Bel panjang sudah berdering sedari
tadi. Itu tandanya Viena harus segera menembus kerumunan siswa lain yang berdesakkan
untuk sampai ke gerbang sekolah. Jangan sampai ia bertemu dengan orang itu.
“Vi, kamu pulang sendirian? Ngga bareng
sama..” Viena cepat-cepat memutus ucapan teman sebangkunya itu sebelum menyebut
nama orang yang sedang ia hindari sejak kemarin. “Aku buru-buru, Yes. Aku
duluan ya.” Viena menuntun sepedanya keluar dari parkiran sempit di ujung
gerbang sekolah. Rasanya tidak tega meninggalkan Yesa – siswi terpintar di
sekolah berkacamata tebal yang juga teman sebangkunya- sendirian. Tetapi ia
harus menghindari Yesa menanyakan macam-macam tentang orang itu. Yesa pasti
sudah bisa menebak kenapa hari ini ia uring-uringan sepanjang pelajaran di
kelas.
Hari ini hanya ada satu orang yang ia hindari,
tidak seperti biasa. Orang yang sejak kemarin membuatnya kesal setengah mati
karena membuatnya mati kutu di acara perpisahan. Padahal Viena tidak punya
niatan hadir kalau bukan karena bujukan orang itu.
Semakin ia memikirkan orang itu tekukan
di wajahnya semakin tebal. Orang itu benar-benar harus diberi pelajaran.
Viena masih sibuk dengan pikirannya
saat tiba-tiba roda sepedanya menabrak sesuatu. “Hei ! Bisa minggir ? Ini jalanan umum kenapa berhenti
sembarangan.” Omel Viena pada sepeda di depannya.
“Masih marah?”
Viena mengangkat wajahnya dan mendapati
orang itu ada di depannya. Betul, orang yang ia hindari sepanjang hari ini.
Bagaimana ini ? Ia harus pergi sekarang ? Atau bersikap biasa saja? Mana yang
bisa membuat orang itu berlutut minta maaf kepadanya?
Viena membelokkan sepedanya dan
berjalan terus tanpa mempedulikan orang itu. Mungkin ini pilihan yang tepat.
Lagian ia benar-benar tidak punya niat berbicara dengannya hari ini.
Baru beberapa langkah Viena merasakan sesuatu
menahanya. Ia kemudian menoleh dan mendapati tangan orang itu mencengkram
lengannya erat. Mungkin tidak ada salahnya mendengarkan alasannya mengapa tidak
datang ke acara perpisahan sehingga membuatnya mati kutu seorang diri.
Orang itu menatapnya lurus-lurus
beberapa saat tanpa berkata apapun. Apa
maunya sebenarnya?
Viena berusaha tampak biasa saja walau
tanpa sadar telah menahan nafas sepersekian detik. Viena memang sudah mengenal
orang itu sejak masuk SMA, tetapi itu tidak membuatnya kebal pada tatapan
matanya. Mata yang hitam dan bulat dengan bulu matanya yang sangat indah, ia
berani bertaruh tidak ada satupun wanita yang tahan jika ditatap dengan
sepasang mata itu.
Sejak masuk SMA, Aliando adalah orang
pertama yang dikenalnya. Bahkan mereka berteman sangat baik sampai sekarang.
Entah kenapa sejak awal ia selalu
memanggilnya Al, padahal orang lain memanggilnya Ali. Mungkin, karena lebih
mudah diucapkan dan diingat, tentu saja.
Al pindah ke rumahnya saat ini tepat
saat ia masuk SMA. Ia menempati rumah yang jaraknya tidak jauh dari rumah Viena.
Jadi, bisa dibilang mereka sering berangkat dan pulang bersama. Saking
seringnya mereka bersama, teman-teman sekelas selalu menganggap mereka sebagai
pasangan. Bahkan beberapa temannya menggoda mereka dengan mengatakan mereka mungkin
berjodoh karena wajah mereka terlihat mirip. Sudah pasti teman-temannya terlalu
sering melihat mereka bersama jadi mereka seolah-olah terlihat mirip. Sejauh
ini hanya alasan itu yang cocok.
