejadian kemarin secara detail, Jinseo tiba-tiba memutus kalimatnya. “Hyeonsoo !!!! Dimana gelangmu ? kenapa kau tidak memakainya ? Aku tidak pernah melihat kau melepaskannya. Gelang pemberian Ibumu.... kenapa tidak ada?” Mata Hyeonsoo langsung mengarah pergelangan tangan kanannya yang terlihat ‘kosong’. “Oh, benar ! Dimana gelangku ??” Hyeonsoo teringat kejadian kemarin saat dia menjatuhkan gelangnya saat berdesak-desakan dengan puluhan fans. Tapi dia sempat menemukannya dan .... Oh tidak.. Gelang itu berada di dalam kotak itu. Dan kotak itu ada pada Junho.