Mereka sudah biasa dengan sangkaan
teman-teman tentang hubungan mereka. Sejujurnya Viena sendiri tidak yakin akan
perasaannya sendiri. Al memang teman yang paling baik dan mengerti dirinya. Al
selalu membuatnya nyaman saat berada di sisinya. Padahal Viena bukan tipe
wanita yang mudah dekat dengan pria. Tetapi Al berbeda, ia sadar betul tentang
itu. Selebihnya ia tidak terlalu yakin karena terkadang Al bisa menjadi orang
yang sangat susah ditebak.
“Masih marah?” ulang Al.
Viena memicingkan matanya lalu mulai
berkata mantap. “Iya, kau jelas-jelas tidak datang. Bagaimana aku tidak marah.”
Ia seketika menghentikan ucapannya lalu menelan ludah berharap ucapannya tadi
ikut tertelan. Oh Tuhan, sepertinya ia sudah mengatakan sesuatu yang salah. Kini
ia harus menghadapi tatapan Al yang semakin tajam. Seharusnya, ia maafkan saja
tadi. Daripada harus ditatap seperti ini lebih lama.
Al akhirnya melepaskan genggaman
tangannya lalu mundur beberapa langkah.
Syukurlah... Sungguh, apakah ia harus berterimakasih
untuk itu ? Tidak boleh ! Ia seharusnya masih marah.
“Kemarin ayahku datang dan memintaku
bertemu dengannya. Kau tahu kan sudah satu tahun kami tidak bertemu.” Al
bersandar pada sepedanya lalu melanjutkan “Ia ingin memberiku selamat atas kelulusanku.
Karena ia hanya beberapa hari di Indonesia dan akan langsung pergi lagi.” Al mendesah
lemah. Wajahnya menampakkan kekecewaan yang dalam.
Viena memandanginya dengan perasaan
serba salah. Kenapa Al tidak memberitahunya sejak kemarin ? Kalau ia
memberitahunya pasti ia tidak salah paham seperti ini. Viena menepuk dahinya
pelan sambil mengutuk dirinya sendiri. Ia tidak bisa memafkannya begitu saja.
Kalau itu terjadi Al pasti menertawakannya setelah ini.
“Oh iya, aku membawa sesuatu yang
seharusnya kuberikan padamu kemarin.” Al merogoh saku celana kanannya dan mengangkat
sebuah benda tepat di depan mata Viena.
Viena mengerjapkan matanya tidak
percaya. Benda bulat itu benar-benar cincin kan ? Kenapa juga tiba-tiba Al
memberinya benda seperti itu ?
“Menikahlah denganku..”
Bumi di sekeliling Viena terasa
langsung runtuh. Ia salah dengar atau Al sedang mempermainkannya ?
“Ya Tuhan Al.. Kumohon jangan bercanda
sekarang. Aku sedang tidak ingin bercanda ! Kalau kau ingin melamar setidaknya
kau harus memberikan cincin sungguhan.” kata-kata itu meluncur begitu saja dari
mulut Viena. Ia yakin sekali Al sedang ingin menggodanya, supaya ia luluh lalu
memaafkannya. Trik basi. Tapi kenapa jantungnya berdegup sangat kencang?
“Bagaimana kau tahu aku bercanda ?”
Viena memandang sebal ke arah Al lalu
mendengus pelan. Sebenarnya ia bercanda atau serius ? Ia bilang bercanda tapi
wajahnya tidak terlihat bercanda. Ia ingin bermain-main sekarang ? Sungguh, ia
memang harus diberi pelajaran.
“Itu memang niat awalku. Tapi sekarang
aku mau serius.” Al kembali merogoh saku celana tetapi kali ini yang sebelah
kiri. Ia mengadahkan sebuah benda bulat sama seperti sebelumnya. Tetapi yang
satu ini terlihat berkilau.
“Waah, cantiknya. Darimana kau punya
uang untuk membeli benda seperti itu ?” Kekaguman yang terdengar dari suara
Viena berubah menjadi kecurigaan. Viena tidak mau Al melakukan hal bodoh hanya
untuk membeli cincin itu. Viena kembali memandang lekat benda itu. Benda itu
benar-benar berkilau terpapar sinar matahari senja. Sangat indah.
“Tenang saja, ini bukan cincin mewah
yang harganya jutaan. Tapi setidaknya ini asli kan ?” Al tersenyum lebar.
“Seharusnya ini menjadi hadiah ulang tahunmu.”
Mata Viena membesar. Hadiah ulang tahun
katanya ? Kukira ia sudah lupa karena ia tidak datang kemarin. Tapi kalau
dipikir-pikir tidak mungkin ia lupa. Viena dan Al lahir pada tanggal dan tahun
yang sama, jadi kemungkinan Al melupakan ulang tahunnya kecil. Viena mengira
ini sebuah keajaiban ketika pertama kali mengetahui Al dan dirinya
memiliki tanggal lahir yang sama.
“Kau ingin mendapatkan hadiah ulang tahun cincin
kan ?”
Viena berdeham mengiyakan. “Tapi tidak
perlu mengatakan hal seperti itu juga, tahu !”
“Aku serius.” Al tidak bisa menahan
tawanya melihat perubahan pada wajah Viena yang berdiri membeku di depannya.
“Al!
Kau benar-benar keterlaluan.” Viena menuntun sepedanya cepat. Sekilas ia bisa
melihat ekspresi wajah Al yang masih mengejeknya. Keterlaluan! Tidak seperti
rencana sebelumnya. Harusnya bukan ia yang dipermainkan seperti ini. Emosi
Viena benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Mungkin sekarang sudah ada dua
sungut di atas kepalanya.
“Vi, kau yakin tidak mau menerima hadiah
ini?” teriak Al disela tawanya.
Benar juga, sebaiknya jangan
menyia-nyiakan hadiah ulang tahun itu. Viena berbalik lalu dengan cepat
menyambar benda bulat dari tangan Al.
“Menikahlah denganku.” Pinta Al setelah
berhasil mencegah Viena kembali kabur. Kali ini ia benar-benar berusaha menahan
tawanya. Wanita itu sepertinya sedang tidak bisa diajak bercanda.
“Oke.” Viena memasang cincin itu ke
jari manis kirinya. Lalu melanjutkan sambil mengejek “Akan kunikahkan kau
dengan kambing milik penjaga sekolah.”
“Bisa aku meminta hadiahku?” Kini di
tangan Al ada secarik kertas yang dilipat rapi. “Kau ingat kan tahun kemarin
aku bilang aku ingin memilih sendiri hadiahku?”
Viena mengangguk ringan. Ia memang
mengingatnya makanya khusus tahun ini ia tidak perlu repot-repot memilih hadiah
untuk Al.
“Jam 7 di taman dekat rumahmu. Dan
jawab ini.” Al menyodorkan kertas yang terlipat rapi.
“Hanya ini ? Syukurlah aku tidak perlu
membeli sesuatu yang mahal atau membuat sesuatu yang rumit. Apa ini? Atau
jangan-jangan ini perjanjian agar aku jadi pembantumu selamanya ?” Viena
mendengus sebal sambil membolak-balik kertas yang dipegangnya.
Al menarik ujung hidung Viena gemas.
“Tidak usah banyak komentar. Datang saja dan jawab. Selesai.”
***
“Sebenarnya
apa isinya?” gumam Viena saat melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sekilas ia
melihat Mamanya duduk di ruang tamu. Mamanya tidak sendirian ada seorang pria
juga di sana. Mungkin hanya kenalan Mama. Viena menundukkan kepalanya sejenak
lalu melenggang pergi tanpa peduli siapa orang itu.
“Vi. Kau tidak merindukanku?”
Viena mendengar jelas namanya disebut. Pria
itu tadi mengatakan sesuatu padanya, kan ? Apa sebelumnya mereka pernah
bertemu? Viena jarang sekali menemui kenalan Mamanya. Tetapi sepertinya ia
tidak asing dengan suara pria itu. Suaranya mirip...
“Papa!” Viena langsung menghambur ke
pria yang ternyata Papanya. Papa yang sudah 3 tahun tidak pernah ditemuinya.
Mama dan Papa sudah berpisah sejak dirinya masih bayi. Papa kembali ke Spanyol karena memang Papa adalah orang Spanyol.
Dulu Papa bekerja di Indonesia beberapa tahun lalu bertemu dengan Mama dan
akhirnya mereka menikah. Jadi tidak aneh kalau bahasa Indonesia Papa sangat
lancar. Entah kenapa mereka berpisah. Padahal mereka masih terlihat saling
menyayangi. Mama atau Papa pun sampai sekarang belum ada yang menikah lagi.
Memang banyak hal yang belum mereka ceritakan padanya. Namun Ia tidak pernah
memaksa mereka untuk menceritakan hal-hal yang belum harus ia ketahui.
“Papa
sejak kapan di sini? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya ?”
Papa tersenyum sambil menatap wajah
Viena. Lipatan di bawah matanya tampak lebih jelas dari sebelumnya. Rambutnya
pun kini di dominasi warna putih. Selama itukah ia tidak bertemu sampai banyak
sekali perubahan pada wajah Papa nya itu?
“Papa baru saja sampai kok. ” Papa
menyentuh lembut kepala Viena. Akhirnya Viena dapat merasakan sentuhan yang
selama ini dirindukannya. “Kau sudah besar sekali ya.. Oh ya selamat atas
kelulusanmu. Papa punya hadiah untukmu.” Papa menyodorkan sebuah bingkisan
kecil berwarna merah.
Viena membuka bingkisan itu dan
mendapati sebuah gelang perak asli dari Spanyol. Di bagian dalam gelang terukir
kata-kata dalam bahasa Spanyol yang tidak ia mengerti. Bahasa Spanyolnya memang
sangat payah walau Papanya orang Spanyol. “Waah, gelangnya cantik Pa.
Terimakasih ya Pa.” Viena merangkul Papanya kuat.
“Ngomong-ngomong Papa kapan pulang ke
Spanyol ?” kata Viena sambil melingkarkan gelang pemberian Papa ke pergelangan
tangannya.
“Nanti malam.”
Seketika rasa kecewa menyeruak kuat.
Kenapa secepat itu Papa pergi? Harusnya mereka dapat berjalan-jalan sebentar
merayakan kelulusannya.
“Kalau begitu Papa seharusnya tidak
usah datang.” gerutu Viena
“Justru itu Papa kesini.” Papa
membenarkan letak dasinya lalu melanjutkan “Papa ingin mengajak kamu ke Spanyol.”
Perkataan Papanya membuat otaknya tidak
berfungsi baik yang membuatnya harus mencermati kata-kata itu dengan susah
payah. “ke--- Spa--nyol?”
“Iya. Tadi Papa sudah menceritakannya
pada Mamamu dan ia setuju. Tentu asal kau mau. Bagaimana, Vi?”
Viena melempar pandang ke arah Mama nya
yang mengangguk mengiyakan ucapan Papa.
“Nanti malam ? Jam berapa ?”
“Jam 6 kita harus sudah berangkat. Aku
sudah mengurus visa dan paspor kamu dari jauh-jauh hari. Jadi kamu jangan
khawatir, kamu sudah tinggal siap berangkat.”
Viena menimbang-nimbang penawaran
Papanya. Ke Spanyol adalah mimpinya sejak dulu. Tapi kenapa harus berangkat
malam ini ? Malam ini ia harus menemui Al. Lalu bagaimana ini?
“Pa, kalau Vien berangkatnya sendiri
bagaimana ? Bukan malam ini ?” Viena melanjutkan ucapannya setelah melihat dahi
Papanya berkerut. “Malam ini aku sudah janji menemui seseorang. Aku tidak bisa
membatalkannya. Tapi aku ingin sekali ikut dengan Papa.”
Tangan Papa mengusap-usap dagunya yang
sudah tercukur rapi. Papanya menimbang hati-hati permintaan Viena lalu akhirnya
memutuskan “Boleh. Tapi kau yakin tidak apa-apa kalau sendirian ? Kau kan belum
pernah pergi ke luar negeri.”
“Aku yakin tidak akan ada masalah
besar.”
“Oh, baiklah baiklah. Kau bisa beritahu
kapan kau akan berangkat. Biar Papa yang urus tiketnya.”
***
Al menjatuhkan dirinya kasar ke atas
tempat tidur. Ia teringat kejadian tadi sore. Ia sudah membuat Viena sendirian
di acara perpisahan kemarin. Padahal Ia tahu Viena tidak terlalu suka
menghadiri acara seperti itu. Viena terlihat kesal hari ini tapi kenapa ia
malah mengatakan hal seperti itu ?
“Menikahlah
denganku.”
Sungguh, kata-kata itu keluar begitu
saja. Sama sekali tidak direncanakan. Ia hampir saja membuat wanita itu
menjauhinya.
“Ya
Tuhan...” desah Al pasrah sambil mengusap wajahnya.
Untung saja tadi Viena hanya
menganggapnya sedang bercanda walau terlihat jelas wanita itu agak terkejut
saat mendengarnya. Itu lebih mudah baginya daripada Viena merasa risih lalu
malah menjauhinya.
Harapan satu-satunya adalah kertas yang
diberikan kepada Viena tadi. Ia harus sangat hati-hati saat menyatakan
perasaannya. Viena mudah terusik dengan hal-hal yang terlalu frontal – seperti
yang dilakukannya tadi sore – . Ia hanya menuliskan “Aku menyukai hujan”. Entah
Viena bakal mengerti isyarat itu atau tidak. Yang terpenting baginya rasa yang
sudah lama ia pendam akhirnya tercurah juga. Hanya itu.
Ia melihat Viena sebagai wanita yang
baik dan pengertian. Ia bebas menceritakan apapun padanya. Ia juga sangat
mempercayainya. Setiap hari ia selalu merindukan wajahnya. Wajahnya yang
terlihat lugu dan tulus selalu mengingatkannya pada seseorang, tapi ia sendiri
tidak ingat siapa orang itu.
“Al? Ada apa denganmu ? Sedang jatuh
cinta ya ?” Papanya melihatnya melalui pintu kamar yang terbuka sambil
tersenyum. Tapi baginya Papanya terlihat sedang menggodanya.
“Papa... mana mungkin. Hanya saja ada
sesuatu yang mengganggu pikiranku sekarang.”
“Pasti seorang wanita. Siapa?” Kali ini
Papanya berjalan mendekatinya dan duduk tepat di sampingnya.
“You
got me, Pa.” gumamnya sangat lirih agar Papanya tidak mendengar. “Papa..
sudah kubilang bukan itu.” elaknya sekali lagi.
“Ya, terserah saja kalau kau tidak mau
menceritakan wanita itu.” Papanya beranjak lalu melanjutkan “Cepat siap-siap.”
Al mengerutkan keningnya dalam.
“Siap-siap kemana ?”
“Pulang tentu saja. Bukannya kau bilang
mau ikut Papa pulang.”
“Se—ka—rang?”
“Iya kau harus bergegas kalau tidak
ingin ketinggalan pesawat.”
Oh, no. Ia harus menemui Viena sebentar lagi. Tapi Ia
tidak mungkin membantah Papanya. Lalu bagaimana ini?
Ia segera beranjak lalu merogoh kantung
celananya mencari ponselnya. Ia harus menghubungi Viena sebelum wanita itu
mengamuk karena Ia tidak bisa datang. Dimana ponselnya? Kenapa kantungnya
terasa kosong? Ia menarik selimutnya
kasar lalu membuang seluruh bantal ke lantai tapi Ia tetap tidak menemukan
benda itu. Dimana Ia menaruhnya tadi?
Ia menyerbu masuk ke dalam kamar mandi
lalu akhirnya melihat benda itu tergeletak sembarangan di pinggiran bak.
Syukurlah. Sebelum Ia dapat meraih benda itu kakinya tersandung sesuatu yang
membuatnya kehilangan keseimbangan lalu..
Plung
Oh, tidak ! Ponselnya meluncur bebas ke
dalam bak penuh air ! Ini tidak baik. Sangat tidak baik. Ia segera
menyelamatkan ponselnya dan mencoba menghidupkan benda yang basah kuyup itu.
Layar benda itu tetap hitam. Tidak ada
tanda-tanda akan muncul warna lain.
Al memegangi kepalanya yang terasa akan
pecah. Kesialan apa yang sedang menimpanya sekarang?
***
Viena sampai di taman dekat rumahnya
tepat jam 7. Ia memilih untuk menunggu di bangku taman dekat lampu-lampu. Tidak
terlalu banyak orang malam ini. Mungkin karena udara dingin di luar sehingga
orang malas jalan-jalan ke taman. Pandangan matanya tersita pada kertas yang
digenggamnya. Ia membuka kertas itu dan membaca isinya sekali lagi.
Aku
menyukai hujan.
“Huh.. Kau sedang memberiku semacam
sandi atau apa ? Aku sama sekali tidak mengerti. Bagaimana caranya aku menjawab
ini? Ini tidak terlihat seperti pertanyaan.” Vienna melipat lagi kertas itu lalu
menggenggamnya lebih erat.
Sebenarnya apa yang ingin Al katakan
kepadanya? Kenapa dia tidak datang juga?
Viena melirik jam tangannya lalu
mendesah pelan. Sudah 15 menit Ia menunggu. Viena menggosok-gosokkan tangannya
mencoba mengusir angin dingin yang mengusiknya sejak tadi. Setetes air terjatuh
dan mengenai ujung jarinya. Oh hujan ?
Viena berlari dan berteduh di depan
sebuah kafe di ujung taman. Ia melihat butiran-butiran air hujan yang jatuh
semakin banyak.
Kumohon
Al cepatlah datang...
“Viena ?” Seorang wanita umur 30
tahunan bergerak mendekati Viena. Wanita itu tetangganya. Rumah mereka terpaut
tidak jauh.
“Ersa? Kenapa kau bisa ada di sini?” Viena mengamati
Ersa mengenakan pakaian yang terlihat seperti seragam. “Kau bekerja di kafe ini
?”
Ersa mengangguk. “Iya. Kau sendiri ?
Kau kehujanan ? Bawa payung?”
“Sebenarnya sedang menunggu teman di
taman tapi sepertinya... tidak akan datang. Aku lalu meneduh kemari. Aku..
tidak bawa payung.”
“Ya ampun kau kedinginan. Mau aku
buatkan kopi hangat untukmu ?”
“Tidak perlu Ersa. Bisakah kau
pinjamkan payung saja untukku ? Aku rasa aku harus segera pulang.”
Ersa mengangguk lalu masuk ke dalam
kafe. Beberapa saat kemudian Ersa kembali dengan membawa sebuah payung warna
hijau. “Ini kau bisa pinjam milikku.”
“Terimakasih banyak Ersa. Aku akan
langsung mengembalikannya besok. Tapi, bagaimana denganmu?”
“Tidak usah khawatirkan aku. Sungguh.”
“Terimakasih banyak. Aku pergi dulu.”
***
Viena menghentikan langkahnya saat
pandangannya dapat menjangkau sebuah bangunan besar bercat putih. Sebelumnya ia
berniat langsung pulang tapi tiba-tiba saja Ia berbelok dan mengarah ke tempat
ini. Ia harus memastikan sendiri.
Viena mengepalkan tangannya geram.
“Awas kau Al. Kalau kau ternyata masih di rumah dan sedang tidur lalu kau mengatakan
kau lupa dengan janji yang kau buat sendiri, aku akan menghabisimu.”
Seseorang membuka pintu setelah
beberapa kali Ia mengetuk pintu. Ternyata Bibi gemuk yang bekerja di rumah Al.
Bibi itu tersenyum ramah kepada Viena. Ini bukan pertama kalinya Ia bertemu
dengannya bahkan Bibi itu sudah mengenalnya.
Bibi itu tersenyum ramah. “Eh, non
Viena.”
“Bi, Al ada di rumah?”
Senyum Bibi Inah tiba-tiba saja luntur.
Pandangan matanya terlihat resah. “Non Viena belum tahu?” Viena mengerutkan
alis lalu Bibi melanjutkan ucapannya. “Anu.. den Al pergi ke... Spanyol. Ikut
Papanya.”
Viena mengeja sebuah kata dengan
tergagap. “Spa – nyol ?”
“Non tau kan Papanya den Al kerja di
Spanyol? Beliau ke Indonesia sejak 2 hari yang lalu. ”
Viena menggeleng pasrah. “Aku tidak
tahu Bi. Al selama ini hanya cerita Papanya kerja di tempat yang jauh. Aku
tidak tahu kalau Papanya kerja di Spanyol.”
“Berarti non juga belum tahu kalau den
Al dari bayi tinggal di Spanyol ? Baru pas masuk SMA dia pindah ke Indonesia.”
Lagi-lagi Viena menggeleng. Kali ini
sangat lemah karena tenaganya sudah seperti sudah terkuras habis. Ia merasakan
jantungnya dihantam dengan sesuatu yang besar. Udara yang tadi lancar keluar
masuk lewat tenggorokannya tiba-tiba tersendat. Kini ia sulit bernafas, kakinya
lemas. Tapi ia tidak boleh pingsan di sini. Setidaknya ia harus sampai rumahnya
dengan selamat tanpa merepotkan orang lain.
“Non Viena ngga papa tho?” tanya Bibi
cemas melihat wajah Viena yang tampak memutih.
“Ngga papa Bi. Ya sudah saya pulang
dulu. Permisi.”
Viena menggunakan seluruh tenaganya
yang tersisa untuk menyeret langkahnya. Tenaganya pasti masih cukup untuk
berjalan sampai ke rumah atau malah sampai ke kamarnya.
Yang mengganggu pikirannya sekarang
adalah kenapa Al tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya ? Kenapa juga
orang itu pergi tanpa pemberitahuan sama sekali? Kenapa Ia merasa se-kecewa ini
hanya gara-gara itu ?
Matanya terasa perih dan seketika itu
juga air mata mengalir deras melewati pipinya.
***
Viena membuka matanya perlahan. Pagi
ini matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Sudah pasti ini akibat menangis
semalaman. Kini matanya tampak dua kali lebih besar dari biasanya. Ia menatap
langit-langit kamarnya lalu mendengus pelan. Langit-langit kamarnya memiliki
beberapa retakan, mirip habis diguncang gempa. Sama persis dengan hatinya
sekarang.
Ia bangkit dari posisi tidurnya lalu
duduk di tepian kasur. Matanya terhenti pada benda yang tak berbentuk di atas
meja. Benda itu seperti habis terkoyak-koyak binatang buas. Tentu binatang buas
tidak pernah punya niatan untuk mengoyak kertas kecil seperti itu. Jadi bukan
ulah binatang buas tetapi ulah tangannya sendiri. Jika ia ingat-ingat kejadian
tadi malam, ia bergidik ngeri. Kemarin... dirinya benar-benar sangat
menakutkan. Matanya memperhatikan gumpalan-gumpalan tisu di bawah tempat
tidurnya yang dibuang sembarangan. Apa tadi malam ia menangis semenakutkan itu?
Rasanya ia tidak pernah menangis seperti tadi malam. Viena menelan ludahnya
yang seketika terasa pahit. “Sungguh memalukan.” gumamnya pelan.
Perhatiannya beralih ketika ia
mendengar suara ponselnya. Ia merogoh bawah bantalnya lalu segera menjawabnya
setelah melihat tulisan Papa di layar.
“Halo, Pa? Kenapa telpon pagi-pagi
begini.”
“Viena.. Bisakah kau menyusul Papa
besok? Papa sudah tidak sabar.. Lagian Papa ingin mengatakan sesuatu yang
penting padamu.”
“Besok?” Viena mengetuk jarinya ke atas
meja sambil menimbang-nimbang tawaran Papanya. Bukankah ini kesempatan yang
bagus ? Ia butuh sedikit refreshing.
Ia bisa jalan-jalan bersama Papanya di Spanyol. Tunggu.. Apa? Spanyol? Bukankah
Al juga pergi ke Spanyol ? Kebetulan sekali ! Siapa tahu ia bisa mencarinya di
sana. Bagaimanapun juga ia sudah berjanji memberikan hadiah ulang tahunnya
walau ia tidak tahu apa yang harus dijawab atau bagaimana harus menjawabnya.
“OKE !” katanya mantap dan terdengar sedikit berteriak.
“Tidak usah berlebihan seperti itu
Vien. Telinga Papa sakit.”

